Transisi Vaksin Merah Putih Menuju Skala Industri Sedang Dilakukan

1
110
Prof. dr., Amin Soebandrio. Ph.D, Sp.MK : Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

(Vibizmedia – Kolom) Agustus Tahun 2020 yang lalu Vibizmedia mewawancarai Prof. Bambang Brodjonegoro, Menristek saat itu. Vibiz Media berkesempatan untuk memastikan perkembangan vaksin Merah Putih yang lebih tepat. Prof. Bambang Brodjonegoro menyampaikan secara definisi, Vaksin Merah Putih adalah vaksin yang bibitnya dikembangkan di Indonesia dengan menggunakan isolat virus yang bertransmisi ada di Indonesia dan nantinya akan diproduksi pabrik di Indonesia.

Saat ini ada enam platform yang berjalan secara paralel: Lembaga Biologi Molekuler dengan platform protein rekombinan, Universitas Airlangga dengan platform Adenovirus dan inactivity virus, Universitas Indonesia dengan platform DNA dan m-RNA, Universitas Gajah Mada dengan platform protein rekombinan, LIPI dengan platform protein rekombinan, Institut Teknologi Bandung dengan platform Adenovirus.

Keenamnya mempunyai start yang berbeda. Yang pertama adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang dimulai pada bulan April 2020. Dalam sejarah, Indonesia belum pernah mengembangkan vaksin dari hulu ke hilir. Ini adalah kali pertama Indonesia melakukan pengembangan vaksin dari nol. Mulai dengan mencoba mengenali virusnya, mencoba membuat vaksinnya dan diproduksi di Indonesia. Vaksin dari Biopharma selama ini fokus pada manufaktur sedangkan R&D-nya dari pihak luar. Ini kali pertama untuk COVID-19, sehingga dalam perjalanannya banyak gangguan dan permasalahan yang timbul. Yang sulit adalah memastikan Biopharma siap dalam memproduksinya.

Dari keenam platform, ada tiga yang relatif tercepat yaitu dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia. Dari Eijkman bibit (seed) vaksin akan diberikan pada Biopharma pada akhir Maret 2021. Diharapkan setelah itu bisa berproses di sisi hilirnya. Bagi Biopharma ini merupakan hal yang baru dan mereka memerlukan waktu lagi untuk melakukan optimasi dari unit vaksin yang diterima sampai nanti bisa melakukan scale up hingga melakukan uji klinis 1, 2, 3 dengan kerjasama BPOM selama 8 sampai 9 bulan. Diharapkan Vaksin Merah putih bisa diproduksi paling cepat pada awal 2022.

September 2021 Vibizmedia kembali melakukan wawancara perkembangan Vakin Merah Putih dengan Prof. dr., Amin Soebandrio. Ph.D, Sp.MK – Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Lembaga Eijkman adalah lembaga penelitian yang mengkhususkan di biologi molekuler, didirikan oleh almarhum BJ Habibie pada tahun 1992, tepatnya tanggal 31 Juli 2021 dengan Direktur pertama Prof. Dr. Sangkot Marzuki, M.Sc., Ph.D., D.Sc. Lembaga Eijkman bukan baru ada pada tahun 1992, namun lembaga ini sudah berdiri sejak tahun 1915. Gedung Eijkman didirikan oleh dokter Eijkman yang berada di Indonesia sejak 1888 dan berkesempatan membangun gedung lembaga penelitian. Sebelumnya Lembaga Biologi Molekuler Eijkman khusus bakteriologi, menyelidiki penyakit infeksi, tetapi kemudian dokter Eijkman menemukan bahwa penyakit Beri-Beri yang banyak menyerang manusia ternyata bukan karena penyakit infeksi, namun karena defisiensi atau kekurangan vitamin B-1. Dr Eijkman karena penemuan itu memenangkan hadiah Nobel pada tahun 1929. Ini adalah alasan mengapa tetap dipertahankan nama Eijkman untuk lembaga penelitian itu. Nama Eijkman untuk memberi semangat untuk para peneliti di Indonesia, bahwa penelitian di Indonesia dapat menerima hadiah Nobel, demikian penuturan Amin Soebandrio.

Saat Pandemi sekarang ini, Lembaga Eijkman memiliki penelitian terkait dengan penyakit infeksi di Indonesia, salah satunya terkait dengan virologi, dimana penelitian virus-virus di Indonesia sudah cukup lama. Lembaga Eijkman sudah menemukan virus-virus yang jarang ditemukan atau tidak dilaporkan di Indonesia. Misalnya saja virus Zika tahun 2015 ditemukan oleh Lembaga Eijkman. Virus westnail ditemukan juga oleh Lembaga Eijkman, ditemukan oleh divisi emerging virus unit (EVU). Lima tahun belakangan ini juga terus dicari virus-virus yang “eksotik” atau virus yang jarang dilaporkan. Didalamnya termasuk virus Corona, setelah diadakan beberapa kegiatan di beberapa daerah. Khususnya daerah-daerah dimana interaksi antara manusia dengan hewan liar amatlah erat, seperti di Sulawesi Utara. Lembaga Eijkman memiliki kemampuan, untuk mendeteksi virus tersebut. Pada bulan Januari saat pandemi mulai merebak Eijkman sudah mulai bergerak mencari kasus-kasusnya di pintu-pintu masuk internasional, di pelabuhan-pelabuhan. Sampai kasus pertama diumumkan pada bulan Maret 2020, laboratorium yang sudah mampu untuk bisa mendeteksi Lab Eijkman dari awal memiliki kemampuan dengan metode molukuler dengan kemampuan yang sudah terpasang. Fasilitas bio safety level tiga, fasilitas yang jarang di Indonesia tetapi di Lembaga Eijkman sudah secara rutin digunakan.

Pada bulan Maret 2020 Prof Bambang Brodjo sebagai Menristek BRIN waktu itu memang menyampaikan sudah bisa mengembangkan vaksin corona virus. Sebelum itu sudah ada komunikasi secara informal dengan Biopharma untuk bersama-sama mengembangkan vaksin corona virus ini. Cerita ini adalah awal dari lembaga Eijkman dalam mengembangkan vaksin.

Lembaga Eijkman sudah terlibat pada pengembangan vaksin lain misalnya vaksin demam berdarah, saya terlibat dalam pengembangan vaksin itu sejak tahun 1990 dan sampai sekarang belum ada vaksin demam berdarah yang sempurna. Jadi bisa dibayangkan membutuhkan waktu 30 tahun lebih untuk mengembangkan satu vaksin. Vaksin-vaksin lain pada umumnya membutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun, jarang yang lima tahun sudah berhasil. Dalam sejarah Indonesia belum pernah membuat vaksin sendiri dari nol dan sekarang harus membuat vaksin dalam waktu yang singkat. WHO memprediksi untuk membuat covid 19 ini dibutuhkan waktu sedikitnya 18 bulan. Lembaga Eijkman mengumpulkan apa yang dipunyainya, dimulai dari pembentukan tim dan mempersiapkan hal-hal kecil dari pengalaman sebelumnya. Melalui pembicaraan dengan Biopharma maka disepakati ada dua step atau dua langkah utama. Pertama adalah langkah R&D ; research and development atau skala laboratorium. Kedua adalah skala industri yang akan dilakukan oleh Biopharma.

Tugas Lembaga Eijkman adalah mengembangkan bibit dari bibit vaksin, yang kemudian akan dilanjutkan oleh Biopharma. Eijkman memilih platformnya protein recombinan dengan sasarannya protein S, Spike protein dan protein N (nukleokapsida). Hal ini dilakukan karena setelah berbicara dengan Biopharma mengenai teknologi apa yang sudah siap untuk hilirisasi. Karena akan percuma membuat hasil yang bagus namun tidak bisa dilanjutkan oleh industri, karena itu disepakati membuat vaksin dengan platform protein recombinan. Dimulai dengan melakukan isolasi virus dan dipelajari materi genetiknya, kemudia berhasil diisolasi dan diamplikasi gen pada protein S dan protein N. Gen tersebut diperbanyak dalam plasmid, kemudian dimasukan kembali ke dalam adenovirus, untuk kemudian dimasukan dalam satu sistem ekspresi namanya. Sistem ekspresi ada dua macam yang digunakan, pertama dengan menggunakan sel mamalia, yaitu China Hamster Ovary (CHO). Dan satu lagi menggunakan yeast atau ragi. Kemudian akan dipilih mana yang terbaik, kedua sel tadi akan menjadi “pabrik” yang akan menghasilkan protein recombinan. Eijkman sudah sampai menghasil sel CHO dan sel ragi itu menghasilkan protein S dan protein N. Lembaga Eijkman sudah memenuhi tugasnya untuk menghasilkan bibit vaksin. Namun tidak cukup sampai disana karena bibit harus menghasilkan di industri.

Selama ini bila di laboratorium dengan volume yang kecil saja sedangkan kalau di industri volumenya jauh lebih besar. Proses yang sedang berjalan saat ini sedang melakukan transisi dari skala R&D ke skala industri. Lembaga Eijkman melakukan optimasi, melakukan scaling up, melakukan upaya peningkatan yield atau productivity. Lembaga Eijkman berharap pada pertengahan tahun 2022 sudah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA). Sebuah persetujuan penggunaan dalam kondisi darurat untuk Vaksin COVID-19. Prof. Amin Soebandrio optimis bahwa Indonesia siap memiliki Vaksin Merah Putih pertengahan tahun 2022.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here