Prospek Perdagangan Telur Ayam Ras Pada Tahun 2022

0
70

(Vibizmedia – Kolom) Telur ayam ras merupakan salah satu barang kebutuhan pokok hasil peternakan di Indonesia (Pepres No. 71 Tahun 2015). Sebagai bahan kebutuhan pokok, telur ayam ras menjadi komoditas yang memiliki skala pemenuhan kebutuhan yang tinggi serta mendukung kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Susenas, konsumsi telur ayam ras cenderung meningkat selama kurun waktu lima tahun terakhir. Pada Maret 2020, rata-rata konsumsi telur ayam ras adalah 2,124 butir per kapita seminggu; meningkat sebesar 2,76 persen dibandingkan Maret 2019. Selain konsumsi yang meningkat, produksi telur ayam ras di Indonesia juga senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Rata-rata produksi telur ayam ras di Indonesia Tahun 2015-2020 naik sebesar 39,85 persen. Pada tahun 2020 sendiri, kenaikannya sebesar 6,122 persen yaitu dari 4,75 juta ton menjadi 5,04 juta ton.

Adanya provinsi yang surplus dan defisit menyebabkan terjadinya transaksi pembelian dan penjualan telur ayam ras antar provinsi. Selain bersumber dari produksi di dalam provinsi, provinsi yang mengalami defisit memenuhi kebutuhan konsumsinya dengan membeli pasokan dari daerah yang mengalami surplus, begitu juga sebaliknya. Dari 15 provinsi yang mengalami defisit tersebut, 9 diantaranya mengalami defisit lebih dari 50 persen, yaitu Aceh, Riau, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku dan Maluku Utara. Dalam kaitannya dengan pola distribusi perdagangan telur ayam ras, maka pola utama 9 provinsi tersebut dimulai dari luar provinsi karena volume telur ayam ras yang beredar lebih banyak berasal dari luar provinsi dibandingkan dari hasil produksi domestik.

Pola distribusi menggambarkan alur jual beli suatu barang dari produsen sampai dengan konsumen akhir. Hasil survei menunjukkan bahwa distribusi perdagangan telur ayam ras di Indonesia Tahun 2020 melibatkan sejumlah pelaku usaha distribusi perdagangan, yaitu pedagang pengepul, distributor, sub distributor, agen, pedagang grosir, pedagang eceran/supermarket/swalayan. Dari pelaku usaha distribusi perdagangan tersebut, selanjutnya telur ayam ras didistribusikan ke konsumen akhir yang terdiri dari industri pengolahan, rumah tangga, pemerintah dan lembaga nirlaba, serta kegiatan usaha lain (seperti hotel, restoran, rumah sakit, dll).

Pendistribusian telur ayam ras tidak melibatkan importir yang menunjukkan bahwa konsumsi telur ayam ras di Indonesia seluruhnya dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri. Produsen telur ayam ras di Indonesia, dalam hal ini peternak ayam petelur, mendistribusikan hasil produksinya ke pedagang perantara kemudian ke konsumen akhir. Pedagang grosir menjadi pelaku usaha yang paling banyak mendapatkan pasokan dari produsen, yaitu 28,16 persen. Selanjutnya, pedagang grosir mendistribusikan sekitar 60 persen pasokan ke pedagang eceran. Dari pedagang eceran, sebagian besar telur ayam ras didistribusikan ke rumah tangga, sisanya didistribusikan ke pelaku perdagangan serta konsumen akhir lainnya.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa pedagang membeli pasokan dari pedagang lain pada tingkat yang sama, yaitu pedagang pengepul membeli dari sesama pedagang pengepul, pedagang grosir dari sesama pedagang grosir, atau pedagang eceran dari sesama pedagang eceran. Selain itu, dapat terjadi pula pendistribusian dari suatu pedagang ke pedagang lain, seperti pedagang grosir menjual ke pedagang pengepul/distributor/agen, serta pedagang eceran yang menjual ke pedagang grosir. Akan tetapi, volume pendistribusian pada kasus tersebut terjadi dalam jumlah relatif kecil karena bersifat untuk pemenuhan stok.

Pola utama tersebut merupakan jalur distribusi penjualan telur ayam ras dari produsen ke konsumen akhir yang melalui pedagang perantara dengan persentase volume terbesar, dengan banyaknya rantai yang terbentuk adalah tiga rantai dan pendistribusian melibatkan dua pedagang, yakni pedagang grosir dan pedagang eceran. Akan tetapi, pola distribusi telur ayam ras berpotensi menjadi tujuh rantai ketika melalui jalur: produsen – pedagang pengepul – sub distributor – pedagang grosir – distributor – agen – pedagang eceran – konsumen akhir.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, distribusi perdagangan telur ayam ras pada tahun 2020 selain dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti cuaca, ketersediaan pakan, dan kebijakan harga, juga dipengaruhi oleh adanya pandemi COVID-19. Pembatasan mobilitas penduduk dalam rangka menghambat penularan virus berdampak pada pendistribusian telur ayam ras dari wilayah sentra ke wilayah lainnya. Hal tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga pada wilayah bukan sentra. Selain itu, perubahan pendapatan masyarakat pada masa pandemi mendorong beralihnya konsumsi protein hewani dari kelompok daging dagingan ke telur ayam ras yang harganya relatif lebih murah. Maraknya pemberian bantuan sosial untuk masyarakat terdampak pandemi juga turut meningkatkan permintaan telur ayam ras sehingga dapat memunculkan motivasi pelaku usaha pada berbagai level untuk terlibat dalam pendistribusian telur ayam ras. Hal tersebut dapat menjadi penyebab terjadinya penambahan rantai pada distribusi perdagangan, yang dapat berakibat pada kenaikan harga pada level konsumen.

Selama tahun 2020, tingkat konsumsi rumah tangga akan telur ayam ras diperkirakan sebanyak 1,84 juta ton. Jika dilakukan perbandingan dengan jumlah produksi telur ayam ras, kebutuhan konsumsi rumah tangga tersebut seluruhnya dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri, bahkan masih terdapat surplus telur ayam ras sebesar 3,2 juta ton atau 173,53 persen. Akan tetapi, jika dilihat pada level provinsi, terdapat 15 provinsi yang mengalami defisit karena tingkat kebutuhan konsumsi rumah tangga melebihi kapasitas produksi.

Sebagian besar produksi telur ayam ras dihasilkan di Pulau Jawa. Pada tahun 2020, sumbangsih Pulau Jawa terhadap produksi telur ayam ras sebesar 60,34 persen. Jawa Timur merupakan provinsi dengan volume produksi tertinggi, yaitu mencapai 1,73 juta ton. Empat provinsi dengan nilai produksi terbesar selanjutnya adalah Sumatera Utara (543 ribu ton), Jawa Tengah (530 ribu ton), Jawa Barat (498 ribu ton), dan Sumatera Barat (302 ribu ton). Untuk provinsi Indonesia bagian tengah dan timur, rata-rata produksi telur ayam ras adalah 43 ribu ton. DKI Jakarta menjadi satu-satunya provinsi yang tidak memproduksi telur ayam ras.

Perkiraan tahun 2022, akan terjadi peningkatan perdagangan telur ayam ras seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat karena turunnya kasus Covid 19 di Indonesia. Juga meningkatnya kebutuhan bahan pokok bagi kebutuhan ekspor makanan olahan yang sekarang ini semakin terbuka untuk Indonesia di seluruh dunia.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here