Green Economy Kekuatan Indonesia Di Masa Depan

0
189
Ilustrasi Bauran Energi Terbarukan. FOTO: KEMENESDM

(Vibizmedia-Nasional) Pada pembukaan Musrembangnas 2021, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa ke depan dunia kekuatan Indonesia adalah green economy. “Kita juga harus memperoleh manfaat dari perkembangan dunia yang mengarah pada green economy. Kita harus menyadari bahwa kita adalah salah satu paru-paru terbesar dunia dan kita bisa memperoleh manfaat besar dari hutan tropis dan hutan mangrove yang kita miliki. Oleh sebab itu, transformasi menuju energi baru dan terbarukan harus dimulai. Green economy, green technology, dan green product harus diperkuat agar kita bisa bersaing di pasar global. Dan kita sudah merencanakan ini untuk membuat Green Industrial Park, Kawasan Industri Hijau. Akan kita siapkan di Kalimantan Utara karena kita ingin memanfaatkan hydropower yang ada di Sungai Kayan. Dan ini akan menghasilkan energi hijau, energi terbarukan yang akan disalurkan kepada Kawasan Industri Hijau, sehingga muncul produk-produk hijau dari sana, inilah kekuatan kita ke depan.”

Menurut data International Renewable Energy Agency (IRENA)’s annual Renewable Capacity Statistics 2021. Pada tahun 2020 dunia memasang pembangkit energi terbarukan sejumlah 260 Giga Watt. Angka ini meningkat 50% dari angka tahun 2019. Lebih dari 80% dari semua kapasitas listrik baru yang ditambahkan tahun lalu adalah energi terbarukan, kata laporan itu.

Meskipun pandemi Covid-19 memengaruhi rantai pasokan peralatan dan instalasi energi terbarukan, penambahan pada tahun 2020 telah mengalahkan perkiraan sebelumnya dan semua rekor sebelumnya. Pangsa energi terbarukan dari semua kapasitas pembangkit baru meningkat pesat dua tahun berturut-turut, dengan tenaga surya dan angin menyumbang 91% dari energi terbarukan baru. Surya dan angin masing-masing menyumbang 127GW dan 111GW untuk instalasi baru.

Tren yang terjadi ini patut diperhatikan dan seperti dikatakan Presiden, Indonesia patut memulainya agar jangan tertinggal. Indonesia saat ini sedang melakukan transformasi dari energi fosil menuju kepada energi terbarukan. Dengan potensi yang sangat besar, Indonesia mampu menghasilkan 7 kali lipat lebih banyak dari total energi yang dihasilkan saat ini. Posisi ini akan memampukan Indonesia untuk menjadi negara super power energi terbarukan ini. Target Indonesia yang tinggi untuk tahun 2025 adalah mimpi untuk membawa transisi energi terbarukan. Strategi ini akan menguntungkan Indonesia dan juga dunia. Biaya untuk menghasilkan energi terbarukan sekarang ini semakin turun, dan penemuan teknologi terbarukan oleh anak bangsa juga sudah semakin banyak. Hal ini akan membuat daya saing Indonesia semakin meningkat, sebab harga energi lebih murah dan menarik pengusaha untuk berinvestasi. Malahan ke depannya energi terbarukan mampu memilki harga lebih rendah dari PLTU. Salah satu contoh energi terbarukan adalah sungai misalnya. Potensi energi air sungai yang dapat dimanfaatkan Indonesia sangatlah besar totalnya sungai Indonesia mampu menghasilkan energi listrik hingga 94.476 MW. Jumlah itu bisa dibandingkan kalau untuk rumah saja, 94.476 MW itu sama dengan 94.476.000.000 watt. Kalau satu rumah misalnya 900 VA, atau 1.000 VA berarti 94.476.000 rumah, kira-kira atau 95 juta rumah. Dari total 94.476 MW potensi energi air di Indonesia, baru sebesar 6.256 MW (data pusdatin ESDM) yang telah dimanfaatkan dan sebesar 88.200 MW belum termanfaatkan.

Mungkin tidak terpikir oleh kita, bahwa setiap lampu yang menyala di rumah atau di tempat kerja kita berdampak pada perubahan iklim di dunia. Perubahan iklim seperti curah hujan tinggi, suhu yang meningkat, bisa menyebabkan gagal panen, kerusakan terumbu karang, banjir, dan bencana alam lainnya. Listrik yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan dunia usaha masih belum seluruhnya menggunakan energi terbarukan atau renewable energy. Indonesia baru memproduksi 7,9 GW pada Juni 2020. Dalam 5 tahun kedepan Indonesia menargetkan total energi terbarukan yang dihasilkan sebesar 19,9 GW atau 23% dari bauran energi. Indonesia masih membutuhkan 12 GW lagi untuk mencapainya.

POTENSI EBT NASIONAL Sesuai dengan Draft RUPTL 2021-2030

Sumber : Peraturan Presiden No 22 Tahun 2017

Total potensi Indonesia untuk energi terbarukan ekuivalen 442 GW digunakan untuk pembangkit listrik, sedangkan BBN dan Biogas sebesar 200 ribu Bph digunakan untuk keperluan bahan bakar pada sektor transportasi, rumah tangga, komersial dan industri. Pemanfaatan EBT untuk pembangkit listrik tahun 2018 sebesar 8,8 GW atau 14% dari total kapasitas pembangkit listrik (fosil dan non fosil) yaitu sebesar 64,5 GW.

PROGRAM EBT NASIONAL Sesuai dengan Draft RUPTL 2021-2030

Sumber : PLN

Untuk mencapai target EBT menjadi 23% dari total energi nasional, maka sudah ada rencana sepuluh tahun ke depan yang disusun PLN, dimana pada tahun 2030 EBT akan bertambah sebanyak 16.149 MW. Pertambahan ini merupakan jumlah yang besar dan memerlukan usaha yang besar untuk mencapainya. Minimnya pemanfaatan EBT untuk ketenagalistrikan disebabkan masih relatif tingginya harga produksi pembangkit berbasis EBT, sehingga sulit bersaing dengan pembangkit fosil terutama batubara. Selain itu, kurangnya dukungan industri dalam negeri terkait komponen pembangkit energi terbarukan serta masih sulitnya mendapatkan pendanaan berbunga rendah, juga menjadi penyebab terhambatnya pengembangan energi terbarukan.

Sekarang ini di seluruh dunia terjadi pergeseran pasar dan peraturan energi karena negara-negara ingin mengambil keuntungan murahnya energi terbarukan dan tidak merusak lingkungan dibandingkan energi fosil. Tantangan yang dihadapi Indonesia adalah tidak mudahnya mendapatkan pendanaan, kebanyakan perbankan Indonesia belum berpengalaman dalam hal ini dan cenderung konservatif. Dukungan teknis untuk melakukannya masih sangat diperlukan, cost of capital juga terbilang masih tinggi. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, memberikan hambatan dalam pengerjaan energi terbarukan.

Kebutuhan Investasi Indonesia Untuk Energi Baru Terbarukan

Sumber: RUPTL 2020, IRENA 2018

Indonesia menyadari bahwa yang diperlukan untuk melakukan transisi energi terbarukan ini adalah investasi. Investasi yang tidak sedikit, hingga miliaran dollar Amerika. Itulah sebabnya diperlukan reformasi mendasar untuk regulasi penanaman modal dan energi terbarukan di Indonesia untuk memberikan kepastian bagi investor dan pelaku usaha untuk menjamin sektor energi terbarukan akan terus dikembangkan.

Indonesia juga memerlukan kerjasama dengan negara-negara maju baik dalam hal teknologi maupun permodalan. Berbagai negara sudah melakukan kerjasama bilateral dengan Indonesia dalam hal ini. Jepang, Inggris, Belanda dan lainnya telah memiliki komitment untuk melakukan terobosan bagi segala tantangan yang dihadapi. Komitment ini mereka lakukan karena menyadari bahwa transisi energi terbarukan memberikan pertolongan bagi umat manusia dan kondisi planet bumi yang memerlukan perubahan cara hidup manusia khususnya dalam energi dengan menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Vibiz Research sudah melakukan penelitian di lapangan akan minta investor di energi terbarukan sangatlah besar. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk sebuah kesiapan bagi investor adalah kesiapan teknikal yang memang memadai. Berulang kali kegagalan investasi adalah secara teknikal memiliki keadaan lapangan yang beresiko. Dilain pihak tawaran skema investasi sederhana dan menguntungkan keduabelah pihak adalah permintaan umumnya para investor. Kemampuan para advisor keuangan diperlukan untuk mendatangkan investor dalam menggapai investasi bagi Indonesia menjadi negara super power energi terbarukan di masa mendatang.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here