Peran Farmasi Swasta Penuhi Ketersediaan Obat

0
590

(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah mengatakan sejak 1 Juni 2021 kebutuhan obat di tanah air meningkat 12 kali lipat dari biasanya yang dibutuhkan. Bagaimana dengan upaya perusahaan farmasi mengatasi hal ini?

Vidjongtius, Presiden Direktur PT Kalbe Farma, Tbk., saat berbincang dengan Vibizmedia mengatakan ada dua cara untuk mengatasinya, satu peningkatan kapasitas produksi, kedua pengadaan bahan baku yang dipercepat. Kalau perlu tambah lagi yang ketiga adalah distribusi ke seluruh Indonesia yang dipercepat. Ketiga hal yang sangat penting tersebut Kalbe sudah lakukan. Istilahnya adalah jemput bola. Memang ada beberapa bahan baku yang di luar negeri dimana negara-negara tersebut sedang lockdown, sehingga memang prosesnya agak lambat. Kalbe lakukan jemput bola misalnya dengan pesawat atau kargo supaya aktif mendapatkan bahan bakunya dan membawanya ke Indonesia sehingga bisa produksi dengan cepat, satu minggu kemudian atau dua minggu kemudian barang sudah ada. Negara Indonesia adalah negara kepulauan, jangan hanya di Jawa saja, yang di luar Jawa juga harus dipenuhi. Ini yang Kalbe lihat bagaimana jaringan distribusi ini menjadi penting sekali untuk sampai terjangkau ke seluruh pelosok.

Minggu lalu Presiden Jokowi sempat mengecek langsung ketersediaan obat Covid-19 disalah satu Apotek di Kota Bogor. Ada beberapa yang sudah lama kosong, seperti Oseltamivir dan Favipiravir dan juga vitamin D3 5000 ui juga tidak ada. Apa langkah dan strategi dari pihak Kalbe Farma maupun Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara nasional? Dan bagaimana distribusinya?

CEO Kalbe menyampaikan bahwa kalau kebutuhannya dalam waktu pendek mendadak meningkat sampai 10 kali lipat, tentunya jaringan distribusi tidak lagsung bisa siap. Jika seandainya ada persediaan pun, stock itu bisa langsungg termakan juga karena mendadak berlipat-lipat naiknya. Hal itu disadari Kalbe dengan pengadaan baku yang dipercepat, kapasitas produksi yang ditingkatkan dan juga distribusi yang dipercepat. Sehingga harapannya adalah semoga hal ini bisa segera teralokasi dengan leibh merata.

Pemerintah saat ini juga bekerja sama dengan GP Farmasi Indonesia terkait distribusi ke 12 ribu apotek aktif di seluruh Indonesia. Vidjongtius dalam wawancara dengan Vibizmedia juga menambahkan Kalbe termasuk di dalamnya, untuk membantu pemerintah juga distribusikan vaksin ke seluruh propinsi yang ditunjuk, termasuk juga obat-obat yang lain. Semuanya ini berpacu dengan waktu, orang sakit tidak boleh menunggu, harus secepat cepatnya. Kadang-kadang di lapagangan selalu ada masalah yang muncul, jadwal pengiriman, jadwal kapal kadang-kadang bisa meleset juga. Tapi kalau ada buffer stock yang cukup risiko ini bisa diminimalisir.

Saat ini, ada tiga obat yang belum bisa diproduksi dalam negeri dan katanya juga langka didunia karena demand yang tinggi, supply terbatas, yakni Remdesivir, Actemra, dan Gamaras, untuk penanganan Covid-19. Jadi masih impor. Tetapi ada wacana dari pemerintah sudah dalam proses untuk bisa membuat Remdesivir di dalam negeri, apakah Kalbe Farma turut terlibat, bagaimana mekanismenya?

Kita akan impor dulu karena impor akan mempercepat waktunya, baru akan dilanjutkan dengan transfer teknologi untuk produksi lokal, demikian disampaikan Vidjongtius pada Vibizmedia. Jadi ada dua tahap dalam hal ini.  Termasuk juga Favipiravir kalau itu Kalbe sudah produksi lokal, mereka impor bahan baku dan lakukan produksi di Indonesia.Tapi kalau Remdesivir masih produk jadi, tahap kedua dalam transfer teknologi sedang dipersiapkan. Kalbe lakukan hal ini sejalan dengan apa yang pemerintah sedang lakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here