Review Mingguan Harga Minyak Sawit pada 17 Mei – 21 Mei 2021

0
167

(Vibizmedia – Commodity) – Harga minyak sawit pada seminggu lalu mengalami penurunan yang tajam karena turunnya harga minyak  kedelai, turunnya ekspor Malaysia, permintaan berkurang, dan meninggalkan harga tertinggi 13 tahun pada tanggal 6 Mei dan turun kembali ke harga di bawah 4,000 ringgit pada penutupan pasar hari Jumat

Pergerakan harga minyak sawit minggu ke tiga bulan Mei dari tanggal 17 – 21 Mei 2021, harga minyak sawit kembali turun di bawah harga 4,000 ringgit pada hari Jumat ke harga terendah sejak 4 Mei.

Harga minyak sawit pada minggu ini mengalami penurunan selama 4 hari dari 5 hari, kenaikan harga hanya terjadi pada hari Selasa. Harga minyak sawit seminggu ini turun 11 %, penurunan selama 3 minggu berturut -turut, ke harga terendah sejak 4 Mei.

Harga minyak sawit setelah naik ke harga tertinggi 13 tahun pada 6 Mei menyentuh harga tertinggi sejak 2008 pada 4,231 ringgit perton di perdagangan siang hari. mengalami penurunan harga selama 3 minggu berturut-turut.

Faktor kenaikan harga dari minyak sawit selama ini sangat tergantung pada kenaikan dari harga minyak kedelai, sedangkan secara fundamental minyak sawit sendiri tren harga cenderung menurun karena peningkatan produksi dan ekspor yang menurun selama pandemi di India dan juga permintaan akan biodiesel berkurang karena lockdown harga bahan bakar turun.

Pergerakan harga minyak sawit pada minggu ini :

  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Jumat 21 Mei 2021, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 119 ringgit atau 2.89% menjadi 3,994 ringgit ($964.73) perton.
  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Kamis 20 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 193 ringgit atau 4.49% menjadi 4,109 ringgit ($991.43) per ton, melanjutkan penurunan untuk hari ke dua ke harga terendah dua minggu.
  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Rabu 19 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange ditutup turun 157 ringgit atau 3.52% menjadi 4,300 ringgit ($1,039.65) per ton, persentase penurunan terbesar selama 7 minggu. Sebelumnya di pertengahan pasar harga turun 4.2%.
  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Selasa 18 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik 215 ringgit (5.07%) menjadi 4,457 ringgit ($1,080.48) per ton, setelah pada hari Senin ditutup turun 1.05%.
  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Senin 17 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 45 ringgit, atau 1.05% menjadi 4,240 ringgit ($1,206.88) per ton.

Faktor yang menggerakkan harga minyak sawit naik pada minggu :

  • The Southern Peninsula Palm Oil Millers Association memperkirakan produksi selama 15 hari pertama bulan Mei turun 18% dari bulan lalu.
  • Ekspor minyak sawit Malaysia dari tanggal 1 -15 Mei naik 18.8% menjadi 695,764 ton dari 1 -15 April, menurut AmSpec Agri Malaysia.
  • Import kedelai Cina di bulan April naik 11% dari tahun lalu pada bulan yang sama naik karena adanya pengiriman dari Brazil yang masih tertunda. Cina produsen kedelai terbesar dunia membeli 7.45 juta ton kedelai di bulan April naik dari 6.714 juta ton di tahun lalu, menurut General Administration of Customs data.
  • Hasil panen akan berkurang karena kekurangan pekerja pada saat panen, kekurangan pekerja mempengaruhi hasil panen dan terlebih lagi pada bulan Mei ini.
  • Harga minyak sawit pada awal Mei terdorong naik karena terjadi kenaikan harga di pasar komoditi pertanian global, di Chicago dari jagung dan kedelai, yang harganya naik sampai rekor.
  • Kekurangan pekerja :
    Industri sawit mengalami kekurangan pekerja karena pandemi Covid-19, sehingga produksi berkurang di Malaysia negara produsen minyak sawit terbesar ke dua di dunia. Diperkirakan industri sawit mengalami kekurangan tenaga kerja sebesar 30%.
    Industri sawit berusaha untuk menarik penduduk sekitar untuk memanen sawit, namun 60% mengajukan diri untuk berhenti untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.
    Pemerintah Malaysia sudah menyetujui untuk kembalinya 32,000 pekerja asing ke ladang sawit tapi pengembalian ini mengalami kendala karena peningkatan kasus virus covid yang baru.

Faktor penggerak penurunan harga minyak sawit

  • Perkiraan pasar bahwa produksi pada bulan Juni, Juli sampai September akan meningkat.
  • Ekspor minyak sawit Malaysia dari 1 – 20Mei naik 4.6% dari bulan lalu ekspor naik tapi kenaikannya turun dari kenaikan 22 % selama 1-15 Mei.
  • Harga minyak sawit terdorong turun karena turunnya harga minyak kedelai di Chicago Board of Trading (CBOT) karena turunnya harga minyak mentah sehingga harga produk energi menurun.
  • Produksi minyak sawit di bulan Mei juga diperkirakan akan menurun karena lockdown di Malaysia, yang akan menyebabkan harga minyak sawit meningkat namun kemungkinan kenaikan harga akan dibatasi oleh kenaikan inflasi di AS dan Cina.
  • Perkiraan ekspor minyak sawit Malaysia dari 1 sampai 20 Mei naik 16% dari bulan lalu pada periode yang sama, menurut AmSpec Agri Malaysia ternyata tidak terjadi karena pada hari Jumat laporan ekspor menurun ke kenaikan 4.6% karena terjadi penurunan permintaan dari negara pembeli terbesar India, Cina dan Uni Eropa.
  • Harga minyak sawit turun karena turunnya harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) karena progress penanaman kedelai yang lebih cepat dari rata-rata.
    Persediaan akhir dari minyak sawit diperkirakan akan naik pada bulan Mei karena ekspor yang menurun sementara produksi bertambah.
  • Malaysia menetapkan pajak ekspor pada bulan Juni masih tetap 8% namun harga referensinya naik menjadi 4,627.40 ringgit per ton menurut the Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
  • Harga minyak mentah turun untuk dua hari berturut-turut, karena pandemi convid di Asia membuat permintaan minyak mentah berkurang akibat lockdown dan inflasi di AS diperkirakan Federal Reserves AS akan meningkatkan suku bunga, sehingga membuat pertumbuhan ekonomi turun.
  • Turunnya harga minyak mentah membuat permintaan akan biodiesel, sebagai bahan bakar substitusi berkurang sehingga permintaan minyak sawit untuk biodiesel berkurang dan harganya menjadi turun.
  • India pembeli terbesar minyak sawit di dunia, menurunkan pembeliannya karena pandemi covid.
  • Impor minyak sawit dari Uni Eropa di 2020/21 turun menjadi 4.61 juta ton dari 5.07 juta ton pada tahun lalu menurut European Commission pada hari Senin.
  • The US Departement of Agriculture (USDA ) mengatakan petani AS sudah menanam 80% dari area jagung sedangkan perkiraan antara 79% – 88% sudah ditanami.
  • Biaya restribusi minyak sawit di Indonesia sedang diusulkan untuk diturunkan $100 per ton, dan juga produksi pada musim ini diperkirakan meningkat sedangkan ekspor kehilangan momentum untuk lebih meningkat lagi.
  • Persediaan minyak sawit Malaysia naik 7.1% dari bulan lalu mencapai tertinggi 5 bulan menjadi 1.55 juta ton karena peningkatan dari produksi.
  • Data MPOB bahwa konsumsi domestik sebesar 50,000 ton sangat sedikit dibanding perkiraan pasar sebesar 240,000 – 362,000 ton.
  • Impor minyak sawit India akan berkurang di bulan Mei dan Juni karena di beberapa negara bagian di India menutup hotel dan restoran untuk mencegah berjangkitnya virus Corona. India adalah negara pengimpor minyak nabati terbesar di dunia.
  • Penyebaran virus corona di India, negara importir minyak sawit terbesar di dunia mencapai 20 juta pada hari Selasa sehingga permintaan minyak sawit dari negara ini berkurang.
  • Uni Eropa pembeli terbesar ke tiga dari minyak sawit Malaysia mengimpor 4.23 juta ton di 2020/21 turun 4.55 juta ton dari tahun lalu, menurut European Commission.
  • Sementara data di Indonesia negara produsen minyak sawit terbesar di dunia persediaan pada bulan Februari sebesar 4.04 juta ton menurut Indonesian Palm Oil Association (GAPKI ) pada hari Jumat.
  • Perkiraan pasar produksi minyak sawit Indonesia di bulan Maret akan meningkat, sementara eksporpun akan meningkat.
  • Investor memperkirakan Indonesia akan menaikan pajak ekspor minyak sawit menjadi $144 per ton di bulan Mei dari $116 perton di bulan April, setelah Malaysia menaikkan pajak ekspor pada bulan depan.

Kesimpulan :
Pada minggu ke tiga bulan Mei harga minyak sawit mengalami penurunan yang tinggi selama seminggu sampai 11%, karena penunjang kenaikan dari harga minyak sawit yaitu minyak kedelai mengalami penurunan.

Turunnya harga minyak kedelai pada minggu ini karena cuaca di AS membaik hujan turun sehingga tanaman subur dan kemungkinan hasil panen akan meningkat pertumbuhan tanaman kedelai membaik pada minggu ini, selain itu permintaan minyak nabati menurun karena turunnya harga minyak mentah akibat pandemi covid yang berlangsung di beberapa negara membuat lockdown berlangsung kembali dan menurunnya pertumbuhan ekonomi yang dapat membawa penurunan permintaan akan komoditas.

Dari faktor fundamental minyak sawit sendiri produksi sudah mulai meningkat kembali, sedangkan permintaan menurun, negara pengimpor terbesar sedang mengalami pandemi covid-19 sehingga dilakukan lockdown, dan impor minyak sawit berkurang, demikian juga dengan Uni Eropa impor minyak sawit menurun juga karena lockdown, dan masih belum naik lagi.

Penambahan penderita positif covid di India yang tinggi menyebabkan ekspor ke India pasti menurun, ditambah dengan pandemi covid juga berlangsung lagi di Malaysia sehingga semakin sulit mencari pekerja di ladang sawit.
Pada minggu depan di akhir bulan diperkirakan harga minyak sawit tidak mengalami pelonjakan lagi akibat berkurangnya permintaan, namun kalau produksi menurun maka penurunan dapat berhenti.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit support pertama di 3,940 ringgit dan berikut ke 3,920 ringgit sedangkan resistant pertama di 4,190 ringgit dan berikut ke 4,250 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting
Editor : Asido.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here