Prof. Nidom: Vaksin Nusantara Bisa Tutupi Rendahnya Efikasi Vaksin Konvensional

0
412

(Vibizmedia – Health) Dalam wawancara eksklusif Vibiz Media dengan Prof. Chairul Anwar Nidom,M.S.,drh. yang merupakan ketua Dewan PNF (Prof. Nidom Foundation), Vibiz Media berkesempatan mendapatkan penjelasan mengenai vaksin konvensional dan vaksin Nusantara.

Prof. Nidom yang turut terlibat dalam  meneliti vaksin Nusantara menjelasan bahwa vaksin konvensional yang saat ini digunakan di Indonesia adalah vaksin yang membentuk antibodi poliklonal.

Bagaimana Mekanisme Bekerjanya Antibodi Poliklonal?

Prof. Nidom menjelaskan bahwa pemahaman poliklonal artinya adalah satu virus atau satu sheet vaksin bisa membentuk macam-macam antibodi, membentuk sub-sub poliklonal, sesuai dengan bagian tubuh yang mempunyai epitope. Epitope adalah situs antigen yang berikatan atau bersentuhan dengan antibodi. Bagian ini mempunyai daya rangsang membentuk imunogenitas.  Antibodi yang dihasilkan dapat berikatan dengan lebih dari satu epitope  sehingga antibodinya bermacam-macam.

Kebetulan virus SARS-COV-2  ini mempunyai suatu  bagian dari tubuhnya yang disebut ADE (Antibody Dependent Enhancement), dimana  ketika ADE disentuh ia akan merubah struktur virus itu sendiri.  Karena ada berbagai macam varian di alam maka ditambahkan kedalam sheet vaksin itu  varian satu, varian dua, varian tiga dijadikan satu sesuai dengan yang ada di alam, itu yang nanti akan membentuk antibodi poliklonal, dengan harapan menyebar jaring mana yang kena. Tetapi problemnya adalah untuk mengganti atau menambahkan satu varian ke dalam vaksin konvensional  ini tidak sederhana, tidak hanya semudah disuntik, ia harus melakukan kajian, diuji dari awal.

Nah, salah satu kelebihan vaksin  Nusantara ada disini. Jadi ada perubahan cepat  di dalam alam, timbul varian alam yang baru maka  ia dengan cepat menghasilkan suatu protein khusus ditambahkan ke dalam sebuah core vaksin, hanya butuh waktu 30 hingga 40 hari. Sementara vaksin konvensional bisa membutuhkan waktu bulanan, belum lagi masuk ke lembaga BPOM untuk mendapatkan ijinnya.  Prof. Nidom mengingatkan bahwa bagaimanapun, vaksin itu racun. Pada prinsipnya vaksin itu bukan makanan tapi racun,  karena itu perlu ada uji toksisitas. Setiap campuran yang diberikan akan menimbulkan efek reaksi satu sama lain. Oleh karena itu harus diuji toksisitasnya. Bagaimanapun manusia tidak boleh jadi korban dari kelalaian teknologi.

Sedangkan bila dibandingkan dengan Terapi Plasma Konvalesen (TPK), dijelaskan bahwa TPK  adalah untuk yang sakit COVID-19, bukan untuk pencegahan. Terapi plasma konvalesen adalah cara bypass,  asal memang betul2 antibodi yang mau disuntikkan adalah yang sama dengan tubuh orang itu. Akan lebih berhasil kalau virus  dari orang yang sakit yang membutuhkan pengobatan, diuji dengan antibodi yang ada yang mau dimasukkan, efikasinya pasti lebih besar. Sementara untuk preventif, yang sama dengan TPK ini, skemanya ada di vaksin Nusantara. Jadi menurut Prof. Nidom, vaksin Nusantara ini sudah mendekati aspek science. Prof. Nidom pun sudah menguji dari kelompok relawan yang dari Surabaya dan Semarang. Yang di Semarang memasuki phase satu.

Prof. Nidom mengatakan pendapatnya bahwa minimal vaksin Nusantara bisa jadi pelengkap dari vaksin konvensional. Tidak boleh mengatakan ini lebih baik., Berhubung vaksin konvensional itu efikasinya sangat rendah dalam menghadapi varian, maka hal ini bisa ditutup oleh vaksin Nusantara dan itu dapat mengatasi varian dalam 30-40 hari sudah bisa. Di PNF sudah ada SDM yang bisa menghasilkan antigen dari protein S yang sesuai karakter  kota maupun karakter variannya. PNF mengambil virus dari Surabaya, varian delta dan digunakan untuk antigen dan sekarang masih tergantung dari salah satu industri di amrik tapi sebetulnya bisa dilakukan disini dan ada peluang untuk itu.  Sehingga dengan demikian diharapkan, minimal vaksin Nusantara kelak akan melengkapi vaksin konvensional.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here