Harga CPO Naik, Kinerja Emiten Kelapa Sawit 6M21: SIMP (Salim Group) dan LSIP (Lonsum)

0
89

(Vibizmedia – IDX Stocks) – Selama April sampai dengan Juni 2021 (Q2 2021), beberapa perusahaan kelapa sawit mengalami perubahan performa apabila dibandingkan dengan Q2 2020.
Berikut adalah rinciannya:

1. Saham SIMP – PT Salim Ivomas Pratama Tbk.

Laba bersih Salim Ivomas Pratama berbalik dari rugi menjadi untung sebesar 113 miliar rupiah pada Q2 2021 (YoY). Hal ini didorong oleh peningkatan pendapatan sebesar 19,7% dan penurunan beban keuangan sebesar 23,4%.

Sehingga, secara kumulatif pada 6 bulan pertama tahun 2021 (6M21), laba perusahaan naik dan berbalik untung 172,8% menjadi 219 miliar rupiah. Dan kenaikan ini didukung oleh meningkatnya pendapatan pada segmen minyak dan lemak nabati sebesar 34,6% dan perkebunan sebesar 29,4 persen.

Harga crude palm oil (CPO) yang membaik menjadi penopang kinerja emiten sawit Grup Salim. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) mencatat kenaikan penjualan 30,42% secara tahunan menjadi Rp 8,96 triliun di semester pertama tahun ini.

Harga jual rata-rata CPO Salim Ivomas naik 26% secara tahunan atau year on year (yoy). Sedangkan harga jual rata-rata palm kernel sebesar 62% secara tahunan.

Di sisi lain, produksi tandan buat segar SIMP turun 3% menjadi 1,36 juta ton. Produksi CPO Salim Ivomas turun 1% menjadi 345.000 ton. Sedangkan volume penjualan CPO turun 1% menjadi 343.000 ton. “Grup SIMP meraih kinerja keuangan yang positif seiring kenaikan harga jual rata-rata produk sawit dan produk minyak dan lemak nabati, kenaikan volume penjualan produk minyak dan lemak nabati, serta upaya-upaya kami dalam pengendalian biaya dan efisiensi,” ungkap Mark Wakeford, Direktur Utama Salim Ivomas dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, beberapa pekan lalu.

Kenaikan harga jual yang diiringi efisiensi menyebabkan laba kotor Salim Ivomas melonjak 109% menjadi Rp 2,06 triliun. Salim Ivomas bahkan mampu membalikkan kerugian menjadi laba Rp 219 miliar di semester pertama tahun ini. Enam bulan pertama tahun lalu, SIMP masih mencatat rugi bersih Rp 300,81 miliar.

Mark mengungkapkan bahwa pihaknya akan fokus memprioritaskan belanja modal pada aspek-aspek yang memiliki potensi pertumbuhan dan meningkatkan pengendalian biaya dan efisiensi. SIMP juga akan menciptakan inovasi untuk peningkatan produktivitas perkebunan serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan karyawan selama masa pandemi.

Untuk pergerakan sahamnya, SIMP dalam satu minggu terakhir bergerak dalam rentang 452 – 424 dan ditutup stagnan di harga Rp.428 per lembar pada akhir pekan lalu. Saham SIMP telah turun sebesar 1.83% dalam satu bulan terakhir, lebih rendah dari koreksi IHSG yang sebesar 0.52 persen.

Dan saham ini masih dinilai murah karena memiliki PBV sebesar 0.45 kali sementara PER nya 28.90 kali yang dinilai kurang bagus. Return on Equity adalah 1.57, juga masih dibawah harapan.

2. Saham LSIP – PT London Sumatra Indonesia Tbk

Laba bersih London Sumatra Indonesia berbalik tumbuh menjadi 204 miliar rupiah pada Q2 2021. Hal ini didorong oleh peningkatan pendapatan sebesar 29,8% YoY dan penurunan
beban penjualan sebesar 29,1 persen.

Sehingga, secara kumulatif pada 6 bulan pertama tahun 2021 (6M21), laba perusahaan juga meningkat menjadi 501 miliar rupiah, melesat sebesar 444,9%. Kenaikan ini didukung oleh meningkatnya pendapatan pada segmen minyak kelapa sawit, 34,4% serta inti sawit dan produk terkait, 74,1%. Kerugian atas perubahan nilai wajar aset biologis juga dapat
Ditekan sampai 90,4 persen.

Pertumbuhan ini disebabkan oleh naiknya volume penjualan dan harga jual rata-rata (ASP), bersamaan juga dengan pengendalian biaya serta efisiensi di sejumlah pos.

Kinerja keuangan emiten sawit Grup Salim membaik hingga tengah tahun ini. Laba bersih PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau yang kerap dikenal dengan Lonsum melonjak 444,86% menjadi Rp 501,22 miliar di semester pertama tahun ini.

Laba Lonsum tahun lalu hanya Rp 91,99 miliar. Lonjakan laba ini terutama disebabkan oleh penjualan yang meningkat pesat. Lonsum mencetak kenaikan penjualan 39,74% secara tahunan menjadi Rp 2,18 triliun di semester pertama tahun ini. “Lonsum meraih kinerja keuangan yang kuat pada semester pertama 2021 terutama seiring naiknya volume penjualan dan harga jual rata-rata produk kelapa sawit serta didukung oleh upaya-upaya dalam pengendalian biaya dan efisiensi,” ungkap Benny Tjoeng, Presiden Direktur Lonsum dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), beberapa pekan lalu.

Harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) crude palm oil (CPO) Lonsum naik 25% secara tahunan atau year on year (yoy). Sedangkan harga jual rata-rata palm kernel melonjak 56% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan harga jual yang diiringi efisiensi menyebabkan laba kotor London Sumatra melonjak 173,43% menjadi Rp 755 miliar. Benny mengungkapkan Lonsum mempertahankan posisi keuangan yang sehat dengan total aset Rp 11,61 triliun.

Angka kas dan setara kas LSIP Rp 2,69 triliun. Bahkan, emiten sawit ini tidak memiliki utang bank hingga 30 Juni 2021. Benny menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat posisi keuangan, mengendalikan biaya efisiensi dan meningkatkan produktivitas. Lonsum juga akan memprioritaskan belanja modal pada aspek-aspek yang berpotensi memiliki pertumbuhan.

Untuk pergerakan harga saham LSIP pada akhir pekan lalu, ditutup melonjak 1.38% atau 15 poin ke harga Rp1105 per lembar dan untuk kinerja dalam satu bulan terakhir bergerak dalam rentang 1160 – 1040 dan telah melonjak 25 poin atau 2.31%, lebih besar dari kinerja IHSG yang telah terkoreksi sebesar 0.52 persen.

Untuk data-data fundamental harga saham ini adalah, nilai PER adalah 10.83 sementara bila dilhat dari PBV adalah 0.81 kali maka harga saham LSIP dinilai masih murah sementara nilai ROEnya hanya 9.50 kali.

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here