Pola Konsumsi Pangan Masyarakat Indonesia Semasa Pandemi

0
104
Program padat karya tunai di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia – Kolom) Kebutuhan hidup semakin banyak dan bertambah mengikuti pergerakan waktu. Kebutuhan penduduk yang pertama berusaha untuk memenuhi kebutuhan makanan sebagai kebutuhan dasar. Kebiasaan makan seseorang dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi merupakan pengaruh faktor fisiologis, psikologi, dan sosial budaya (Saragih, 2020). Namun ada pengaruh lain yang merubah pola makan, seperti pada saat ini terjadi pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat banyak beraktivitas dari rumah. Pada awal pandemi bulan Maret 2020, pemerintah menganjurkan agar bekerja, belajar, dan beribadah di rumah sehingga mendorong masyarakat melakukan pembelian makanan mencegah Covid-19 dan kebutuhan pokok lainnya sebagai stock persediaan untuk beberapa waktu mendatang (fenomena panic buying), sehingga mengakibatkan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok tersebut. Hingga maret 2021, pandemi masih terjadi. Pandemi ini berdampak pada pendapatan rumah tangga menurun dan konsumsi makanan meningkat. Keadaan ini sesuai dengan hubungan antara pendapatan dan konsumsi rumah tangga menurut Ernst Engel (1857) yang dikenal dengan hukum Engel menyatakan bahwa bila selera tidak berbeda maka persentase pengeluaran untuk makanan akan menurun dengan meningkatnya pendapatan.

Dengan kata lain, seiring dengan peningkatan pendapatan maka lambat laun akan terjadi pergeseran, yaitu penurunan porsi pendapatan yang dibelanjakan untuk makanan. Proporsi pengeluaran makanan terhadap total pengeluaran atau pangsa (share) pengeluaran pangan merupakan indikator dini yang mampu menggambarkan derajat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Pangsa pengeluaran pangan berhubungan negatif dengan ketahanan pangan. Semakin tinggi pangsa pengeluaran pangan, maka akan mengurangi ketahanan pangan. Menurut Trisnowati (2013), pangsa pengeluaran pangan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan. Pangsa pengeluaran pangan semakin kecil, menggambarkan tingkat kesejahteraan yang makin membaik.

Pangsa Pengeluaran Pangan menurut Daerah Tempat Tinggal, Maret 2017-2021

Sumber : BPS 2021

Gambar di atas menunjukkan pangsa pengeluaran pangan menurut daerah tempat tinggal. Pangsa pengeluaran pangan di perkotaan dan di perdesaan mempunyai pola yang berbeda. Sebagian besar pengeluaran penduduk di perdesaan untuk makanan, sedangkan di perkotaan untuk bukan makanan. Pangsa pengeluaran pangan Maret 2021 sebesar 49,25 persen, mengalami sedikit naik dibandingkan Maret 2020 sebesar 49,22 persen. Pangsa pengeluaran ini dipengaruhi pangsa pengeluaran pangan di perdesaan yang juga mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pola naiknya pengeluaran untuk makanan mengindikasikan ketahanan pangan yang kurang baik karena mencerminkan daya beli atau akses pangan yang makin rendah dan tingkat kesejahteraan semakin menurun. Pandemi Covid-19 pada bulan Maret 2021 masih terasa di daerah perdesaan. Berbeda dengan di perkotaan, pangsa pengeluaran turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, berarti mulai ada perubahan. Sedikit berbeda dengan pola pangsa pengeluaran pangan dari tahun 2017-2019, menurut daerah tempat tinggal terlihat bahwa pangsa pengeluaran pangan selalu menurun baik di perkotaan maupun perdesaan.

Pangsa Pengeluaran Pangan menurut Kuintil Pengeluaran, Maret 2021

Sumber : BPS 2021

Pangsa pengeluaran pangan menurut kuintil pengeluaran berdasarkan hasil Susenas Maret 2021 menunjukkan bahwa pangsa pengeluaran pangan untuk penduduk di kuintil pertama sebesar 64,15 persen. Bukan hanya pada kuintil pertama, pada kuintil kedua sampai dengan kuintil keempat, pangsa pengeluaran pangan masih berada di atas 50 persen, dan hanya kuintil kelima yang di bawah 50 persen, yaitu sebesar 39,22 persen.

Secara nasional, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk kelompok makanan sebesar 622.845 rupiah dengan perbedaan yang cukup tinggi antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan, yaitu masing-masing 681.278 rupiah dan 545.942 rupiah. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan pada kelompok bukan makanan sebesar 641.744 rupiah dimana pengeluaran di daerah perkotaan besarnya hampir dua kali pengeluaran di perdesaan yaitu masing-masing 806.049 rupiah dan 425.503 rupiah. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pengeluaran perkapita sebulan meningkat lebih dari dua ratus ribu rupiah. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan pada kelompok makanan tahun 2017 sebesar 527.956 rupiah dalam lima tahun terakhir meningkat hampir mencapai seratus ribu rupiah yaitu menjadi 622.845 rupiah pada tahun 2021. Sedangkan, ratarata pengeluaran per kapita sebulan pada kelompok bukan makanan tahun 2017 sebesar 508.541 rupiah dalam lima tahun terakhir meningkat lebih dari seratus ribu rupiah yaitu menjadi 641.744 rupiah pada tahun 2021.

Persentase Pengeluaran per kapita Sebulan menurut Kelompok Komoditas Makanan dan Daerah Tempat Tinggal, Maret 2021

Sumber : BPS 2021

 

Rata-rata pengeluaran masing masing kelompok komoditas makanan per kapita sebulan dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran seluruh komoditas makanan didapatkan persentase rata-rata pengeluaran per kapita sebulan menurut kelompok makanan. Persentase rata-rata pengeluaran per kapita sebulan menurut kelompok makanan dan daerah tempat tinggal pada gambar di atas terlihat bahwa ada 5 kelompok komoditas makanan yang tertinggi adalah makanan dan minuman jadi (31,74 persen), rokok dan tembakau (12,30 persen), padipadian (11,20 persen), sayur-sayuran (8,65 persen), dan ikan/udang/cumi/kerang (8,27 persen). Sedangkan kelompok komoditas lainnya sebesar 27,84 persen yang terdiri dari telur dan susu, buah-buahan, daging, bahan minuman, minyak dan kelapa, kacang-kacangan, bumbu-bumbuan, umbiumbian, dan bahan makanan lainnya. Berdasarkan daerah tempat tinggal, di daerah perkotaan lebih dari sepertiga didominasi makanan dan minuman jadi yaitu sebesar 35,55 persen. Posisi kedua yaitu rokok dan tembakau sebesar 11,00 persen dan selanjutnya padi-padian sebesar 9,55 persen. Sementara itu di daerah perdesaan, makanan dan minuman jadi tetap mendominasi namun tidak setinggi di perkotaan, yaitu sebesar 25,47 persen, selanjutnya rokok dan tembakau sebesar 14,42 persen dan padi-padian sebesar 13,92 persen.

Pada saat masa pandemi Covid-19 sekarang ini, masyarakat dianjurkan untuk menjaga kesehatan. Masyarakat perlu menerapkan pola hidup sehat dengan gizi seimbang agar bisa meningkatkan daya tahan tubuh, karena dengan daya tahan tubuh yang prima, seseorang tidak akan mudah terinfeksi Covid-19. Kegiatan Gizi seimbang terdiri dari mengkonsumsi aneka ragam pangan, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, melakukan aktivitas fisik dan berolah-raga, mempertahankan dan memantau berat badan yang normal.

Secara umum, faktor utama yang mempengaruhi konsumsi makanan yaitu karakteristik individu, karakteristik makanan, dan karakteristik lingkungan. Karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pengetahuan gizi, keterampilan memasak dan kesehatan. Sementara itu karakteristik makanan seperti rasa, rupa, tekstur, harga, tipe makanan, bentuk, bumbu dan kombinasi makanan. Karakteristik lingkungan yang mempengaruhi preferensi konsumsi makanan adalah musim, pekerjaan, perpindahan penduduk dan tingkat sosial penduduk (Elizabeth dkk,1981). Pandemi Covid-19 termasuk karakteristik lingkungan yang bisa mempengaruhi pola konsumsi makanan. Pola konsumsi makanan penduduk akan berbeda dan berubah dari waktu ke waktu. Pola konsumsi makanan masingmasing daerah dapat berbeda juga. Perubahan-perubahan tersebut, baik antar daerah maupun antar waktu akan menentukan perubahan jumlah makanan.

Pola konsumsi makanan sebagai acuan perencanaan program dan kebijakan pemerintah dalam pengadaan yang harus disediakan dan upaya pendistribusian agar harga makanan dapat dijangkau penduduk dengan harga yang wajar. Pola konsumsi makanan sebagai acuan perencanaan program dan kebijakan pemerintah dalam penyediaan makanan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri (impor). Penyajian pola konsumsi di tingkat nasional dapat digunakan untuk analisis kebutuhan konsumsi penduduk secara lebih spesifik, sehingga komoditas apa yang lebih banyak atau sedikit dikonsumsi dapat diketahui.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here