Indonesia Negara Super Power Energi Terbarukan di Masa Depan

0
217
Aliran Sungai Aek Raisan di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara digunakan sebagai sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH). FOTO: VIBIZMEDIA.COM/FADJAR

(Vibizmedia-Kolom) Indonesia saat ini sedang melakukan transformasi dari energi fosil menuju kepada energi terbarukan. Dengan potensi yang sangat besar, Indonesia mampu menghasilkan 7 kali lipat lebih banyak dari total energi yang dihasilkan saat ini. Posisi ini akan memampukan Indonesia untuk menjadi negara super power energi terbarukan ini. Target Indonesia yang tinggi untuk tahun 2025 adalah mimpi untuk membawa transisi energi terbarukan. Strategi ini akan menguntungkan Indonesia dan juga dunia. Biaya untuk menghasilkan energi terbarukan sekarang ini semakin turun, dan penemuan teknologi terbarukan oleh anak bangsa juga sudah semakin banyak. Hal ini akan membuat daya saing Indonesia semakin meningkat, sebab harga energi lebih murah dan menarik pengusaha untuk berinvestasi. Malahan ke depannya energi terbarukan mampu memilki harga lebih rendah dari PLTU. Salah satu contoh energi terbarukan adalah sungai misalnya. Potensi energi air sungai yang dapat dimanfaatkan Indonesia sangatlah besar totalnya sungai Indonesia mampu menghasilkan energi listrik hingga 94.476 MW. Jumlah itu bisa dibandingkan kalau untuk rumah saja, 94.476 MW itu sama dengan 94.476.000.000 watt. Kalau satu rumah misalnya 900 VA, atau 1.000 VA berarti 94.476.000 rumah, kira-kira atau 95 juta rumah. Dari total 94.476 MW potensi energi air di Indonesia, baru sebesar 6.256 MW (data pusdatin ESDM) yang telah dimanfaatkan dan sebesar 88.200 MW belum termanfaatkan.

Mungkin tidak terpikir oleh kita, bahwa setiap lampu yang menyala di rumah atau di tempat kerja kita berdampak pada perubahan iklim di dunia. Perubahan iklim seperti curah hujan tinggi, suhu yang meningkat, bisa menyebabkan gagal panen, kerusakan terumbu karang, banjir, dan bencana alam lainnya. Listrik yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan dunia usaha masih belum seluruhnya menggunakan energi terbarukan atau renewable energy. Indonesia baru memproduksi 7,9 GW pada Juni 2020. Dalam 5 tahun kedepan Indonesia menargetkan total energi terbarukan yang dihasilkan sebesar 19,9 GW atau 23% dari bauran energi. Indonesia masih membutuhkan 12 GW lagi untuk mencapainya.

Transisi energi terbarukan menjadi mimpi dunia untuk segera dilakukan sebagai usaha mengatasi krisis yang terjadi di bumi. Transisi ini tidak bisa dilakukan hanya satu negara, namun dilakukan bersama-sama. Di bawah Perjanjian Paris, dunia membutuhkan transisi ini 4-6 kali lebih cepat saat ini. Secara global Carbon Tracker melakukan kalkulasi satu hari dunia harus menutup satu PLTU hingga 2040 untuk menghentikan penggunaan energi yang berbasis pada batubara ini.

Potensi Energi Terbarukan Indonesia

Sumber: Ditjen EBTKE, 2018 

Total potensi Indonesia untuk energi terbarukan ekuivalen 442 GW digunakan untuk pembangkit listrik, sedangkan BBN dan Biogas sebesar 200 ribu Bph digunakan untuk keperluan bahan bakar pada sektor transportasi, rumah tangga, komersial dan industri. Pemanfaatan EBT untuk pembangkit listrik tahun 2018 sebesar 8,8 GW atau 14% dari total kapasitas pembangkit listrik (fosil dan non fosil) yaitu sebesar 64,5 GW.

Minimnya pemanfaatan EBT untuk ketenagalistrikan disebabkan masih relatif tingginya harga produksi pembangkit berbasis EBT, sehingga sulit bersaing dengan pembangkit fosil terutama batubara. Selain itu, kurangnya dukungan industri dalam negeri terkait komponen pembangkit energi terbarukan serta masih sulitnya mendapatkan pendanaan berbunga rendah, juga menjadi penyebab terhambatnya pengembangan energi terbarukan.

Sekarang ini di seluruh dunia terjadi pergeseran pasar dan peraturan energi karena negara-negara ingin mengambil keuntungan murahnya energi terbarukan dan tidak merusak lingkungan dibandingkan energi fosil. Tantangan yang dihadapi Indonesia adalah tidak mudahnya mendapatkan pendanaan, kebanyakan perbankan Indonesia belum berpengalaman dalam hal ini dan cenderung konservatif. Dukungan teknis untuk melakukannya masih sangat diperlukan, cost of capital juga terbilang masih tinggi. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, memberikan hambatan dalam pengerjaan energi terbarukan.

Kebutuhan Investasi Indonesia Untuk Energi Baru Terbarukan

Sumber: RUPTL 2020, IRENA 2018

Indonesia menyadari bahwa yang diperlukan untuk melakukan transisi energi terbarukan ini adalah investasi. Investasi yang tidak sedikit, hingga miliaran dollar Amerika. Itulah sebabnya diperlukan reformasi mendasar untuk regulasi penanaman modal dan energi terbarukan di Indonesia untuk memberikan kepastian bagi investor dan pelaku usaha untuk menjamin sektor energi terbarukan akan terus dikembangkan.

EASE OF DOING BUSINESS 2020

Sumber: World Bank

Kalau melihat dari indikator bagaimana kenyamanan berbisnis di Indonesia, maka terlihat Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangganya. Transisi energi terbarukan memerlukan juga peningkatan daya saing Indonesia. Dengan teknik Omnibus Law, sekitar 80 Undang-Undang dan lebih dari 1.200 pasal bisa direvisi sekaligus hanya dengan satu UU Cipta Kerja yang mengatur multisektor. UU cipta kerja memiliki 11 klaster yaitu: penyederhanaan perizinan, persyaratan investasi, ketenagakerjaan, pengadaan lahan, kemudahan berusaha, dukungan riset dan inovasi, administrasi pemerintahan, pengenaan sanksi, – kemudahan, pemberdayaan, dan perlindungan umkm- investasi dan proyek pemerintah, kawasan ekonomi.

UU Cipta Kerja bermanfaat untuk memperbaiki iklim investasi dan mewujudkan kepastian hukum. Menaikkan kemudahan berusaha dari peringkat 73 tahun 2020 ke posisi 53 dunia. Menghilangkan kebijakan horizontal & vertikal saling berbenturan. Menghilangkan fenomena hyper regulation (regulasi berlebihan), kebijakan yang tidak efisien, UU yang bersifat sektoral, sering tidak sinkron & tidak ada kepastian hukum, indeks regulasi Indonesia masih rendah. Banyak pasal dalam UU Cipta Kerja yang mendukung peningkatan daya saing Indonesia dalam energi terbarukan. Perubahan UU 30 Tahun 2009 pada UU Cipta Kerja diatur pada Kluster Peningkatan Ekosistem Investasi pada sektor ESDM. Perubahan UU 30 tahun 2009 pada UU Cipta Kerja diatur pada Pasal 42, Halaman 201 – 220 dan Penjelasan Perubahan Pada Halaman 685 – 691. UU 30 Tahun 2009 Tetap Berlaku kecuali yang mengalami perubahan. Sebagai tindak lanjut berlakunya UU Cipta Kerja, diamanatkan penyusunan 1 PP tentang pelaksanaan UU Cipta Kerja pada Sektor ESDM. PP tersebut wajib ditetapkan paling lama 3 bulan sejak diundangkan.

Indonesia juga memerlukan kerjasama dengan negara-negara maju baik dalam hal teknologi maupun permodalan. Berbagai negara sudah melakukan kerjasama bilateral dengan Indonesia dalam hal ini. Jepang, Inggris, Belanda dan lainnya telah memiliki komitment untuk melakukan terobosan bagi segala tantangan yang dihadapi. Komitment ini mereka lakukan karena menyadari bahwa transisi energi terbarukan memberikan pertolongan bagi umat manusia dan kondisi planet bumi yang memerlukan perubahan cara hidup manusia khususnya dalam energi dengan menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Vibiz Research sudah melakukan penelitian di lapangan akan minta investor di energi terbarukan sangatlah besar. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk sebuah kesiapan bagi investor adalah kesiapan teknikal yang memang memadai. Berulang kali kegagalan investasi adalah secara teknikal memiliki keadaan lapangan yang beresiko. Dilain pihak tawaran skema investasi sederhana dan menguntungkan keduabelah pihak adalah permintaan umumnya para investor. Kemampuan para advisor keuangan diperlukan untuk mendatangkan investor dalam menggapai investasi bagi Indonesia menjadi negara super power energi terbarukan di masa mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here