Percepat Adopsi ID digital Untuk Ekonomi Inklusif

0
83

(Beritadaerah – Kolom) Dalam menciptakan ekonomi modern dan inklusif, Indonesia membutuhkan bagian penting yang harus dimiliki yaitu ID digital untuk individu. Sekitar 20 juta orang Indonesia, sekitar 8 persen dari populasi, tidak memiliki identitas yang dapat membuka akses ke rekening keuangan formal, tunjangan pemerintah, peluang pendidikan, dan layanan lain yang memerlukan kredensial yang kredibel. ID digital untuk individu adalah salah satu saran dari McKinsey agar Indonesia bisa menjadi negara maju di tahun 2030 sesuai analisa mereka.

Sementara prioritas tetap untuk menyediakan dokumen identifikasi tradisional untuk seluruh penduduk, upaya ini harus dilengkapi dengan gerakan menuju pembuatan sistem ID digital universal. Tidak seperti ID kertas, ID digital dapat diautentikasi dari jarak jauh, memberikan kemudahan dan keamanan untuk transaksi keuangan dan layanan lainnya. Dengan perlindungan yang tepat, ID digital membantu mengurangi penipuan, melindungi hak individu, dan meningkatkan transparansi, selain kenyamanan karena tidak harus membawa banyak ID kertas.

Bank Dunia memperkirakan ID digital dapat membuka akses ke rekening perbankan formal kepada lebih dari 1,7 miliar orang di seluruh dunia, termasuk sekitar 115 juta orang Indonesia. Selain itu, di Indonesia, ID digital dapat membebaskan sekitar 110 miliar jam kerja setiap tahun melalui penggunaan layanan pemerintah online yang lebih mudah. McKinsey Global Institute juga menemukan bahwa di pasar negara berkembang, ID digital dapat menciptakan nilai yang setara dengan sekitar 3 hingga 13 persen dari PDB pada tahun 2030 , dengan sekitar setengah dari manfaat ini langsung diberikan kepada individu. Bagi Indonesia, ini setara dengan menambahkan antara 30 hingga 130 miliar dolar Amerika untuk perekonomian.

Di Indonesia, para pemimpin publik dan swasta dapat bekerja sama untuk mengeksplorasi pedoman kebijakan dan perlindungan untuk program ID digital. Komponen penting, berdasarkan pengalaman di tempat lain, adalah bahwa identitas harus dapat diverifikasi dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, unik untuk setiap individu, bersifat sukarela, dan melindungi privasi.

India memberikan contoh manfaat potensial dari hal ini. Pada tahun 2009 pemerintah India meluncurkan Aadhaar, 12 digit nomor identitas yang unik untuk setiap individu. Layanan gratis ini menggabungkan informasi demografis, seperti tanggal lahir dan alamat, dengan informasi biometrik, seperti sidik jari, foto, dan pemindaian iris mata. Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 2019, lebih dari 1,2 miliar identifikasi Aadhaar telah dihasilkan. Dan dengan diterima sebagai identifikasi yang sah untuk peraturan perbankan “know your customer”, sistem ini telah membantu membawa puluhan juta orang ke dalam sistem keuangan formal. Namun, pelanggaran keamanan dalam sistem Aadhaar yang dilaporkan pada tahun 2018, menggarisbawahi perlunya peningkatan pengamanan untuk membangun kepercayaan pada program-program ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here