Review Mingguan Harga Minyak Sawit 24 – 28 Mei 2021

0
70

(Vibizmedia – Commodity) – Harga minyak  sawit di  akhir bulan Mei masih naik ke harga diatas 4,000 ringgit, sepanjang minggu ini naik 0.6%, naik sedikit dari minggu lalu, tapi  diperkirakan minggu depan masih akan turun lagi mengikuti perkembangan harga dari  minyak kedelai.

Pergerakan harga minyak sawit minggu ke empat bulan Mei dari tanggal 24 – 28 Mei 2021, Harga minyak sawit diakhir minggu kembali naik di atas 4,000 ringgit setelah pada minggu lalu mengalami penurunan 11.43 % maka seminggu ini harga minyak sawit kembali naik 0.6% , setelah turun selama 3 minggu berturut-turut.

Transaksi pada minggu ini di Bursa Malaysia turun karena ada hari libur sebesar 284.060 lot dari minggu lalu 368.985 lot sedangkan posisi terbuka turun menjadi 243,856 kontrak dari 263,477 kontrak.

Minggu ini harga minyak sawit bergerak karena faktor dari minyak kedelai di Bursa Chicago Board of Trade dan juga harga minyak kedelai di Bursa Dalian.

Harga minyak sawit Malaysia cenderung turun karena ekspor minyak sawit diperkirakan mengalami penurunan pada 2 minggu terakhir karena pandemi covid yang terjadi di India, pembeli minyak nabati terbesar di dunia, dan juga di Eropa pembelian minyak nabati juga mengalami penurunan, ditambah dengan peningkatan produksi sehingga persediaan meningkat.

Pasar menantikan Laporan Bulanan Persediaan dan Permintaan dari MPOB yang akan diumumkan pada tanggal 10 Juni.

Pergerakan harga minyak sawit pada minggu ini :

  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Jumat 28 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 98 ringgit (2.50%) menjadi 4,015 ringgit ($971.68) per ton .
  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Kamis 27 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 2.7% menjadi 3,917 ringgit ($946.59) per ton, sehingga kenaikan harga 3.4 % pada hari Selasa terhapus.
  • Bursa Malaysia ditutup pada hari Rabu 26 Mei 2021 hari Waisak
  • Harga minyak sawit Agustus pada penutupan pasar hari Selasa 25 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchanges naik 3.47% menjadi 4,025 ringgit ($972.22)
  • Harga minyak sawit Agustus pada hari Senin 24 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 104 ringgit atau 2.6% menjadi 3,887 ringgit ($937.98) per ton.

Faktor yang menggerakkan harga minyak sawit naik pada minggu :

  • Ekapor kenaikan dibanding bulan sebelumnya Ekpor minyak sawit dari 1-25 Mei 2021 naik 25 % menjadi 1.105 juta ton dari 1.102 juta ton pada 1-25 April 2020 menurut surveyor Intertek Testing. Ekspor minyak sawit dari 1-25 Mei 2021 naik 23% menjadi 1.107 juta dari 1.103 juta pada 1 – 25 April 2020 menurut surveyor Amspec Malaysia
  • Harga naik karena naiknya harga minyak kedelai di CBOT kemudian harga canola di ICE dan harga kedelai di Euronext.Lama:
  • The Southern Peninsula Palm Oil Millers Association memperkirakan produksi selama 15 hari pertama bulan Mei turun 18% dari bulan lalu.
  • Import kedelai Cina di bulan April naik 11% dari tahun lalu pada bulan yang sama naik karena adanya pengiriman dari Brazil yang masih tertunda. Cina produsen kedelai terbesar dunia membeli 7.45 juta ton kedelai di bulan April naik dari 6.714 juta ton di tahun lalu, menurut General Administration of Customs data.
  • Hasil panen akan berkurang karena kekurangan pekerja pada saat panen, kekurangan pekerja mempengaruhi hasil panen dan terlebih lagi pada bulan Mei ini.
  • Harga minyak sawit pada awal Mei terdorong naik karena terjadi kenaikan harga di pasar komoditi pertanian global, di Chicago dari jagung dan kedelai, yang harganya naik sampai rekor.
  • Kekurangan pekerja :
    • Industri sawit mengalami kekurangan pekerja karena pandemi Covid-19, sehingga produksi berkurang di Malaysia negara produsen minyak sawit terbesar ke dua di dunia. Diperkirakan industri sawit mengalami kekurangan tenaga kerja sebesar 30%.
    • Industri sawit berusaha untuk menarik penduduk sekitar untuk memanen sawit, namun 60% mengajukan diri untuk berhenti untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.
    • Pemerintah Malaysia sudah menyetujui untuk kembalinya 32,000 pekerja asing ke ladang sawit tapi pengembalian ini mengalami kendala karena peningkatan kasus virus covid yang baru.
    • Faktor penggerak penurunan harga minyak sawit

     

  • Harga minyak sawit kembali turun setelah pada hari Selasa sempat naik, lalu bursa tutup di hari Rabu dan pada hari Kamis kembali turun lagi, mengikuti turunnya harga minyak kedelai di CBOT, dimana harga kedelai mengalami penurunan selama 7 hari berturut-turut setelah sempat mencapai harga tertinggi 8 tahun.
  • Program baru yang diberikan pemerintah Malaysia membuat produksi dapat sawit dapat meningkat lagi sehingga pemerintah memperkirakan target ekspor minyak sawit sebesar 75 milyar ringgit pada tahun ini karena program baru yang diberikan.
  • Program tambahan baru tersebut adalah memberikan 20 juta ringgit kepada 65 perusahaan perkebunan sawit yang sustainable (KPSM) dan tambahan 30 juta ringgit untuk mendorong investasi mesin-mesin dan otomatisasi penanaman minyak sawit.
  • Program ini untuk mendorong pembelian mesin dan mekanisasi di industri komoditas, pemerintah menginginkan KPSM terlibat didalam hal ini supaya dapat meningkatkan pendapatan.
  • Harga minyak kedelai turun pada hari Rabu ke harga terendah satu bulan, karena turun hujan di ladang kedelai di AS. Harga minyak kedelai pada perdagangan pasar Asia siang hari turun 0.3%.
  • Perkiraan pasar bahwa produksi pada bulan Juni, Juli sampai September akan meningkat.
  • Harga minyak sawit terdorong turun karena turunnya harga minyak kedelai di Chicago Board of Trading (CBOT) karena turunnya harga minyak mentah sehingga harga produk energi menurun.

Produksi minyak sawit di bulan Mei juga diperkirakan akan menurun karena lockdown di Malaysia, yang akan menyebabkan harga minyak sawit meningkat namun kemungkinan kenaikan harga akan dibatasi oleh kenaikan inflasi di AS dan Cina.

    • Perkiraan ekspor minyak sawit Malaysia dari 1 sampai 20 Mei naik 16% dari bulan lalu pada periode yang sama, menurut AmSpec Agri Malaysia ternyata tidak terjadi karena pada hari Jumat laporan ekspor menurun ke kenaikan 4.6% karena terjadi penurunan permintaan dari negara pembeli terbesar India, Cina dan Uni Eropa.
    • Harga minyak sawit turun karena turunnya harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) karena progress penanaman kedelai yang lebih cepat dari rata-rata.
    • Persediaan akhir dari minyak sawit diperkirakan akan naik pada bulan Mei karena ekspor yang menurun sementara produksi bertambah.
    • Malaysia menetapkan pajak ekspor pada bulan Juni masih tetap 8% namun harga referensinya naik menjadi 4,627.40 ringgit per ton menurut the Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
    • India pembeli terbesar minyak sawit di dunia, menurunkan pembeliannya karena pandemi covid.
    • Impor minyak sawit dari Uni Eropa di 2020/21 turun menjadi 4.61 juta ton dari 5.07 juta ton pada tahun lalu menurut European Commission pada hari Senin.
    • Persediaan minyak sawit Malaysia naik 7.1% dari bulan lalu mencapai tertinggi 5 bulan menjadi 1.55 juta ton karena peningkatan dari produksi.
    • Data MPOB bahwa konsumsi domestik sebesar 50,000 ton sangat sedikit dibanding perkiraan pasar sebesar 240,000 – 362,000 ton.
    • Impor minyak sawit India akan berkurang di bulan Mei dan Juni karena di beberapa negara bagian di India menutup hotel dan restoran untuk mencegah berjangkitnya virus Corona. India adalah negara pengimpor minyak nabati terbesar di dunia.
  • Uni Eropa pembeli terbesar ke tiga dari minyak sawit Malaysia mengimpor 4.23 juta ton di 2020/21 turun 4.55 juta ton dari tahun lalu, menurut European Commission.
  • Sementara data di Indonesia negara produsen minyak sawit terbesar di dunia persediaan pada bulan Februari sebesar 4.04 juta ton menurut Indonesian Palm Oil Association (GAPKI ) pada hari Jumat.

Kesimpulan :

Pada minggu ke empat bulan Mei harga minyak sawit pada minggu mengalami kenaikan sedikit setelah penurunan harga 11% pada minggu lalu.

Kecendrungan harga minyak sawit masih akan terjadi karena cuaca di AS membaik hujan turun sehingga tanaman subur dan kemungkinan hasil panen akan meningkat pertumbuhan tanaman kedelai membaik pada minggu ini, selain itu permintaan minyak nabati menurun karena turunnya harga minyak mentah akibat pandemi covid yang berlangsung di beberapa negara membuat lockdown berlangsung kembali dan menurunnya pertumbuhan ekonomi yang dapat membawa penurunan permintaan akan komoditas.

Pemerintah Malaysia memberlakukan lockdown penuh, hal ini dapat mengurangi produksi minyak sawit di Malaysia dan juga permintaan biodiesel atau bensin juga menurun, karena tidak ada pergerakan.

Sementara ekspor akan berkurang karena pembeli terbesar India masih dilanda pandemi covid sehingga tidak melakukan ekspor minyak sawit, dan juga dari Eropa permintaan menurun.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit support pertama di 3,870 ringgit dan berikut ke 3,780 ringgit sedangkan resistant pertama di 4,080 ringgit dan berikut ke 4,200 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting

Editor : Asido.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here