Komoditas Minyak Sawit Penyumbang Dalam Kenaikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

0
272

(Vibiznews – Commodity) – Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, dan hasil dari minyak sawit ini memberikan kontribusi pada Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di kuartal ke dua.  Dari data BPS Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal ke dua naik dan kontribusi Tanaman Perkebunan tumbuh 0,33 persen diakibatkan oleh peningkatan produksi komoditas kelapa sawit karena didukung musim kemarau yang tidak ekstrim, pertambahan luas tanam yang mulai menghasilkan, serta pertumbuhan konsumsi domestik.

Perkiraan produksi minyak sawit Indonesia masih naik 1.5% menjadi 48 juta dari perkiraan sebelumnya, walaupun pandemi covid – 19 masih berlangsung di Indonesia dan diberlakukan PPKM di Jawa dan Bali hal ini tidak memberi dampak kepada produsen dari minyak sawit.

Perkebunan kelapa sawit Indonesia yang besar di luar Jawa dan Bali, di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Demikian juga dengan aktivitas ekspor di masa pandemi yang berlangsung tidak berdampak pada keberlangsungan aktivitas ekspor komoditas kelapa sawit semuanya masih berjalan normal menurut Wakil Ketua Umum III Gapki.

Target ekspor minyak sawit Indonesia sampai akhir tahun 2021 sebesar 30 –35 juta ton, naik dari tahun lalu sebesar 34 juta ton, dengan perincian 21.1 juta olahan minyak sawit, CPO 7.17 juta ton, oleokimia 3.87 juta ton.

Untuk meningkatkan ekspor minyak sawit Indonesia menetapkan penurunan harga referensi minyak sawit untuk bulan Agustus menjadi $1,048.62 perton sehingga pajak ekspor turun menjadi $93 per ton sedangkan untuk Crude Palm Oil biaya restribusi $175 per ton tidak berubah.

Tha Indonesian Palm Oil Association (GAPKI) mengatakan produksi minyak sawit akan terus dilakukan sekalipun masa pandemi, walaupun pengiriman akan terganggu sementara. Pengiriman pupuk dan peralatan tertunda di Jawa dan Sumatera.

Ekspor minyak sawit Indonesia naik 21.6% dari tahun lalu pada bulan yang sama di bulan Mei karena permintaan yang meningkat dari Pakistan dan beberapa negara Afrika dan negara Timur Tengah menurut the Indonesian Palm Oil Association.

Indonesia juga menurunkan harga referensi bulan Juli dari Crude Palm Oil menjadi $1,094.15 per ton pada hari Rabu 30 Juni 2021. Pada minggu lalu harga naik 2.8% kenaikan pertama dalam 3 minggu.

Harga referensi harian dari minyak sawit global dari Bursa Malaysia Derivative Exchange dan pergerakan harga pada minggu pertama awal bulan Agustus adalah sebagai berikut :

• Harga minyak sawit Oktober pada penutupan pasar hari Jumat 6 Agustus 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 57 ringgit atau 1.35% menjadi4,274 ringgit ($1,013.52)perton.

• Harga minyak sawit Oktober pada penutupan pasar hari Kamis 5 Agustus 2021 turun 78 ringgit atau 1.82% menjadi 4,213 ringgit ($999.53) perton setelah naik 3.6% pada hari sebelumnya

• Harga minyak sawit Oktober pada hari Rabu 4 Agustus 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik 150 ringgit atau 3.62% menjadi 4,293 ringgit ($1,017.30) per ton kenaikan dua hari berturut-turut.

Harga minyak sawit Oktober pada penutupan pasar hari Selasa tanggal 3 Agustus 2021 naik 24 ringgit atau 0.58% menjadi 4,144 ringgit ($982.46) per ton setelah turun pada 5.7% pada hari Senin

• Harga minyak sawit Oktober pada penutupan pasar hari Senin 2 Agustus 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun tajan 252 ringgit atau 5.77% menjadi 4,117 ringgit ($974.78) per ton

Pada seminggu di awal Agustus harga minyak sawit turun 2%.

Faktor-faktor yang menggerakan harga minyak sawit pada minggu ini:

  • Perkiraan ekspor Malaysia dari 1 – 10 Agustus turun 21% dari bulan lalu menurut para trader
  • Harga minyak mentah turun 4% karena menguatnya dolar AS dan kekhawatiran bahwa pandemi covid –19 akan membatasi pergerakan di Asia, terutama Cina sehingga sulit adanya kenaikan permintaan dari minyak mentah.
  • Melemahnya harga minyak mentah membuat pembelian biodiesel tidak menarik.
  • Persediaan dari Minyak sawit pada akhir Juli diperkirakan akan mencapai tertinggi 10 bulan karena turunnya ekspor tapi ada penurunan produksi.
  • Menurut survey reuters persediaan minyak sawit Malaysia di bulan Juli naik 1.6% menjadi 1.64 juta ton.
  • Laporan The Malaysian Palm Oil Association (MPOA) mengeluarkan perkiraan produksi bulan Juli turun 5.97% dari bulan lalu menjadi 1.51 juta ton
  • Hasil bulan Juli turun 4% menjadi 1.54 juta ton, sedangkan ekspor turun 4.2% menjadi 1.36 juta ton.
  • Ekspor terganggu oleh harga minyak nabati yang tinggi sehingga permintaan sedikit ditambah dengan kenaikan pasien positif Covid –19 pada beberapa negara.
  • Refinitiv Commodities Research menurunkan perkiraan produksi minyak sawit Malaysia di 2020/21 menjadi 18.2 juta ton turun 1% dari perkiraan sebelumnya karena kekurangan pekerja karena lockdown yang berlanjut

Kesimpulan :

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, sehingga pergerakan harga dipengaruhi oleh produksi dan ekspor Indonesia, namun referensi harga masih di Bursa Malaysia.

Harga komoditas makanan  minyak kelapa sawit,  di pasar internasional pada Triwulan 2-2021 mengalami peningkatan baik secara (q-to-q) maupun (y-on-y).

Pasar sedang menantikan Laporan Bulanan Persediaan dan Permintaan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada tanggal 11 Agustus ini.

Dengan aktivitas produksi dan ekspor yang masih berjalan membuat negara-negara pembeli melakukan pembelian dengan Indonesia, karena pajak ekspor lebih murah untuk minyak sawit olahan, sedangkan untuk CPO Indonesia masih memberikan pajak yang lebih tinggi sehingga harganya lebih mahal, sehingga eksportir memilih membeli CPO di Malaysia.

Produksi Malaysia terhambat karena tidak ada tenaga kerja karena lockdown, dan tenaga kerja asing yang sebelum covid bekerja di ladang sawit tidak lagi bisa bekerja.

Indonesia masih memiliki keuntungan dari permintaan dalam negeri minyak sawit sehingga permintaan masih tinggi, pabrik-pabrik minyak goreng, dan bahan makanan, juga pabrik-pabrik sabun masih menggunakan minyak sawit.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit support pertama 4,190 ringgit, kemudian ke 4,090 ringgit sedangkan resistant pertama 4,370 ringgit, kemudian ke 4,480 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting

Editor : Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here