ESDM: Lembaga Keuangan Pemerintah Dilibatkan di Proyek Energi Hijau

0
108
Ilustrasi Pembangkit EBT (Foto: ESDM)

(Vibizmedia – Industry) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam upaya  mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025, membuka peluang bagi lembaga keuangan untuk terlibat dalam proyek energi hijau atau ramah lingkungan.

Hal ini disampaikan oleh Menteri ESDM, Arifin Tasrif, dalam keterangan tertulis pada Rabu (11/8/2021).

Menurut Arifin, skema pembiayaan infrastruktur proyek energi hijau dapat melalui beberapa alternatif mulai dari investasi swasta, kerja sama dengan badan usaha, penyertaan modal negara, hingga melibatkan pendanaan daerah.

“Komitmen dari perusahaan-perusahaan akan memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk berkolaborasi dalam transisi energi baru terbarukan sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai netral karbon di sektor energi 2060 akan lebih cepat,” kata Afirin.

Dalam mengakselerasi transisi energi, pemerintah mendorong terwujudnya kolaborasi yang inovatif. Kerja sama itu diharapkan bisa membangun solusi kebijakan, model bisnis dan keuangan yang dapat menciptakan iklim pendanaan dan investasi untuk EBT yang kondusif.

“Pemerintah juga telah memberikan insentif fiskal dan non-fiskal, seperti tax allowance, fasilitasi bea masuk, serta tax holiday. Kami terus berusaha untuk dapat memberikan bentuk-bentuk insentif dan instrumen keuangan baru dalam meningkatkan minat investor,” ujar Arifin.

Indonesia telah mengadopsi ekonomi berkelanjutan dalam UU No.16 /2016 tentang Pengesahan Paris Agreement. Selain dukungan fiskal dan non-fiskal, kata Arifin, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan berbagai regulasi, di antaranya Peraturan OJK Nomor 51 Tahun 2017 tentang penerapan keuangan berkelanjutan bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik.

Implementasi pembiayaan berkelanjutan sudah diterapkan pada delapan bank, dilanjutkan dengan bergabungnya lima bank lain. Saat ini penyaluran portofolio hijau perbankan telah mencapai Rp809,75 triliun.

Ada juga penerbitan Green Bond PT Sarana Multi Infrastruktur senilai 500 miliar dolar AS, indeks saham Sustainable and Responsible Investment (SRI KEHATI) juga telah memiliki dana Rp2,5 triliun, serta berbagai implementasi lainnya.

Pemerintah juga telah menerbitkan peta jalan keuangan berkelanjutan tahap II untuk periode 2021-2025, sebagai kerangka acuan agar lembaga keuangan bisa berperan aktif terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Hingga akhir 2020, realisasi pengembangan energi baru dan terbarukan tercatat masih 11,2 persen yang terdiri atas 72 gigawatt kapasitas listrik terpasang,” ungkapnya.

Angka realisasi tersebut masih jauh dari target bauran 23 persen yang dicanangkan pada 2025, sehingga masih memerlukan penambahan pembangkit energi hijau baru dalam empat tahun ke depan.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here