Review Mingguan Harga Minyak Sawit 12 – 16 Juli 2021

0
104

(Vibizmedia – Commodity) – Harga minyak sawit pada minggu ini kembali naik di atas 4,000 ringgit, kenaikan selama 5 hari berturut-turut, dan mencapai harga tertinggi 6 minggu pada hari Kamis

Sementara itu melihat pergerakan harga minyak sawit minggu ke tiga di bulan Juli dari tanggal 12– 16 Juli 2021, Pada seminggu ini harga minyak sawit terus naik dan kenaikan mingguan sebesar 6.1%, kenaikan mingguan tertinggi sejak Januari 2021,  kenaikan mingguan yang tertinggi sejak Januari 2021.

Laporan Bulanan Persediaan dan Permintaan dari the Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dilaporkan pada hari Senin 12 Juli:
• Ekspor minyak sawit Malaysia di bulan Juni naik 12% dari bulan lalu menjadi 1.42 Juta MT.
• Produksi dari CPO naik 2.21% dari bulan Juni menjadi 1,606,187 MT.
• Persediaan akhir naik 2.82% dari bulan Juni menjadi 1,614,657 MT.

Harga minyak sawit mengalami kenaikan setelah Laporan MPOB karena ekspor yang masih naik pada bulan Juni, namun produksi minyak sawit masih naik sehingga persediaan masih naik membuat kenaikan harga minyak sawit dibatasi.

Pergerakan harga minyak sawit pada minggu ini :
• Harga minyak sawit Oktober pada penutupan pasar hari Jumat 16 Juli 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 20 ringgit atau 0.4% menjadi 4,131 ringgit ($981.93 ) per ton.
• Harga minyak sawit September pada penutupan pasar hari Kamis 15 Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 136 ringgit atau 3.38% menjadi 4,157 ringgit ($989.53) perton mencapai harga tertinggi 6 minggu.
• Harga minyak sawit September pada penutupan pasar hari Rabu 14 Juli 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 44 ringgit atau 1.11% menjadi 4,021 ringgit ($957.85) per ton setelah turun 1.3% selama sesi sebelumnya. Harga minyak sawit naik hari kedua dan ditutup naik ke harga tertinggi sejak 8 Juni.
• Harga minyak sawit September pada hari Selasa 13 Juli 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 114 ringgit atau 2.95% menjadi 3,977 ringgit ($948.94) per ton harga tertinggi sejak 8 Juni.
• Harga minyak sawit September pada hari Senin 12 Juli 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 2 ringgit atau 0.05% menjadi 3,894 ringgit ($929.58) per ton, setelah Laporan Persediaan dan Permintaan Bulanan dari The Malaysian Palm Oil Board

Faktor yang menggerakkan harga minyak sawit pada minggu ini :

  • Ekspor Minyak sawit Malaysia dari 1 Juli sampai 15 Juli naik 3.8% menjadi 682,426 ton dari tanggal 1 Juni -15 Juni 2021 menurut Societe Generale de Surveillance pada hari Kamis.
  • Cuaca kering di AS dan Canada menyebabkan terganggunya panen kedelai dan canola sehingga harga minyak kedelai naik dan mempengaruhi harga minyak sawit.
  • Penyebab harga minyak sawit naik karena melemahnya ringgit, kenaikan harga minyak kedelai dan minyak sawit di Bursa Dalian dan kenaikan ekspor minyak sawit Malaysia membuat harga minyak sawit Kembali mencapai rekor.
  • Cuaca kering di AS melanda ladang kedelai di Midwest sehingga harga kedelai meningkat sementara produksi minyak sawit di Malaysia juga berkurang karena kekurangan buruh dan lockdown akibat virus corona.
  • Kurs Ringgit melemah 0.05% terhadap dolar setelah Malaysia melaporkan 13,215 kasus baru harian, sehingga harga minyak sawit Malaysia lebih murah untuk pembeli luar negeri.
  • Ekspor minyak sawit Malaysia selama 1 – 15 Juli naik 4.9% menjadi 684,615 per ton dari bulan lalu menurut AmSpec Agri Malaysia pada hari Kamis.
  • Harga minyak sawit naik karena produksi minyak sawit mengalami kesulitan mendapatkan pekerja, karena lockdown virus corona membuat terbatasnya pekerja, kekurangan pekerja di perkebunan sawit di saat musim panen membuat hasil panen yang dapat diambil berkurang , akibatnya diperkirakan produksi dari minyak sawit Juli turun.
  • Ekspor minyak sawit Indonesia naik 21.6% dari tahun lalu pada bulan yang sama di bulan Mei karena permintaan yang meningkat dari Pakistan dan beberapa negara Afrika dan negara Timur Tengah menurut the Indonesian Palm Oil Association.
  • Kurs ringgit melemah karena lockdown yang terjadi di Malaysia membuat penurunan GDP Malaysia di 2021, gangguan politik di Malaysia dan menguatnya dolar AS.
  • Pada data yang dikeluarkan oleh the Malaysian Palm Oil Board pada hari Senin bahwa persediaan naik 2.8% ke jumlah tertinggi 1.61 juta ton, lebih rendah dari perkiraan.
  • Persediaan lebih rendah 15% dari tahun lalu dan persediaan turun sampai kuartal ke tiga karena produksi diperkirakan berkurang.
  • Perkiraan persediaan akhir Juli naik 3.4% dari bulan lalu menjadi 1.67 juta ton dengan produksi yang meningkat 5% dan ekspor naik 2 %. Harga diperkirakan antara 3,400 – 4,000 ringgit, karena persediaan minyak nabati global sedikit menurut CGS- CIMB Research.
  • Pembelian dari Cina sedikit ke jumlah terendah tiga tahun dan India diperkirakan akan menaikkan pembelian di akhir Juli.
  • The US Departement of Agriculture memperkirakan produksi kedelai tidak berubah pada bulan Juli masih 4.4 milyar bushel, analis memperkirakan akan ada penurunan produksi karena cuaca yang tidak baik.
  • The Malaysian Palm Oil Association pada minggu ini memperkirakan produksi bulan Juni naik 1.6% dari bulan sebelumnya melemah 7.5% dari perkiraan survey Reuters
  • Dari permintaan AmInvestment Bank memperkiraan impor bulanan dari pembeli besar di India akan naik rata-rata 850,000 ton selama 3 bulan ke depan karena rendahnya pajak impor. Permintaan India diperkirakan akan naik pada kuartal ke empat karena selama ini permintaan berkurang akibat lockdown di saat pandemi covid 19.
  • Melemahnya ringgit, peningkatan panen, dan potensi turunnya persediaan Juli akan membuat harga minyak sawit bergerak di harga yang masih tinggi.
    Ringgit melemah 0.48% terhadap dolar sehingga harga minyak sawit murah bagi pembeli luar negeri.
  • India pada hari Rabu, 30 Juni 2021 menyatakan telah membebaskan untuk import minyak sawit olahan selama enam bulan.Pada awal minggu pajak impor dari minyak sawit India diturunkan 41.25%.
  • Indonesia juga menurunkan harga referensi dari Crude Palm Oil menjadi $1,094.15 per ton pada hari Rabu. Pada minggu lalu harga naik 2.8% kenaikan pertama dalam 3 minggu.
  • The Southern Peninsula Palm Oil Millers Association memperkirakan produksi selama 1 -25 Juni naik 6% dari bulan sebelumnya, turun dari kenaikan 13% pada 1 -20 Juni.
    Kantor Berita “Bernama “ melaporkan bahwa Pemerintah Malaysia diperkirakan akan melanjutkan lockdown setelah hari Senin untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, berita ini akan membuat konsumsi minyak nabati berkurang.
  • Pada minggu lalu, the US Supreme Court memberi kemudahan bagi kilang minyak kecil untuk tidak melakukan undang-undang yang mengharuskan mereka untuk memadukan etanol atau biofuel ke dalam produk mereka, sehingga hal ini membuat produsen biofuel kecewa.
  • Biaya restribusi ekspor minyak sawit Indonesia yang baru berlaku mulai 2 Juli demikian diumumkan Estate Crop Fund Agency pada hari Selasa turun dari $255 per ton menjadi $175 per ton. Penurunan biaya restribusi tidak akan mengganggu bahwa pemerintah Indonesia tetap akan mendukung mandat dari penggunaan biodiesel.

Harga minyak sawit akan ada di range 3,500-3,800 ringgit per ton dalam 3 bulan ke depan karena peningkatan produksi hanya meningkat sementara ekspor diperkirakan akan meningkat menurut the Malaysian Palm Oil Council (MPOC).
• Permintaan meningkat untuk pengiriman pada bulan Juni dan juga Juli terutama untuk CPO dan Olein, peningkatan permintaan membuat harga minyak sawit naik.
• Harga minyak sawit sempat naik karena Cina akan meningkatkan import pada kuartal ke 4 di 2021 dan kuartal ke 1 2022, didahului dengan perkiraan akan naiknya permintaan pada kuartal ke 3 tahun ini.
• Pajak ekspor Malaysia, negara produsen minyak sawit ke dua di dunia tetap 8% pada bulan Juli.
Kekhawatiran kekurangan pekerja yang bisa menggerakan naiknya harga:
• Harga minyak sawit diharapkan akan naik karena produksi minyak sawit Malaysia diperkirakan akan turun dan kekurangan pekerja akibat lockdown selama pandemi covid di Malaysia.
• Pandemi covid -19 yang berlangsung di Malaysia membuat berkurangnya pekerja di ladang sawit di Malaysia sehingga mengurangi produksi dari minyak sawit.
• Di Malaysia sudah melewati dua minggu pertama lockdown sejak 2 Juni dan lockdown tersebut akan diperpanjang sampai akhir Juni, dimana industri yang tidak penting akan ditutup, sehingga penerimaan pekerja asing ditunda karena pandemi covid gelombang ke tiga ini.
• Hal ini membuat perkebunan sawit kekurangan tenaga kerja sehingga produksi bisa berkurang antara 20 – 30% dari 40% area perkebunan sawit menurut Chief the Malaysian Palm Oil Association. Produksi berkurang terutama untuk perkebunan sawit yang kecil.
• Produksi tahun ini diperkirakan berkurang terutama pada tahun dimana panen dimulai sejak Juli dan seterusnya sehingga pada semester kedua perkiraan produksi sawit akan berkurang melanjutkan penurunan dari semester satu dimana produksi Januari – Mei lebih kecil 6 % dari tahun lalu.
• Para pekerja diperkebunan sawit Malaysia 70% adalah pekerja asing.
• Produksi sawit Malaysia diperkirakan turun menjadi 19 juta ton tahun ini, dibawah tahun 2020 sebesar 19.14 juta ton, sebelum pandemi produksi bisa mencapai 40 juta ton.
• Padahal pemerintah Malaysia sudah menyetujui penggunaan 32,000 pekerja asing namun hal ini tidak bisa dilakukan karena pandemi covid-19.
• Kerugian yang terjadi bagi petani sebesar 1 milyar ringgit (USD243 juta) perbulan pada tahun lalu karena kurangnya produksi, pada tahun ini diperkirakan bisa kekurangan 1.2 – 1.5 milyar ringgit per bulan karena naiknya harga minyak sawit dan kekurangan pekerja.
• Pajak ekspor Malaysia, negara produsen minyak sawit ke dua di dunia tetap 8% pada bulan Juli.

Kesimpulan :
Pada Minggu ini harga minyak sawit naik terus Kembali berada di harga diatas 4,000 ringgit setelah Laporan Persediaan dan Permintaan dari MPOB yang membuat harga minyak sawit naik karena peningkatan ekspor dan juga melemahnya ringgit dan juga kekurangan pekerja sehingga panen tidak dapat dilakukan, lockdown di Malaysia juga membuat kesulitan mendapatkan pekerja. Sementara di AS cuaca kering dan panas sehingga mengganggu tanaman kedelai, akibatnya harga kedelai meningkat dan juga mempengaruhi harga minyak sawit

Analisa tehnikal untuk minyak sawit dengan suppor 4,000 ringgit terus lanjut ke 3,930 ringgit sedangkan resistant pertama 4,150 ringgit berikut ke 4,160 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting
Editor : Asido.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here