Ekspor Industri Furnitur Januari-Agustus 2021 Catat Kenaikan 30,8%

0
85
Ilustrasi industri furnitur. FOTO: PEMPROV JATENG

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian menyebut industri furnitur nasional masih mampu menunjukkan performa yang cemerlang. Pada tahun 2020, nilai ekspor industri furniture sebesar USD2,19 miliar atau naik 12,2% dibanding capaian tahun 2019.

“Sementara itu, pada periode Januari hingga Agustus tahun 2021, kinerja ekspor industri furnitur pun tetap memberikan kabar baik, dengan kenaikan sebesar 30,8% dibanding periode yang sama tahun 2020,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita dalam keterangan, Minggu, 26 September 2021.

Beberapa negara tujuan utama ekspor produk furnitur dari Indonesia, antara lain ke Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Jerman, dan Inggris.

“Ini menandakan bahwa produk furnitur kita sudah kompetitif di kancah global. Apalagi, produk furnitur kita dinilai unik dan inovatif karena terobosan-terbosan yang dilakukan para pelaku industri agar bisa berdaya saing,” jelasnya.

Untuk itu, Kemenperin bertekad untuk terus mengembangkan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor furnitur. Salah satu strateginya adalah menerapkan pola kemitraan antara IKM dengan industri besar atau industri menengah sebagai bagian membangun ekosistem rantai pasok sehingga dapat meningkatkan efisiensi dalam proses produksi.

“Untuk meningkatkan kemampuan industri kecil dalam memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan oleh industri besar atau industri menengah sebagai offtaker, kami di Direktorat Jenderal IKMA memiliki program pendampingan yang diberikan kepada pelaku industri kecil yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk,” tegasnya.

Pihaknya memiliki program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi dengan tujuan memacu perluasan pasar ekspor sehingga produktivitas dan kualitas sektor IKM furnitur dapat meningkat. Hal ini sejalan untuk mendorong para pelaku IKM memanfaatkan teknologi terkini.

“Program restrukturisasi ini dalam bentuk pemberian potongan harga (reimburse) terhadap IKM yang telah membeli mesin dan/atau peralatan dalam jangka waktu tertentu untuk menunjang proses produksi,” jelas Reni.

Potongan harga yang diberikan, yaitu sebesar 25% dari harga pembelian untuk mesin dan/atau peralatan buatan luar negeri (impor), dan sebesar 40% dari harga pembelian untuk mesin dan/atau peralatan buatan dalam negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here