Kemitraan Pemerintah Swasta dalam Sistem Healthcare Indonesia

0
47
Ilustrasi layanan kesehatan di Indonesia. DOK. RS ST. CAROLUS

(Vibizmedia-Nasional) Beberapa pengamat mengatakan, bila perekonomian Indonesia bisa pulih dengan cepat kepada tingkat pertumbuhan sebelum pandemi maka Indonesia bisa menjadi negara dengan ekonomi ke tujuh terbesar dunia di atas Rusia, Italia, Korea Selatan dan lainnya. Untuk bergerak dari posisi ekonomi Indonesia ke 16 pada tahun 2019, Indonesia harus fokus pada membangun produktivitas, daya saing, pada saat ini dan juga setelah melewati pandemi. Ini adalah tugas yang tidak mudah, karena sementara menghadapi tekanan pandemi, Indonesia tetap berjuang untuk secara struktural tetap kuat, sehingga Indonesia menjadi negara yang mencapai visinya menjadi negara maju pada tahun 2030.

Selama hampir dua dekade terakhir, tingkat pertumbuhan PDB tahunan Indonesia berfluktuasi sekitar 5 persen, mencapai 6,3 persen pada tahun 2007 sebelum kembali ke 5 persen pada tahun 2019. Namun, pandemi Covid-19 menghantam perekonomian dengan keras, dan di Januari 2021, Oxford Economics memperkirakan ekonomi akan berkontraksi sebesar 2,2 persen pada tahun 2020. Meskipun mengalami kemunduran, diperkirakan ekonomi Indonesia dapat pulih ke pertumbuhan 6,0 persen pada tahun 2021, didorong oleh peningkatan belanja konsumen dan infrastruktur, dan tentunya Indonesia terus melakukan upaya dukungan terhadap sisi pendapatan masyarakat, insentif untuk pengusaha UMKM dan pengusaha besar agar terus berproduksi.

Dalam laporan terpisah McKinsey pada tahun 2020 secara khusus membahas Indonesia, dan diidentifikasikan sejumlah tren yang kemungkinan akan memengaruhi pada periode berikutnya. Ini termasuk fokus yang lebih besar pada sistem healthcare yang tangguh, adopsi teknologi digital yang lebih cepat, kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan, lebih menekankan pada supply-chain, dan perlunya jaminan kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan yang lebih besar.

Bahkan sebelum pandemi melanda dunia, ekonomi global berubah dengan cepat, sebagian besar didorong oleh kemajuan teknologi digital, seperti analitik canggih, robotika dan otomatisasi, Internet of Things (IoT), dan artificial inteligence. Misalnya, studi McKinsey 2019 memperkirakan bahwa antara 2014 dan 2023, otomatisasi akan menciptakan lebih banyak pekerjaan di Indonesia daripada yang hilang, dengan skenario paling agresif diperkirakan akan tercipta 23 juta lebih banyak pekerjaan.

Selain itu, struktur perekonomian negara akan berubah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk pada umumnya. Permintaan tenaga kerja akan meningkat di beberapa sektor, seperti konstruksi, manufaktur, pendidikan, kesehatan, dan perdagangan eceran dan grosir. Keterampilan digital khusus dan pekerja dengan setidaknya pendidikan sekolah menengah akan lebih diminati.

Tetapi untuk membawa ekonomi ke peringkat ketujuh secara global, pertumbuhan tahunan harus didorong ke sekitar 7 persen, lebih cepat dari tingkat dinamis sebelum pandemi sekitar 5 persen. Aspek utama untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia adalah membangun ketahanan terhadap guncangan besar dan kecil. Pandemi telah mengekspos kerentanan, misalnya, dalam rantai pasokan global, yang harus diatasi untuk menata kembali lanskap ekonomi Indonesia dan membawa negara ini maju dengan cepat. Komponen penting dalam membangun ketahanan ekonomi berpusat pada pengelolaan sistem kesehatan, ketahanan pangan, pariwisata domestik, dan pembangunan infrastruktur.

Memanfaatkan Kemitraan Pemerintah-Swasta dalam Healthcare

Sistem healthcare berada di pusat pandemi Covid-19, yang telah menunjukkan perlunya lebih banyak investasi untuk menciptakan ketahanan yang lebih besar dan hasil yang lebih baik. Pandemi membuat meningkatnya kesadaran dan urgensi sistem healthcare juga menawarkan kesempatan untuk mereformasi sektor ini.

Bahkan sebelum krisis melanda, rekam jejak Indonesia dalam healthcare jauh di bawah rata-rata negara-negara tetangganya. Pada tahun 2017, pengeluaran untuk healthcare per kapita adalah USD115, terendah di antara negara-negara Asia Tenggara dan jauh di bawah rata-rata regional sebesar USD604. Setelah pada Maret 2020 kasus Covid-19 pertama terkonfirmasi di Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi di Indonesia meningkat menjadi sekitar 1,8 juta pada awal Juni 2021. Prioritas langsung pemerintah adalah untuk meminimalkan dampak pandemi dengan mendorong pemakaian masker, menjaga jarak dan mencuci tangan, dan mempercepat pengujian dan distribusi vaksin, di antara langkah-langkah lainnya. Lebih dari tindakan pertama ini, Indonesia juga mulai menyusun rencana jangka panjang agar sistem healthcare dapat bangkit dari krisis dengan lebih kuat dari sebelumnya.

Sebagai bagian dari cetak biru ini, kerjasama publik-swasta yang lebih besar diperlukan untuk meningkatkan infrastruktur kesehatan negara. Secara khusus, kekurangan dalam perawatan primer harus diatasi melalui investasi yang lebih besar pada dokter dan profesional kesehatan lainnya, laboratorium, dan stok obat di puskesmas, atau klinik kesehatan masyarakat. Sebagai contoh, pada tahun 2012 pemerintah India bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menjalankan North Eastern Indira Gandhi Regional Institute of Health & Medical Sciences, yang diperkirakan melayani 240.000 pasien berpenghasilan rendah per tahun dan melatih 100 dokter setiap tahun.

Selain itu, Indonesia dapat menjajaki kemitraan publik-swasta dalam healthcare untuk membawa inovasi yang lebih besar dalam pemberian perawatan, terutama di daerah pedesaan. Telemedicine dan mobile health vehicles adalah cara cepat dan murah untuk menjangkau pasien, terutama di daerah terpencil dengan sedikit infrastruktur, dan untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan. Pandemi telah mempercepat minat pada pendekatan ini, dengan peningkatan 35 persen dalam penggunaan telemedicine di Indonesia, dan momentum ini harus digunakan.

Upaya ini dapat berkembang lebih jauh menjadi ekosistem kesehatan yang memecahkan masalah spesifik yang dihadapi pasien dengan menyatukan berbagai komponen healthcare, termasuk telemedicine, rumah sakit, asuransi, dan apotek, menjadi jaringan penyedia yang erat yang mudah dinavigasi oleh pasien, sering kali menggunakan teknologi digital. Di India, Rumah Sakit Apollo telah menciptakan ekosistem yang menyediakan berbagai layanan, mulai dari aplikasi ponsel cerdas hingga kunjungan langsung ke rumah sakit. Sekitar 15 juta orang mengunduh aplikasinya dalam waktu enam bulan sejak diluncurkan.

Indonesia sanggup melalui pandemi karena nilai kekeluargaan yang besar, dan tingkat solidaritas masyarakat sangatlah tinggi. Orang Indonesia terkenal dengan kerelaannya berkorban bagi sesamanya, inilah yang melengkapi masyarakat Indonesia saat menghadapi krisis. Namun penting diperhatikan bahwa semua kekuatan ini perlu ditambahkan dengan sistem healthcare yang kuat untuk mengatasi krisis. Dengan sistem healthcare yang kuat maka masyarakat Indonesia akan menjadi sehat hingga ke pelosok. Kesehatan adalah syarat bagi masyarakat untuk siap melakukan inovasi dan menjadi produktif. Kemitraan publik-swasta dalam healthcare sudah dirintis oleh pemerintah, layanan kesehatan bersama swasta telah banyak dilakukan hingga ke desa-desa. Beberapa pengusaha Indonesia misalnya memiliki jaringan healthcare dengan pendirian rumah sakit dengan standard layanan yang sama dengan layanan di kota. Masalah yang perlu dipecahkan adalah bagaimana mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk layanan healthcare. Masyarakat banyak yang sering tidak mampu untuk membayarnya, asuransi BPJS merupakan bentuk layanan pemerintah yang menolong masyarakat. Diperlukan skema kerjasama dengan swasta agar jaminan BPJS disertai dengan layanan rumah sakit yang berkualitas untuk pertolongan kepada masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here