Mendorong Pariwisata Untuk Kemakmuran Daerah

0
123
Kawasan Ulee Lheue Banda Aceh Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Unggulan (Foto: Kemkominfo)

(Vibizmedia – Kolom) Pariwisata adalah pergerakan manusia yang menginginkan pengalaman baru (experience) dengan segala sensasinya. Tanpa pergerakan manusia maka tidak ada permintaan (demand) bagi usaha pariwisata. Permasalahan utama pariwisata saat ini adalah adanya regulasi pembatasan pergerakan wisatawan karena penyebaran Covid 19 yang masih terus meningkat. Kekhawatiran wisatawan atas resiko penularan, konektivitas yang terbatas. Biaya perjalanan yang lebih tinggi (karantina, ticket, test Covid 19, asuransi dll), merupakan tantangan yang harus dipecahkan.

Saat ini terjadi penurunan pergerakan orang dan kegiatan dalam rangka berwisata maupun kegiatan bisnis. Mengakibatkan adanya penurunan penerimaan pajak Hotel dan Restoran di setiap Kabupaten/Kota yang pada umumnya di setiap Ibukota Provinsi merupakan 5 (lima) besar Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurunnya kebutuhan wisatawan mengakibatkan menurunnya permintaan terhadap transportasi, souvenir, organizer dan lain sebagainya. Menurunnya permintaan di sektor usaha hotel dan restoran, berdampak pada menurunnya permintaan kebutuhan hotel dan restoran. Baik kebutuhan bahan makanan, kebutuhan pendukung seperti hotel & restoran, amenities dan lain sebagainya. Mengakibatkan menurunnya permintaan kepada sektor usaha menengah kecil dan mikro (UMKM). Dimana saat ini sebenarnya sedang tumbuh di setiap wilayah di Indonesia dan menjadi bagian mata rantai pemenuhan kebutuhan barang dan jasa di hotel dan restoran.

Dalam tulisan ini dilakukan analisa atas dua daerah yang mengalami tekanan dalam industri pariwisata. Keduanya tetap memiliki strategi untuk mendorong pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Satu kabupaten Pemalang dan satu lagi kabupaten Minahasa Utara.

Kabupaten Pemalang

Kondisi pariwisata Kabupaten Pemalang akibat pandemi, mengalami beberapa tantangan seperti, jumlah kunjungan wisata yang mengalami penurunan, yang berdampak pada penurunan PAD retribusi pariwisata yang turun, dan okupansi hotel yang turun.

Kabupaten Pemalang sendiri memiliki beberapa potensi wisata seperti; Kawasan Pantai : Widuri, Muara Indah Asemdoyong, Blendung, Nyamplungsari, Kaliprau. Kawasan Dataran Rendah: Dewi Penggarit, Dewi Surajaya, Benowo Park, WIPPAS, Purana Farmland, Zatobay. Kawasan Dataran Tinggi: Dewi Cikendung, Bukit Gambangan, Telaga Silating, Curug Sibedil, Curug Bengkawah, Via Verrata Panjat Tebing, Igir Kandang, Bukit Tangkeban, Downhill Jurangmangu, Rafting, Bukit Janglangas, Gunung Gajah. Ragam Budaya dan Kuliner: Tari Silakupang, Sintren, Sedekah Bumi, Sedekah Laut, Nasi Grombyang, Lontong Dekem, Sate Loso, Apem Comal, Apem. Tantangan yang dihadapi: legal formal pengelola obyek wisata, sarana prasarana, sdm pariwisata, promosi.

Menghadapi kondisi pandemi saat ini, Pemalang tetap bersemangat dan memiliki beberapa strategi pengembangan pariwisata.

Pertama adalah strategi Dewi (Desa Wisata) ;Target 6 Desa Wisata Maju: Penggarit, Sikasur, Nyalembeng, Surajaya, Banyumudal, Mendelam. Kedua adalah strategi Desi (Desa Sinergi); Kerjasama antar desa dalam kabupaten; Kerjasama antar desa dengan pihak ketiga dalam Kabupaten ; Pengembangan kawasan pedesaan. Ketiga adalah strategi Koin (Kota Industri) yaitu pengembangan iklim penanaman modal; peningkatan kualitas pelayanan melalui kecepatan, kemudahan, kepastian dan transparansi proses perijinan. Terakhir adalah strategi Dedi (Desa Digital) melalui sistem informasi desa, layanan desa mandiri.

Kabupaten Pemalang menargetkan bahwa pada tahun 2021, pertumbuhan ekonomi akan naik dari minus 0,66% menjadi positif 4,5%, tingkat pengangguran turun dari 7,64% menjadi 6,7%, kemiskinan turun dari 16,02% menjadi 14,7%, pendapatan asli daerah retribusi pariwisata naik dari Rp.1,2 milyar menjadi Rp. 2,27 milyar. Nilai investasi naik dari Rp. 447 milyar menjadi Rp. 656 milyar.

Kabupaten Minahasa Utara

Minahasa Utara memiliki luas wilayah 1.059,24 km persegi dan panjang garis pantai 292,20 km. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Minhasa Utara 2015-2019 adalah 6,64%. Memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata Likupang, yang merupakan 1 dari 5 Destinasi Super Prioritas (DSP). Minahasa Utara dihuni oleh banyak etnis dan memiliki tradisi seni budaya yang beragam. Terdiri dari 46 Pulau, 10 Kecamatan, 125 Desa & 6 Kelurahan. Penduduk Minahasa Utara (Sensus 2020) sebanyak 224.993 jiwa. Memiliki angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 73,95, urutan ke-5 dari 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara.

Minahasa Utara memiliki beberapa strategi untuk mendorong pariwisata. Pertama mendatangkan investasi baik nasional dan investasi asing langsung (FDI) dengan memanfaatkan KEK DSP Likupang yang membutuhkan, chain hotel (jaringan hotel nasional / internasional), chain food dan pengembangan resort, infrastruktur serta berbagai proyek energi.

Kedua adalah melakukan pengembangan energi. Melalui solusi pengembangan energi yang inovatif, solusi hemat energi, panel surya Likupang merupakan yang terbesar di Indonesia dan pengembangan pariwisata tematik.

Ketiga adalah pengembangan sektor pertanian, agrowisata, permintaan untuk makanan dan masakan lokal, meningkatkan jaringan pemasok dan pembeli, pendekatan baru dan benih untuk pengembangan pertanian, akses pasar.

Keempat adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi strategi: rantai nilai pariwisata dan system terintegrasi, lingkungan ramah bisnis, konektivitas dan keterbukaan tingkat tinggi, penggunaan inovasi teknologi canggih, kemitraan kolektif.

Transformasi Bisnis Di Sektor Usaha Hotel Dan Restoran

Bisnis hotel dan restoran sebagai bagian industri pariwisata juga melakukan efisiensi sebagai dampak rendahnya occupancy. Adanya virtual meeting berdampak turunnya permintaan kegiatan meeting di hotel dan restoran. Kontribusi kegiatan meeting Pemerintah sebelum Pandemi COVID-19 terhadap occupancy hotel pada umumnya adalah 30-40% secara nasional. Penurunan occupancy hotel dan konsumen di restoran menjadi rangkaian permasalahan di setiap wilayah di Indonesia dan berdampak pada tenaga kerja. Dalam kondisi ini maka para pengusaha hotel, tidaklah tinggal diam, mereka melakukan beberapa transformasi bisnis untuk tetap mendorong usaha hotel dan restoran.

Standar Kesehatan Dan Keamanan. Dalam situasi Pandemi COVID-19, standar kesehatan dan keamanan menjadi penting untuk mendapatkan konsumen, khususnya usaha akomodasi dan restoran Informasi terkait standar Kesehatan akan menjadi poin utama dalam mempromosikan fasilitas akomodasi dan restoran.

Digitalisasi. Investasi tekhnologi menjadi pilihan utama guna dapat beradaptasi di masa Pandemi COVID-19 Untuk bisnis yang mengandalkan tatap muka langsung seperti di Industri Pariwisata khususnya hotel dan restoran berdampak pukulan telak, apalagi yang memiliki fasilitas ballroom dan berharap dari konsumen meeting, confrensi dan pameran.

Efisiensi. Banyak biaya yang akan terpotong dengan adanya transformasi digital, sebagai contoh adalah mudahnya melakukan meeting dengan siapapun dan dimanapun dengan adanya virtual meeting sehingga menghemat biaya perjalanan Teknologi membuat semuanya terasa dekat dan mudah untuk berkomunikasi dan berinteraksi

Lapangan Kerja. Kebutuhan tenaga kerja akan semakin sedikit; adanya virtual meeting akan mengurangi kebutuhan meeting pada hotel. Secara otomatis kebutuhan tenaga kerja akan berkurang. Kebutuhan tenaga kerja multitasking di sektor usaha pariwisata akan sangat dibutuhkan dengan adanya supply cukup besar dan demand yang rendah Perusahaan melakukan up-skilling kepada tenaga kerjanya guna beradaptasi dengan teknologi dan konsep multitasking employee.

Promosi Wisata Dalam Negeri

Pariwisata merupakan komponen penting dalam pembangunan ekonomi dan juga dalam pengentasan kemiskinan. Pandemi tidak menjadi penghalang untuk menjadi berhenti namun perlu untuk menciptakan lingkungan bisnis yang ramah guna menarik investasi pada sektor pariwisata. Berbagai kebijakan sebaiknya diarahkan pada produksi dan penggunaan energi terbarukan. Pembangunan pertanian tidak hanya memasok makanan, tetapi juga membantu melestarikan lingkungan hijau.

Untuk membantu sektor pariwisata pulih secepat mungkin, Indonesia harus fokus pada dua bidang penting. Pertama, mempromosikan pariwisata dalam negeri. Bukti dari banyak pasar menunjukkan bahwa perjalanan domestik telah pulih lebih cepat daripada perjalanan internasional, terutama di kalangan wisatawan muda yang menganggap diri mereka kurang rentan.

Berbeda dengan wisatawan mancanegara yang terkonsentrasi di Bali dan Nusa Tenggara Timur, mayoritas wisatawan domestik di Indonesia berkunjung ke Pulau Jawa. Untuk mendorong tingkat pariwisata domestik, pemerintah dan operator harus mempromosikan atraksi domestik yang kurang dikenal, seperti kawasan Danau Toba di Sumatera Utara, kawasan Mandalika di Nusa Tenggara Timur, dan Pantai Likupang di Sulawesi Utara. Diskon dan insentif lainnya juga dapat membantu memicu perjalanan domestik.

Indonesia juga dapat menggunakan jeda pengunjung yang tidak disengaja untuk meningkatkan infrastruktur wisatanya. Gangguan tersebut memberikan peluang, misalnya, untuk memperbaiki bandara, akomodasi, dan fasilitas lainnya. Lonjakan aktivitas digital yang dibawa oleh pandemi juga dapat digunakan untuk mempercepat adopsi teknologi baru oleh operator di sektor ini, dari sistem pemesanan online hingga analitik canggih yang dapat menawarkan informasi waktu nyata tentang aktivitas dan perilaku wisatawan.

Keseriusan perhatian pemerintah dalam menangani pemulihan pariwisata juga tidaklah main main, bagi para pelaku pariwisata dialokasikan dana sebesar Rp. 3.8 trilliun. Selain itu juga ada insentif tiket pesawat untuk 10 destinasi wisata sebesar Rp. 400 miliar dan masih ada lagi paket lain yang diberikan untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata. Semuanya ini dilakukan untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata Indonesia.

Dengan semakin banyaknya wisatawan Nusantara yang mengadakan perjalanan wisata ke destinasi wisata di Indonesia maka ini akan semakin menambah keyakinan kepada wisatawan dari manca negara yang setiap tahunnya bisa mencapai 16 juta orang dan membawa devisa sampai 21 milyar USD, sebuah jumlah yang sangat disayangkan jika sampai hilang karena akan berefek bukan saja bagi negara tetapi juga bagi para pelaku wisata.

Negeri Zamrud Katulistiwa ini memang kaya akan alamnya budaya dan keseniannya. Sangat disayangkan jika menjadi sepi dari kunjungan tamu yang datang. Kita dapat ikut mendukung semangat pemerintah dengan menjaga berbagai fasilitas yang ada di destinasi wisata. Kemudian tetap menerapkan protokol kesehatan, sebagai prioritas dalam ekonomi dan juga tentunya memanfaatkan media sosial untuk menginformasikan bagaimana keindahan alam kita yang sekarang sudah dengan memperhatikan cleanliness, healthy and safety (CHS).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here