Penguatan Sektor Jasa Keuangan Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional

0
220

(Vibizmedia – Nasional) Dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Tahun 2022 Kamis, 20 Januari 2022, yang mengambil tema “Penguatan Sektor Jasa Keuangan Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional Dan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Baru,” disampaikan beberapa hal penting mengenai kondisi sektor jasa keuangan Indonesia. Sektor ekonomi dan keuangan terus dalam proses pemulihan pada masa pandemi yang didukung dengan semakin membaiknya penanganan Covid-19. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah kasus yang semakin menurun, sehingga mobilitas masyarakat sudah semakin membaik dan kembali beraktivitas meskipun belum pulih 100 persen.

Sistem keuangan Indonesia terjaga dengan baik, yang ditunjukkan dengan indeks stabilitas sistem keuangan yang terkendali dan sejalan dengan perbaikan indikator ekonomi dan keuangan. Sektor perbankan telah berangsur-angsur mengalami perbaikan dalam masa pandemi ini, yang ditunjukkan oleh kredit yang tumbuh 5,2% yoy selama 2021. NPL gross terkendali pada level 3% dan cenderung turun dari tahun lalu sebesar 3,06%. Dalam masa pandemi Covid-19 ini, kredit restrukturisasi Covid-19 telah turun menjadi Rp693,6 triliun, jauh di bawah angka tertinggi Rp830,5 triliun pada tahun 2020. Dari jumlah tersebut, telah dibentuk pencadangan sebesar 14,85% (Rp103 triliun). Permodalan perbankan terjaga jauh di atas threshold minimum, yaitu sebesar 25,67% dengan likuiditas yang ample, didukung juga dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 12,21%.

Pasar Modal telah pulih kembali seperti pada level sebelum masa pandemi yang ditunjukkan dengan IHSG yang sudah mencapai 6.693 pada tanggal 14 Januari 2022. Angka ini jauh di atas IHSG pada masa pandemi Covid-19 dimulai pada 2 Maret 2020, yakni 5.361,25. Capaian indeks ini merupakan peringkat ke-3 terbaik di Asia. Sedangkan kapitalisasi pasar telah mencapai Rp8.252 triliun pada 30 Desember 2021, angka ini merupakan yang terbaik kedua di ASEAN setelah Thailand. Investor di pasar modal juga melonjak cukup signifikan menjadi 7,5 juta akhir 2021 lalu, yang naik sebesar 93% dari tahun 2020, dimana lebih dari 80% adalah investor milenial. Penghimpunan dana di pasar modal pun terus meningkat, mencapai Rp363,3 triliun, atau naik 206% dari tahun 2020 silam. Pertumbuhan penghimpunan dana di pasar saham bahkan menjadi terbaik di kawasan Asia Pasifik (rata-rata 171%).

Stabilitas IKNB terjaga dengan baik, didukung oleh permodalan yang cukup kuat, hal ini ditandai dengan Risk Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa (539,8%) dan asuransi umum (327,3%), jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Gearing ratio Perusahaan Pembiayaan juga menurun (1,98kali), jauh di bawah batas maksimum (10 kali).

Selain 3 subsektor keuangan tersebut di atas, terdapat perkembangan baru di sektor jasa keuangan, yaitu industri keuangan digital. Kehadiran industri ini memberikan dampak positif kepada percepatan akses masyarakat ke produk dan jasa keuangan. Hal ini dengan ditunjukkan dengan peningkatan akses

masyarakat terhadap keuangan digital seperti pertumbuhan peminjam peer-to-peer lending sebesar 29,69 juta peminjam pada akhir tahun 2021, meningkat 68,15% dibandingkan tahun 2020, dan pertumbuhan pemodal Securities Crowdfunding telah mencapai 93.733 pemodal sejak diluncurkan pada awal tahun 2021. Percepatan akses ini akan terus kami tingkatkan sesuai dengan target Strategi Nasional Keuangan Inklusif sebesar 90% di 2024.

Ke depan, dalam menjaga perekonomian masih banyak yang akan dilakukan terutama percepatan pemulihan kredit dalam skema restrukturisasi kredit Covid-19 yang telah kami perpanjang masa berlakunya sampai dengan 2023.

Disadari masih banyak tantangan ke depan, seperti adanya percepatan normalisasi kebijakan stimulus Covid-19 oleh negara-negara maju; adanya gap antara agregat supply dan demand yang disebabkan antara lain disrupsi rantai pasok global (global supply chain bottleneck) yang menyebabkan inflasi meningkat di beberapa negara. Kemudian, kita juga harus bersiap menghadapi agenda global pengurangan emisi karbon sebesar 41% dengan dukungan internasional dan 29% atas upaya sendiri dalam skema ekonomi hijau pada 2030.

Menghadapi tantangan-tantangan tersebut ada beberapa kebijakan prioritas di sektor jasa keuangan pada tahun 2022: Pertama, meningkatkan peran sektor jasa keuangan dalam mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, dengan memprioritaskan sektor-sektor yang membutuhkan dukungan untuk percepatan pemulihan melalui insentif bersama untuk (a) mendorong pembiayaan kepada sektor komoditas sesuai prioritas Pemerintah termasuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBL BB) dari hulu sampai hilir; (b) Stimulus lanjutan untuk mendorong kredit kepada sektor properti;

Kedua, mempersiapkan sektor keuangan dalam menghadapi normalisasi kebijakan di negara maju dan domestik, antara lain melalui mendorong konsolidasi sektor jasa keuangan agar mempunyai ketahanan permodalan dan likuditas, percepatan pembentukan cadangan penghapusan kredit agar tidak terjadi cliff effect pada saat dinormalkan pada tahun 2023, penataan industri reksadana dan penguatan tata kelola industri pengelolaan investasi, serta percepatan dan penyelesaian reformasi IKNB.

Ketiga, menyusun skema pembiayaan yang berkelanjutan di industri jasa keuangan untuk mendukung pengembangan ekonomi baru, dengan prioritas pengembangan ekonomi hijau, antara lain dengan pendirian bursa karbon dan penerbitan Taksonomi Hijau 1.0 (One Point O). OJK bersama SRO (Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia, dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia) bersama pemerintah sedang mengakselerasi kerangka pengaturan bursa karbon di Indonesia. Taksonomi Hijau disusun dengan mengkaji 2.733 klasifikasi sektor dan sub-sektor ekonomi, dimana 919 diantaranya telah dikonfirmasi oleh kementerian terkait. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu negara di dunia yang telah memiliki standar nasional sektor ekonomi hijau. Taksonomi hijau yang akan diluncurkan oleh Bapak Presiden pada kesempatan ini, akan menjadi pedoman bagi penyusunan kebijakan (insentif dan disinsentif) dari berbagai Kementerian dan Lembaga termasuk OJK.

Keempat, memperluas akses keuangan kepada masyarakat khususnya UMKM untuk mencapai target penyaluran kredit UMKM sebesar 30% pada tahun 2024 dengan model klaster dalam satu ekosistem pembiayaan, pemasaran oleh off-taker, pembinaan serta optimalisasi lahan yang belum tergarap dengan bekerja sama dengan Gubernur dan Kepala Daerah setempat. Program-program KUR Kluster, kredit/pembiayaan melawan rentenir, digitalisasi BPR dan Lembaga Keuangan Mikro, Bank Wakaf Mikro serta skema pemasaran melalui program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia termasuk dalam program ini. Di pasar modal terus akan kami kembangkan pembiayaan UMKM melalui security crowdfunding yang sudah kami luncurkan awal tahun 2021.

Kelima, memperkuat kebijakan transformasi digital di sektor jasa keuangan agar sejalan dengan pengembangan ekosistem ekonomi digital dalam meningkatkan akses masyarakat ke produk dan jasa keuangan dengan harga yang lebih murah, kualitas yang lebih baik, dan akses yang cepat, termasuk literasi dan perlindungan kepentingan konsumen termasuk penegakan hukum. OJK akan tetap memitigasi ekses pinjaman online dengan meningkatkan aturan prudential dengan pemodalan yang lebih tinggi dan penerapan market conduct yang lebih baik. OJK juga akan mendorong kolaborasi keuangan formal dalam produk pembiayaan secara online agar dapat menutup gap permintaan yang cukup besar.

Proyeksi Sektor Keuangan Tahun 2022

Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional (5,2% yoy), kami memproyeksikan di tahun 2022 akan lebih baik dengan kredit perbankan akan meningkat pada kisaran 7,5% ± 1%, dan Dana Pihak Ketiga tumbuh di rentang 10% ± 1%. Penghimpunan dana di pasar modal diperkirakan meningkat di kisaran Rp125 triliun s.d. Rp175 triliun. Piutang pembiayaan oleh Perusahaan Pembiayaan juga akan tumbuh sekitar 12% + 1%. Aset perusahaan asuransi jiwa serta aset perusahaan asuransi umum dan reasuransi diperkirakan tumbuh 4,66% dan 3,14%. Sementara, pertumbuhan aset dana pensiun akan mencapai 6,47%. OJK telah menuangkan dalam Roadmap Sustainable Finance Tahap Kedua (2021-2025) untuk sektor jasa keuangan yang antara lain mencakup Taksonomi Hijau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here