Keuntungan Dari Kenaikan Harga Minyak Sawit Bagi Perekonomian Indonesia

0
99

(Vibizmedia – Commodity) – Indonesia, negara penghasil sawit terbesar di dunia, pergerakan harga dari sawit yang terus meningkat memberi keuntungan bagi perekonomian Indonesia, sekalipun masa pandemi terjadi harga komoditas sawit ini meningkat.

Pergerakan harga minyak sawit selama pandemi berlangsung 1 ½ tahun terus melaju naik, kenaikan yang terjadi sejak dimulainya pandemi pada Maret 2020 sampai akhir Juli 120%.

Kenaikan harga minyak sawit ini membawa kontribusi pada Kenaikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 0.33% telah dibahas pada kolom minggu lalu.

Selain itu kenaikan harga minyak sawit membuat perusahaan perkebunan dan industri dari sawit mengalami kenaikan harga saham setelah melaporkan keuntungannya karena kenaikan dari harga minyak sawit.

Sekarang mari kita lihat pergerakan harga dari minyak sawit dari Desember 2019 sampai Juli 2021

Dari grafik terlihat pergerakan harga sawit mengalami 3 gelombang selama 1 ½ tahun ini dengan tren yang terus meningkat.

Gelombang ke 1 tren penurunan dari bulan Desember 2019 sampai September 2020, pada awal pandemi pertama, perekonomian dunia mengalami penurunan, banyak pergerakan ekonomi menurun, permintaan akan minyak sawit menurun mengikuti penurunan permintaan bahan bakar dan makanan.

Harga terendah pada bulan April 2020 lalu harga terus meningkat dari September 2020 dan seterusnya.

Gelombang ke 2 Namun pergerakan harga minyak sawit kembali naik dimulai pada akhir September 2020 sampai puncaknya pada Maret 2021, Harga tertinggi di Bulan Maret 2021

Harga Minyak sawit 12 Maret 2021 naik 4,125 ringgit ($1,000.73) per ton di Bursa Malaysia Derivative Exchange, harga minyak sawit naik ke harga tertinggi 13 tahun pada pertengah pasar di 4,132 ringgit. Pada bulan Maret 2021 satu tahun setelah pandemi Covid 19 dimulai di Indonesia kenaikan harganya 93% dari harga terendah di April 2020.

kenaikan yang terjadi saat ini karena :

Penurunan dari penularan covid sehingga perekonomian mulai dibuka kembali, permintaan akan bahan bakar dan permintaan minyak nabati meningkat

Cuaca buruk terjadi La Nina, di Asia menyebabkan banjir

Di Malaysia kekurangan tenaga pekerja perkebunan sawit, panen sawit tidak bisa diambil, tenaga kerja asing sudah kembali ke negara asal karena pandemi covid, produksi turun di Malaysia, persediaan juga turun.

Cuaca buruk di AS, cuaca dingin yang rendah, sehingga produksi kedelai berkurang dan di Amerika Latin juga cuaca kering berlangsung produksi kedelai berkurang. Sehingga harga minyak kedelai juga menjadi tinggi, dan mempengaruhi harga minyak sawit sebagai minyak nabati saingan ikut naik.

Gelombang 3 terjadi penurunan yang sebentar dari April sampai Juni, karena pandemi covid delta di India negara pengimpor minyak sawit terbesar di dunia, India menghentikan impornya dan melakukan impor kembali pada bulan Juni.

Harga minyak sawit di bulan Juli & Agustus kembali naik .

Harga minyak sawit penutupan pasar hari Selasa 18 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik 215 ringgit (5.07%) menjadi 4,457 ringgit ($1,080.48) per ton, harga tertinggi 13 tahun.

Pergerakan Kenaikan harga minyak sawit bagi Indonesia, membawa keuntungan bagi emiten-emiten sawit terutama emiten yang bergerak dari hulu sampai ke hilir, yaitu perusahaan yang memiliki perkebunan sawit dan sekaligus memiliki industri berbahan baku sawit. Perusahaan-perusahaan ini telah melaporkan labanya yang mendapatkan keuntungan karena harga minyak sawit yang tinggi.

Pergerakan harga saham basis sawit di Indonesia :

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2021, emiten bersandi AALI ini mencetak pendapatan sebesar Rp10,83 triliun naik 1,75 triliun atau 19,28 persen dibandingkan dengan Rp9,08 triliun pada semester pertama tahun lalu.

Beban pokok pendapatan juga turut meningkat tetapi tidak sebesar kenaikan pendapatannya, perseroan mencatat beban pokok sebesar Rp8,61 triliun naik dari Rp7,77 triliun pada semester I/2020.

Dengan demikian, laba periode berjalan sebesar Rp695,18 miliar naik dari Rp408,46 miliar. Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar Rp649,34 miliar naik 65,7 persen dari Rp391,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Untuk kinerja sahamnya, pagi ini saham AALI dibuka sama dengan harga penutupannya akhir pecan lalu, di Rp.8475 per lembar. Kemudian bergerak dalam rentang Rp.8.350 – Rp.8550 dan ditutup merosot di akhir Sesi I siang ini, sebesar 0.59& atau 50 poin ke harga Rp.8425 per lembar. Dan untuk kinerja saham di sepanjang tahun ini, telah terkoreksi sebesar 31.44% atau 3875 poin

2. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP)

Lababersih pada pertengahan tahun ini Rp 219,000 milyar pada akhir Juni,

naik dari kerugian 300,81 milyar pada periode yang sama tahun lalu.

Pada perdagangan minggu lalu 13 Agustus naik 1.77% ke level Rp 460/saham dalam seminggu naik 5,55 % dan selama sebulan terakhir meningkat 11,65% dan tumbuh 9,52% sejak awal tahun.

3. PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia (LSIP)

Laba bersih pada pertengahan tahun ini naik 445% menjadi Rp501,22 milyar pada akhir Juni 2021 naik dari tahun lalu pada periode yang sama sebesar Rp 91,99 milyar.

Pada Jumat 13 Agustus turun 3.02% ke level Rp 1.125 per saham dengan kapitalisasi Rp 7.71 trilyun. Dalam seminggu ini naik 4,17% selama sebulan terakhir meningkat 5,14% dan pertumbuhan sejak awal tahun 19,68%

Kesimpulan :

Indonesia adalah negara penghasil terbesar minyak sawit dunia, dan perusahaan-perusahaan dari konglomerat pabrik minyak sawit dan industri minyak goreng ada di Indonesia, sekalipun harga minyak sawit tinggi di Malaysia,

Keuntungan yang didapat dari pasar minyak sawit :

  • Minyak sawit di pasar fisik, dari perkebunan sawit yang luas di Indonesia
  • Industri minyak goreng dan perusahaan sabun, pasta gigi, dan lain-lain
  • Biodiesel,menggantikan bensin dan minyak mentah import, dianjurkan untuk mengganti bahan bakar minyak mentah yang semakin langka
  • Keuntungan yang tidak langsung adalah dari perdagangan pasar saham
  • Keuntungan perdagangan di pasar berjangka.

Jadi di masa pandemi ini Indonesia masih mendapatkan keuntungan dari  kenaikan harga sawit.

Harga minyak sawit  masih menunjukan tren  kenaikannya, terutama dari harga kenaikan harga minyak nabati lain, faktor  cuaca dan pandemi covid delta.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit dengan support pertama 4,320 ringgit kemudian ke 4,300 ringgit sedangkan resistant pertama di 4,520 ringgit dan berikut ke 4,580 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting

Editor : Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here