Belajar dari Pengelolaan EBT di Australia

0
68
Ilustrasi energi terbarukan. FOTO: ESDM

(Vibizmedia-Nasional) Australia Selatan mengalami rekor harga energi di siang hari yang rendah dalam tiga bulan pertama tahun ini, didorong oleh penyerapan tajam sumber daya energi terbarukan, termasuk tenaga surya di atap. Itu menurut laporan triwulanan terbaru Operator Pasar Energi Australia (AEMO), yang mengatakan bahwa suhu musim panas yang sejuk dan rekor instalasi Q1 dari kapasitas surya di atap menyebabkan penurunan 3% dalam permintaan operasional rata-rata dari Pasar Listrik Nasional (NEM) di awal tahun 2021. Laporan tersebut juga menemukan harga listrik grosir turun hingga 68% selama periode yang sama, mengurangi harga listrik kuartalan rata-rata Australia Selatan sebesar 10 dolar Australia/MWh (7,75 dolar Amerika/MWh).

Violette Mouchaileh, chief market officer AEMO, mengatakan pada kuartal terakhir melihat lebih sedikit volatilitas harga dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan lebih banyak volume batu bara dan pembangkit listrik tenaga air dengan harga rendah, serta peningkatan 29% persen dalam pembangkit tenaga angin dan surya “semuanya berkontribusi pada penurunan harga grosir”.

Rata-rata harga siang hari Australia Selatan turun secara konsisten antara pukul 10.00 dan 15.30 (AEST) selama kuartal tersebut, dengan rata-rata -AU $12/MWh untuk pertama kalinya dalam sejarah NEM. Victoria mengalami penurunan harga spot terbesar, menurut laporan itu, turun dari 79 dolar Australia/MWh menjadi hanya 25 dolar Australia/MWh, terendah dalam sembilan tahun. Harga di New South Wales juga turun dari 86 dolar Australia/MWh menjadi 38 dolar Australia/MWh, sedangkan rata-rata per kuartal Queensland mencapai 43 dolar Australia/MWh.

Australia Selatan telah menjadi hotspot penyebaran energi terbarukan, terutama tenaga surya, selama setahun terakhir. Booming PV Australia dan perubahan penggunaan energi tahun lalu mendorong permintaan listrik ke rekor terendah. Laporan AEMO Q3 2020 menemukan bahwa PV yang didistribusikan memenuhi 71% dari total kebutuhan energi Australia Selatan pada 13 September, mendorong rekor permintaan minimum siang hari yang baru sebesar 379 MW. Dan pada kuartal terakhir, gabungan tenaga angin dan surya memberikan 786 MW dari peningkatan penawaran harga rendah, menurut AEMO. Ini, katanya, “terutama didorong oleh penambahan kapasitas baru dan peningkatan kapasitas yang ada”. Tiga bulan pertama tahun ini, kata laporan itu, mengalami peningkatan output energi terbarukan yang sangat tinggi di Victoria dan Australia Selatan, didorong oleh lebih banyak kapasitas terpasang di Victoria. Akibatnya di triwulan ke-1 tahun ini, keluaran energi terbarukan kolektif Victoria dan Australia Selatan berada di atas 2,5 GW 11% dari waktu tersebut, dibandingkan dengan 4% di Triwulan ke-1 tahun sebelumnya.

Apa yang terjadi di Australia bisa jadi pembelajaran bagi Indonesia, bagaimana masyarakat atau rumah tangga terlibat dalam mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23% dan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). IESR pernah melakukan penelitian dan terdapat 9-11% rumah tangga yang mau pasang PLTS apabila pay back period di bawah 7 tahun dan bisa membayar dengan model cicilan tetap 3-5 tahun. Masyarakat juga tidak meminta insentif atau subisidi ke pemerintah untuk melakukan pemasangan PLTS rumah tangga.

Kondisi saat ini untuk PLTS rumah tangga, pemerintah memberikan tiga insentif untuk mendorong masyarakat melakukan pemasangan PLTS. Insentif pertama, PLN melakukan pendekatan ekspor impor daya listrik dalam menghitung tagihan listrik. Pelanggan yang menggunakan PLTS rumah tangga, listrik yang dihasilkan dihitung sebagai pengurang dari tagihan listrik PLN. Listrik yang dihasilkan ini disebut ekspor listrik. Sedangkan listrik yang digunakan dari PLN disebut impor. Ekspor listrik setelah dikalikan 65 persen menjadi nilai kWH pengurang dari impor listrik PLN yang menjadi beban pelanggan. Direncanakan nilai pengalinya akan ditingkatkan menjadi 75 hingga 90 persen. Insentif kedua adalah bagi masyarakat atau industri dengan kelebihan produksi listrik dan tidak terpakai dapat diserap atau dijual para pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik yang rencananya akan diberikan selama lima bulan. Insentif ketiga bagi industri akan ada pengurangan biaya capacity charge dari 40 jam menjadi lima jam.

IESR selanjutnya pernah melakukan penelitian berapa lama pemasangan kwh meter ekspor impor? Kebanyakan responden menjawab antara 1 hingga 2 bulan. Belum sesuai dengan service level agreement PLN selama 15 hari. Waktu pengembalian modal belum mencapai 7 tahun dan diperkirakan baru kembali setelah 10 tahun. Hasil survey IESR ini tentu bisa menjadi cermin bagaimana agar PLTS rumah tangga dilakukan perbaikan kebijakan oleh regulator dan juga dalam hal kecepatan layanan. Bila masyarakat melihat manfaat yang lebih besar dari PLTS rumah tangga ini tentu akan berbondong-bondong untuk melakukan pemasangan PLTS yang akan mendorong masyarakat Indonesia seperti Australia. Indonesia akan mencapai target PLTS sebesar 17,2 GW di tahun 2035, dan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) menjadi netral.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here