Hans Kwee: Harus Lakukan 4 Hal Ini untuk Konfirmasi Saham Pilihan Influencer

0
65

(Vibizmedia – IDX Stocks) – Aksi pompom saham yang dilakukan influencer terkadang sulit untuk disadari oleh investor. Oleh karena itu, investor khususnya investor pemula perlu selalu mengecek semua informasi yang diterima.

Ada berapa cara yang bisa investor retail lakukan untuk mengecek dan menilai perusahaan yang direkomendasikan atau di pompom oleh influencer, dengan mengecek beberapa rasio.
Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menuturkan masyarakat atau investor retail untuk melakukan konfirmasi atas semua informasi yang diberikan oleh influencer.
“Seluruh informasi yang ketika kita baca dan terima harus kita dikonfirmasi kebenarannya,” jelasnya dalam webinar virtual, Rabu (6/10/2021).

Hans memaparkan cara untuk menganalisis saham hasil rekomendasi influencer apakah saham yang berisiko atau bagus. Investor bisa mengecek nilai valuasi atau rasio-rasio sebuah perusahaan yang di pompom di aplikasi trading atau investasi.

Pertama, investor bisa melihat price earning ratio (PER). Hans menjelaskan PER adalah perbandingan antara harga saham dengan earning yang akan investor dapatkan.
Hans menyarankan untuk menghindari saham dengan PER menyentuh 100 kali.

Menurutnya, ada kemungkinan perusahaan tersebut memiliki masalah dan investor akan mendapatkan keuntungan dalam waktu yang lama. “Kalau [PER] 100 kali artinya 100 tahun lagi kita baru untung, kalau PER-nya negatif artinya perusahaannya rugi jadi susah untuk mendapatkan keuntungan,” paparnya.

Kedua, investor dapat mengecek price book value ratio (PBVR). PBVR merupakan perbandingan harga sama dengan ekuitas yang dimiliki perusahaan.
Menurut Hans, PBVR di atas 20 kali tidak wajar karena umumnya PBVR berada di kisaran 1 kali–4 kali atau di bawah 5 kali. “Tapi kalau lebih dari itu [5 kali], artinya kita membayar sesuatu tapi ekuitasnya sudah kemahalan,” jelasnya.

Rasio ketiga yang tidak kalah penting yakni, price sales ratio (PSR). Hans memaparkan, jika PSR sebuah perusahaan terlalu tinggi artinya investor membeli saham yang mahal.

Keempat, debt equity ratio (DPR). Hans menyebutkan kalau DPR sebuah perusahaan tinggi dapat mengindikasikan perusahaan memiliki risiko untuk bangkrut.

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here