Teknologi Sumber Disrupsi

0
620
Ilustrasi pengisian kendaraan listrik umum. FOTO: BPPT

(Vibizmedia-Kolom) Bisa dikatakan masyarakat Indonesia saat ini sudah menjadi warga digital, setelah masuk dalam tahapan baru masyarakat informasi. Sebagai catatan, pengguna internet per Januari 2021 lalu, sudah mencapai 202,6 juta atau 73,7% dari populasi 274,9 juta (we are social).

Tapi tidak dipungkiri, Indonesia masih menjadi konsumen teknologi yang bergantung kepada negara lain. Di satu sisi teknologi adalah kunci dalam pengelolaan dan hilirisasi berbagai sumber daya, baik alam maupun manusia, sehingga membawa nilai tambah dan peluang kerja.

Masa pandemi Covid-19 ini, menyebabkan banyak pengetahuan dan keterampilan menjadi tidak relevan lagi atau telah menjadi usang, karena cenderung konvensional. Bersamaan dengan itu, pengetahuan baru berkembang, insan inovator bermunculan, sehingga menciptakan pekerjaan baru, yang tentunya lebih mudah dan cepat. Mau berinovasi, prosedurnya ruwet sehingga kecapekan berputar-putar dan inovasi jadi hilang. Kedepan, bukan negara kaya yang mengalahkan negara miskin, bukan negara adidaya mengalahkan negara kecil. Tapi negara yang cepat, akan kalahkan negara yang lambat, tegas Presiden Jokowi dalam beberapa kali kesempatan beberapa waktu yang lalu.

Hadirnya teknologi digital, membuat perubahan besar secara fundamental, termasuk mengubah sistem yang terjadi di Indonesia maupun global. Menggeser aktivitas yang rumit menjadi sederhana, dengan otomatisasi, disinilah muncul disrupsi teknologi digital. Kegiatan yang dulunya dilakukan secara manual kini bisa dilakukan secara otomatis, tentunya dengan bantuan software.

Sebelum pandemi, digitalisasi adalah sebuah tantangan, sulit untuk diterapkan, kecuali terdesak. Sebagai contoh, dalam urusan perkantoran, kegiatan yang berurusan dengan administrasi. Pandemi memaksa dapat bekerja dari rumah, bukan dari kantor lagi, cegah kerumunan dan kurangi mobilitas. Tapi pekerjaan harus tetap berjalan, sehingga hampir semua bergantung pada digital, mulai dari dokumen, tanda tangan dan juga waktu kerja.

Selain itu, hampir semua aktivitas masyarakat, sehari-hari gunakan teknologi digital, mulai dari komunikasi lewat platform meeting, pembayaran (cashless), moda transportasi, transaksi jual-beli, dan proses belajar-mengajar. Berkat hadirnya teknologi, banyak industri baru yang bermunculan dan pengaruhnya hingga global.

Disisi lainnya, disrupsi teknologi juga bisa menjadi pisau bermata dua. Selain menggairahkan dan menciptakan peluang baru, tapi jangan lupa bisa juga menjadi ancaman bagi flow yang ada. Contoh sederhana, kamera foto analog, bisa digantikan dengan adanya smartphone yang memiliki kualitas gambar yang hampir sama dengan kamera analog, juga mudah untuk dibawa dan langsung bisa mengirimkan hasilnya secara real time.

Rangkaian disrupsi banyak terjadi saat pandemi dan menambah disrupsi yang sebelumnya dipicu revolusi industri 4.0, yakni perubahan lanskap sosial budaya, ekonomi, politik ditambah teknologi cloud computing, internet of things, artificial intelligence, big-data analytics, advanced robotics, hingga virtual reality telah membawa perubahan di semua bidang.

Kita harus akui sekarang, teknologi telah menjadi master disrupsi. e-Commerce muncul di dunia perdagangan, fintech dalam sistem perbankan, healthtech dalam dunia kedokteran dan farmasi, edutech pada sistem pendidikan, serta recthtech dalam bidang professional hukum.

Teknologi paling dasar perkuat edutech dengan memanfaatkan teknologi digital yang mampu memfasilitasi mahasiswa belajar kepada siapa pun dan dimana pun. Kalau dalam institusi pendidikan formal saat ini, dinilai belum optimal membekali siswa dengan keterampilan praktis. Padahal keterampilan itu menjadi modal mengembangkan diri secara mandiri untuk masuk dunia kerja.

Institusi pendidikan informal, hadir mengisi celah tersebut. Paradigma pendidikan sudah bergeser. Guru tidak lagi terbatas pada orang tua. Orang muda pun kini bisa mengajar. Metode mengajar orang muda dinilai bisa lebih segar dan relevan dengan konteks pelajar masa kini, disamping itu juga bisa langsung belajar dengan pelaku industri, untuk dapat difasilitasi.

Untuk memecahkan masalah-masalah sosial, perlu teknologi dan inovasi secara berkelanjutan, sebab pengetahuan dan keterampilan yang hebat di masa kini, belum tentu dibutuhkan lagi dalam lima tahun atau sepuluh tahun ke depan. Harus menguasai pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk zamannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here