Prof. Nidom: Bergairah Karena Ada Harapan dalam Vaksin Nusantara

0
303

(Vibizmedia – Nasional) Prof. DR. Chairul Anwar Nidom, MSc., drh. sebagai seorang guru besar Biologi dan Molekular di UNAIR yang juga merupakan pembina di Yayasan PNF (Prof. Nidom Foundation) menyampaikan pendapatnya mengapa ia memberikan dukungan kepada Vaksin Nusantara yang kontroversial akhir-akhir ini.

1. Belum merasa pas bila pandemi COVID-19 diatasi dengan vaksin konvensional namun ada harapan melalui vaksin Nusantara.
Diawali dari tahun lalu ada zoom meeting dengan salah seorang peneliti California yang menyodorkan vaksin dendritik sel. Dalam menghadapi pandemi ini, Prof. Nidom merasa kurang pas bila diatasi dengan vaksin konvensional karena virusnya adalah Coronavirus.

Coronavirus itu belum memiliki cerita keberhasilan penggunaan vaksin dalam pengendalian penyakit apa saja yang disebabkan oleh Coronavirus. Salah satu yang paling mencolok buat kita adalah vaksin Coronavirus yang diberikan pada peternakan ayam, sampai sekarang tetap tidak berhasil. Infectious Bronchitis pada ayam tidak berhasil diatasi, kalau ada wabah tetap kena juga. Jadi dari awal Prof. Nidom belum sreg kalau Coronavirus ini didekati dengan vaksin.

Saat berdiskusi hal ini masih menerawang karena vaksin ini masih berorientasi sebagai vaksin kanker. Disebut sebagai imunoterapi dendritik sel vaksin. Kemudian ada berita di Semarang, Menkes membicarakan vaksin Nusantara di Semarang. Prof Nidom berpikir ini cukup bagus. Artinya ketika kurang mempercayai efektivitas vaksin yang ada maka ada tawaran yang dilontarkan dr. Terawan, Prof. Nidom melihat adanya harapan dan mempelajari terus. Saat diundang ke DPR untuk memberikan pencerahan maka Prof. Nidom menyampaikan bahwa ada harapan. Di dunia ini hanya dua negara yang mengembangkan vaksin dendritik sel salah satunya Indonesia dan keduanya sudah diakui oleh WHO, artinya secara internasional sudah dilist oleh WHO. Diharapkan di Indonesia tidak terlalu rigid dengan aturan karena melihat bahwa ini adalah suatu upaya untuk bisa menerobos pandemi. Menurut Prof. Nidom vaksin-vaksin yang ada sekarang juga adalah masih merupakan riset. Termasuk vaksin m-RNA dan lainnya. Jadi mengapa tidak?

2. Adanya sebuah tantangan yang diberikan vaksin Dendritik.
Pengembangan vaksin Dendritik ini dapat jauh lebih mudah. Menggunakan analogi mie instan, Prof. Nidom menjelaskan ibaratnya mienya sudah dimiliki oleh masing-masing tubuh dan bumbunya tinggal dibuat oleh industri pembuat bumbu dan kemudian tinggal dikirim ke daerah-daerah. Menjadi tantangan untuk start up mengembangkan vaksin Nusantara. Orang tidak perlu datang ke rumah sakit besar. Tinggal bumbunya yang tidak sama satu dengan yang lain. Tinggal nanti industri yang membuat bumbu-bumbu ini dan mengirim ke daerah-daerah. Inilah yang menimbulkan gairah membicarakan vaksin Nusantara karena ada harapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here