Berbagi Kebaikan: Kapolres AKP SS Udiono: Kalau Memberi Jangan Berharap Kembali

0
85

(Vibizmedia – Berbagi Kebaikan) “Kalau kita memberi, jangan pernah berharap kembali. Kalau niat memberi, ya sudah… Ibarat tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu, “ berikut adalah pernyataan AKP SS Udiono, seorang Kapolsek Bobotsari, Purbalingga, yang dengan sukarela menyediakan makan siang bagi para nakes di wilayahnya.

Mencari Terobosan Untuk Meringankan Beban Nakes
Pak Kapolsek yang memang hobby memasak ini mengaku bahwa aktivitas yang telah dikerjakan dari bulan Mei 2020 merupakan cetusan kreativitas yang didasari dari arahan Kapolres untuk melakukan sesuatu bagi para nakes.

“Pertama bermula dari Bapak Kapolres, waktu Pandemi baru berjalan 2 bulan, beliau sudah memerintahkan .. bahwa para Kapolsek harus punya inovasi, terobosan, meringankan beban, agar para nakes itu tidak merasa sendirian,” ungkapnya.

Memasak Makanan Ala Desa
Menyikapi arahan Kapolres maka Udiono memikirkan untuk menyumbangkan makanan bagi para nakes di puskesmas wilayahnya.

Selama ini menyumbang makanan dilakukan dengen mengumpulkan dana lalu membeli roti atau makanan di warung atau toko dan bisa mencapai jumlah biaya yang tidak sedikit.

Akhirnya Udiono mengambil keputusan untuk menyiapkan makanan dengan memasak sendiri. “Akhirnya kami memasak, memasak ala desa.. yang penting murah, meriah, bergizi,” jelasnya.

Saat itu masih menjabat Kapolsek Bawang, Banjarnegara, dimana ada 2 Puskesmas di kecamatan ini, maka setiap hari ia memasakkan makan siang secara bergantían untuk kedua Puskesmas yang memiliki sekitar 35-40 Nakes. Ia meneruskan kebiasaan ini, juga saat dia pindah tugas menjadi Kapolsek Bobotsari, Purbalingga, ia menyiapkan untuk sekitar 60 Nakes.

Memasak Sendiri dengan Biaya Sendiri
Uniknya dari Kapolsek Udiono dalam menyediakan makanan para Nakes ini adalah ia menyiapkan dan memasak sendiri tanpa dibantu orang lain. Dimulai dari mengatur menu, berbelanja, menyiapkannya dan memasaknya, semua dikerjakannya sendiri di Puskesmas.

Bahkan ia menggunakan biaya dari kantong sendiri untuk menyiapkan makan siang para nakes ini. Minimal sekitar 200 ribu ia keluarkan untuk menyiapkan makan para nakes setiap kalinya.

“Jadi … setelah kegiatan patroli, pengaturan lalulintas, lalu kami pergi ke pasar… Mulai dari belanja, kami bawa ke Puskesmas.. membersihkan dulu, kami rajang, kami masak sendiri, kami sajikan sendiri….pakai biaya sendiri, “tandasnya dengan bersemangat.

Saat ditanyakan bagaimana mengatur menu memasak setiap harinya, ia mengaku memiliki menu-menu sederhana, bahkan ada masakan dengan menu yang ia buat sendiri, karena ia senang berkreatifitas saat memasak, yang penting rasanya enak.

“Yang paling utama, para nakes itu merasa senang. Bilangnya gini, “Pak Kapolsek, kok begini saja kok ya enak?” Tapi kalau saya ditanya itu masakan apa, gak ngerti saya. Tapi enak katanya…” paparnya dengan tertawa,

Jika ditanya bagaimana menyiapkan masakan dengan biaya yang terbatas, ia mengatakan, “Tapi kami juga pinter mengolahnya, misal dengan 200 ribu itu bisa diterima, bisa dirasakan, bisa nikmat untuk orang banyak itu. Tinggal pandai-pandainya untuk menyiasatinya.”

Permintaan Sup Gurame
Ia menceritakan salah satu pengalaman menarik yaitu saat ada permintaan dimasakkan Sup Gurame. Tentunya biayanya tidaklah kecil, bisa lebih dari 300 Ribu. Tetapi ia tidak menolak permintaan ini.

“Saya tidak pernah bilang, “Oh gurame mahal…” Tidak ada kata-kata seperti itu….Besok saya siapkan..,” akunya.

Ia menceritakan kemudian bahwa akhirnya menggunakan uang tabungan ataupun rejeki yang ia peroleh dari gajinya untuk menyiapkan menu ini. Dengan senang ia menyiapkan menu permintaan ini.

Akan Tetap Melayani, Punya atau Tidak Punya uang
Menyiapkan makan siang bagi para nakes terus dikerjakan setiap hari hingga hari ini. Inilah yang menjadi komitmennya.

Ketika ditanyakan apakah tetap akan meneruskan kegiatan memasak ini meski dengan dana pribadi, maka ia menjawab, “Dengan kami punya uang atau tidak punya uang, kami akan tetap melayani. Kami akan tetap mengadakan semampu kami, yang paling utama, walau sedikitpun, masyarakat masih bisa menikmati masakan saya.. Dari mana caranya kami cari uang, yang penting halal, jangan sampai tidak halal …. Yang penting halal, kami sajikan.”

Ia menekankan bahwa apa yang dia kerjakan adalah karena ada niat baik di dalam hatinya, “Semuanya itu kembali lagi kepada niat. Kalau kita sudah ada niat membuat masyarakat tersenyum, rasanya suatu kebahagiaan tersendiri.”

Berawal Dari Kebiasaan Memasak
Udiono mengaku bahwa semasa remaja hidupnya adalah mengikut orang dan bekerja di tempat orang. Di situlah ia belajar memasak dan biasa melayani dengan memasak.

Memasak juga menjadi kegemaran Kapolres ini. Hobby memasaknya juga istimewa, karena kesukaannya untuk bereksperimen menghasilkan masakan yang enak.

“Kami memang hobby, memang senang memasak, suka bereksperimen. Masakan ini enak nggak, dicampur ini enak nggak, bumbunya campur ini enak nggak..,” tuturnya bersemangat.

Masakan Enak dan Hati Senang , Itu yang Utama
Kapolsek yang satu ini memang nampak gembira dan bersemangat mengerjakan kegiatan memasak ini. Tidak pernah dirasakan lelah atau capek dalam melayani.

Ia menyatakan hatinya selalu puas dan sangat senang kalau siapapun yang makan mengatakan bahwa masakannya enak.

“ Begini, dari Pak Camat sendiripun, dari Danramil sekalipun, bilang, “Ini Pak Kapolsek, bisa buat Rumah Makan nih… Makanan gini saja sudah enak..” Kalau sudah bilang enak, rasanya seperti terbang ke angkasa, tapi saya gak ada niat ingin buka rumah makan, tapi inginnya melayani,” ungkap Udiono.

Ia mengakui bahwa ia mengerjakannya karena hati senang, “Karena kami masak pada dasarnya kami senang. Kalau semua pekerjaan dilandasi dengan rasa senang, semuanya akan berjalan dengan indah dan masakannya jadi enak, karena kita senang.”

Ia meyakini kalau menggerutu dan hati tidak senang pasti hasil masakan juga tidak enak, “Tapi kalau kita menggerutu, kita mau nyambel, mau ngulek, hatinya tidak senang, sambelnya juga nggak enak. Kadang keasinan, kadang kurang, rasanya kok beda,..”

“Tapi kalau kita ‘nyambelnya dengan senyum, enjoy, senang, plang plung masukin ini itu, enak..” imbuhnya.

Pesan bagi Masyarakat
Di akhir wawancara, Udiono memberikan pesan bagi masyarakat, “Kami lakukan ini karena kami bekerja dari pemerintah untuk masyarakat. Banyak pesan kami. Janganlah takut kepada negara. Jangan takut kepada pemerintah. Karena pemerintah akan membuat nyaman dan nyaman. Tidak pernah negara membuat menderita masyarakatnya.”

Para nakes Puskesmas menikmati masakan Pak Kapolres (Foto: Dokumentasi Polres Banjarnegara)
Kapolres Udiono sedang bertugas melaksanakan patroli (Foto: Dokumentasi pribadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here