Perbedaan Penduduk Miskin Ekstrem dengan Penduduk Miskin Kronis

0
292
Ilustrasi rumah tidak layak huni. FOTO : VIBIZMEDIA.COM/MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional menjelaskan penduduk sangat miskin adalah penduduk dengan pengeluaran di bawah 0,8 Garis Kemiskinan (GK). Penduduk menjadi miskin kronis apabila setidaknya 3 tahun berturut-turut miskin. Penduduk miskin ekstrem memiliki pengeluaran di bawah GK Internasional (1,90 USD PPP). Garis Kemiskinan Nasional bulan September 2020 adalah Rp458.947/kapita/bulan, setara dengan 2,52 USD PPP/hari.

Jumlah penduduk miskin ekstrem menurun tajam tiga tahun sebelum pandemi, yaitu rata-rata 2 juta per tahun. Namun demikian, jumlahnya masih tetap di atas penduduk sangat miskin (kronis). Karakteristik penduduk miskin ekstrem dan sangat miskin relatif serupa. Pada tahun 2020 Bappenas telah mengkaji perbedaan penduduk miskin ekstrem dan penduduk miskin kronis.

Dalam hal bantuan sosial, 71,8% penduduk miskin ekstrem sudah menerima setidaknya 1 bantuan sosial, namun hanya 29,3 % PKH, 21,5% PIP, 35,9% Bansos Pangan, 63,7% PBI-JKN. Sementara itu, 69.81% penduduk miskin kronis sudah menerima setidaknya 1 bantuan sosial, namun hanya 28,45 % PKH, 20,24% PIP, 32,09% Bansos Pangan, dan 61,46% PBI-JKN.

Dalam hal usia, lebih dari separuhnya atau sebanyak 54,7% penduduk miskin ekstrem termasuk usia muda dibawah 30 tahun, dan penduduk miskin kronis didominasi penduduk usia muda dengan usia dibawah 24 tahun sekitar 50,64%.

Dalam hal pendidikan, pendidikan tertinggi KRT penduduk miskin ekstrem adalah SD dengan jumlah 42,4%, dan tidak lulus SD sebanyak 30,5%. Sementara itu, pendidikan tertinggi KRT penduduk miskin kronis adalah SD sebanyak 41.46% dan tidak lulus SD sebanyak 28,09%.

Dalam hal tempat tinggal, 68,4% penduduk miskin ekstrem tinggal di desa, sisanya 31,7% tinggal di kota. Sementara itu, 61,41% penduduk miskin kronis tinggal di desa, sisanya 38,59% tinggal di kota.

Dalam hal pekerjaan, 73,5% penduduk miskin ektrem bekerja dengan status informal dan 26,5% bekerja di sektor formal. Tiga sektor terbesar penduduk miskin ekstrem bekerja adalah pertanian sebanyak 55,2%, perdagangan dan jasa 14,2% dan industri 10,9%.

Sebanyak 72,37 % penduduk miskin kronis bekerja dengan status informal dan 27,63% bekerja di sektor formal. Tiga sektor terbesar penduduk kronis bekerja adalah pertanian sebanyak 55,22%, perdagangan 14,03% dan industri 9,51%.

Dalam hal infrastruktur dasar, 39,1% Rumah Tangga penduduk miskin ekstrem tidak memiliki sanitasi yang layak, dan 47,1% Rumah Tangga masih tidak punya akses air minum layak. Sementara itu, 42,24% Rumah Tangga penduduk miskin kronis tidak memiliki sanitasi yang layak, dan 52,6% Rumah Tangga tidak punya akses air minum layak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here