Badaruddin, Kades Asal Wonosobo: Mari Berbagi Sebagai Bentuk Syukur

0
169

(Vibizmedia – Berbagi Kebaikan) Saat di awal pandemi sekitar bulan April 2020 sempat viral sebuah video di beberapa media online yang berisikan seorang kepala desa dari Wonosobo, Jawa Tengah,  yang menyerahkan tanahnya dengan sukarela tanpa bayaran untuk digunakan menjadi tempat pemakaman jenasah pasien COVID-19. 

Tindakan yang cukup berani pada waktu itu mengingat pandemi COVID baru dimulai dan masyarakat masih memiliki pengenalan yang terbatas mengenai virus ini. Ketakutan cukup merebak di mana-mana akan resiko tertular virus yang bisa mematikan ini. Kengerian dan kurangnya pengetahuan sering membuat masyarakat melakukan hal-hal yang tidak semestinya, salah satunya adalah menolak dimakamkan jenasah pasien COVID-19 di pemakaman yang seharusnya untuk umum.

Tapi pria muda asal Wonosobo ini yang juga adalah Kepala Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Wonosobo, yang bernama Badaruddin, melakukan keputusan yang patut diapresiasi dengan memberikan tanahnya untuk digunakan tempat pemakaman secara gratis bagi korban COVID-19.

Saat diinterview melalui online mengenai keputusan ini maka ia mengutarakan alasan mengapa memberikan tanahnya seluas sekitar 2500 meter secara gratis.

“Awal pemikiran saya menyediakan lahan untuk pemakaman COVID itu melihat dari media elektronik, banyak sekali beredar berita penolakan pasien COVID ..  saya terketuk hatinya, kasihan.. para pejuang tim medis yang sudah berjuang melibatkan jiwa raganya, dan rela berkorban, tapi sampai ajal menjemput jenasah mereka ditolak oleh warga. Saya sedih dan berinisiatif menyediakan lahan untuk memberikan ketenangan kepada seluruh masyarakat yang pada masa itu sedang mengalami sesak nafas terkonfirmasi COVID ataupun yang mengalami bimbang, resah..,” tuturnya.

Tantangan Dari Sekeliling

Bukan berarti tidak ada tantangan saat memutuskan memberikan tanahnya untuk digunakan sebagai tempat pemakaman gratis pasien COVID-19. Banyak warga yang menganggap tindakannya membahayakan mereka. Awal pandemi memang pengetahuan mengenai virus ini sangat terbatas sehingga banyak yang begitu kuatir dan takut jika berkaitan dengan pasien COVID-19.

“Saya mendapat tekanan, telpon dari banyak pihak…  saya dengarkan, saya beri penjelasan via telpon, saya musyawarah, kumpulkan di balai desa .. untuk memberi pemahaman, …karena masyarakat itu semuanya  tidak ada yang siap, baik masyarakat sipil maupun PNS nya tidak ada yang siap mengalami COVID-19 ini, “ kenangnya saat itu terjadi.

“ Saya harapkan adalah diberi wawasan, bahwa pasien COVID yang sudah terkonfirmasi melalui pemulasaran jenazah yang tepat dan benar tidak akan menularkan kepada masyarakat, “ demikian ia mengisahkan bagaimana mengatasi tantangan yang datang. Hingga akhirnya seluruh masyarakat mendukung keputusannya karena telah diberikan pemahaman yang lengkap.

Memberikan Gaji Untuk Membantu Penanganan COVID-19

Jiwa pemurahnya juga ditunjukkan dengan memberikan gajinya untuk membantu penanganan COVID-19 saat awal pandemi.

“Saya musyawarah dengan istri dan istri sangat mendukung dengan memberikan gaji saya untuk penanganan COVID, tidak apa-apa, untuk pemasyarakatan, untuk menenangkan warga, “ ujarnya menceritakan pengalamannya memberikan gajinya untuk penanganan COVID.

Mengarahkan Masyarakat Untuk Hidup Berbagi

Badaruddin juga menceritakan bahwa justru momen pandemi telah menjadi momen baginya untuk mengajak seluruh masyarakat di desanya untuk hidup berbagi.

“Kami juga membagikan sembako kepada masyarakat yang terdampak PPKM kemarin ini dari dana desa dan juga dana pribadi, iuran bersama, “ tuturnya.

“Ketika ada warga yang terkonfirmasi COVID, juga dalam pengawasan dan isolasi mandiri, masyarakat sekitar bergandeng tangan, ada yang memberi bantuan beras. Jadi masyarakat yang terkonfirmasi positif COVID, sekalipun tidak bekerja dan isolasi mandiri, kebutuhan pokok tetap tercukupi, “ imbuhnya.

Masyarakat Jadi Kompak

Badaruddin lebih jauh menceritakan bagaimana dampak positif terjadi bagi masyarakat desanya saat menghadapi pandemi COVID-19, “Di mana adanya COVID ini, bisa bergandeng bahu, tadinya kurang kompak, hari ini bisa melakukan gotong royong yang kuat,kompak , anak-anak muda, ibu-ibu dan juga orang-orang sepuh,  tokoh-tokoh agama….”

Bahkan berkembang pada kegiatan-kegiatan positif lainnya, “…dan juga kegiatan ibu-ibu di rumah di masa pandemi ini kita melakukan kegiatan  kemandirian ekonomi seperti membuat olahan makanan, salon dan juga membuat kerajinan, “pungkasnya.

Mari Berbagi Sebagai Bentuk Syukur

Ia membagikan apa yang menjadi harapannya, “Mari kita senantiasa bergandeng bahu dalam keadaan corona virus …. Marilah kita berinovasi, inovatif dan juga berbakti kepada sesama, dalam arti apa yang kita punya.. ilmu itu kita curahkan.. harta benda bisa dicari, kita bisa berikan kepada sesama..  Dan juga apa yang kita miliki itu, sebagai bentuk syukur kita adalah berbagi kepada sesama agar mereka juga merasakan apa yang kita rasakan selama ini.”

Jangan Sampai Orang Lain Merasakan Seperti Kami

Badaruddin mengutarakan bahwa prinsip hidupnya berbagi adalah justru karena pengalaman hidupnya yang dahulu yaitu hidup dalam kesulitan.

“Saya itu bukan orang kaya, berbagi ini dan itu, bukan karena saya orang kaya. Betul-betul saya itu orang susah. Ibu saya dulu mantan TKI, buruh di luar negeri juga. Orang tua saya sakit .…  terus saya merantau ke luar negeri mengumpulkan uang. Jadi hal-hal ini bagi kami hal-hal biasa, sudah banyak tekanan dalam hidup kami..  Maka dari itu kami menyediakan lahan ini karena hati ini jangan sampai  orang lain merasakan hal seperti ini… seperti kami.. Bukan karena kita kaya tapi karena keadaan kita yang tersentuh…,” pungkasnya. 

Abdi Negara Adalah Kuli Masyarakat, Harus Memberi Yang Terbaik

Ia menyadari kedudukannya saat ini adalah sebagai abdi negara sesungguhnya adalah kuli masyarakat.

“Dari nol alhamdulilah bisa jadi seperti ini, (saya) bekerja menjadi buruh di masyarakat, abdi negara itu adalah kuli masyarakat. Kita tahu dan kita sadar kita itu adalah kuli dan pelayan masyarakat. Siapapun yang mendapat gaji dari negara atau pemerintah, ibaratnya adalah sepatunya masyarakat.  Harus diingat dan sadar, jadi sebisa mungkin memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Karena masyarakat adalah boss dan raja kita, kita adalah kulinya, “ tegasnya menceritakan prinsip hidupnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here