Tingkatkan Pemahaman Kekayaan Intelektual di Kabupaten Lembata : Lindungi Potensi Lokal Sebagai Identitas dan Pendorong Ekonomi Kreatif Daerah

0
231

(Vibizmedia – NTT) Humas Kanwil _ Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Provinsi Nusa Tenggara Timur terus berupaya menyebarluaskan informasi Kekayaan Intelektual komunal (KIK) kepada masyarakat maupun pemerintah daerah.

Kali ini, berkerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lembata, Kanwil Kemenkumham NTT mengadakan Workshop Promosi dan Diseminasi Kekayaan Intelektual Komunal yang ditujukan kepada OPD terkait, Pelaku Ekonomi Kreatif, serta Tokoh Masyarakat bertempat di Aula Gedung Perpustakaan Daerah, Kamis (7/4/2022).

Pembukaan kegiatan diawali sambutan Kepala Kantor wilayah Kemenkumham NTT yang diwakilkan oleh Kepala Bidang Pelayanan Hukum, Erni Mamo li didampingi Kepala Sub Bidang Pelayanan KI, Dientje Bule Logo.

Diinformasikannya, kegiatan workshop diseminasi dan promosi kekayaan intelektual terus digalakkan Kanwil Kumham NTT. Mengingat banyak sekali potensi kekayaan intelektual komunal khas produk daerah di NTT seperti ekspresi budaya tradisional (EBT), pengetahuan tradisional (PT), sumber daya genetik (SDG) dan indikasi geografis (IG) yang sudah ada sejak zaman dahulu namun belum tersentuh dan terlindungi secara hukum.

Ditambah lagi di era globalisasi saat ini, para pelaku usaha sangat mudah mempromosikan dan memperjualbelikan potensi sumber daya untuk dieksploitasi bagi kepentingan ekonominya. Hal ini menyebabkan terjadinya perebutan atau saling meniru, bahkan mengklaim hasil karya orang lain maupun potensi di daerah lain.

Dalam mengantisipasi hal tersebut, hasil karya olah pikir yang timbul harus diberikan perlindungan setiap pemilik karya dalam memperoleh kepastian hukum.

Selaras dengan hal tersebut Kanwil Kemenkumham NTT bertanggung jawab untuk mendorong pendaftaran kekayaan intelektual demi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat maupun pemerintah daerah sendiri.

Melalui workshop ini, pihaknya berterima kasih kepada Pemda Lembata yang telah memberikan respon dan perhatian luar biasa bahkan telah memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi.

“Suatu kebanggaan bagi kami, harapannya sinergritas dan kolaborasi yang telah terjalin dapat mendorong dan memfasilitasi pemerintah daerah dalam pendaftaran kekayaan intelektual kedepannya,” ucap Erni.

“Karena apa yang dilaksanakan sebagai wujud memberikan perlindungan hukum terhadap kekayaan intelektual yang merupakan milik kita sendiri,” sambungnya.

Lebih dari itu, pihaknya juga menginginkan melalui informasi yang akan diterima pada workshop ini dapat meningkatkan pemahaman terhadap kekayaan intelektual dan kemudian dapat disebarluaskan kepada masyarakat lainnya.

Utamanya pemerintah daerah dinilai memiliki peran yang sangat penting untuk dapat menginventarisir potensi Kekayaan Intelektual yang ada di wilayahnya baik milik perseorangan maupun kelompok.

Selanjutnya dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan pihak Kemenkumham NTT agar setiap potensi KI yang ada segera mendapat perlindungan yang akhirnya keuntungannya dirasakan langsung oleh masyarakat maupun Pemda Lembata.

“Ketika semua ketentuan ini terlaksana, percaya ini akan mendorong daya inovasi dan kreativitas yang lebih pesat lagi di wilayah Lembata bahkan lebih melindungi potensi lokal sebagai identitas dan pendorong ekonomi kreatif daerah,” tutur Erni.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata, Yakobus Andreas Wuwur dalam sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan mengucapkan terima kasih kepada Kanwil Kumham NTT atas upaya yang dilakukan dalam rangka perlindungan kekayaan intelektual.

Pihaknya menyadari perlindungan KI sangat berpengaruh pada perkembangan ekonomi kreatif di skala global. Apalagi Kabupaten Lembata memiliki banyak potensi KI yang memiliki nilai ekonomi tinggi yang belum tersentuh dan dimanfaatkan.

“Harus diakui masih banyak karya intelektual di Lembata yang belum tersentuh bahkan yang ada pun belum terlindungi secara hukum. Hitung saja kain tenun adat, tari-tarian, produk-produk UMKM yang bernilai KI serta salah satu perburuan tradisional paus lamalera sebagai salah satu pionir di Lembata,” ucapnya.

“Semuanya dapat dilestarikan sebagai peradaban masa lalu yang bernilai KI, disisi lain dapat juga memberikan manfaat tambah apabila dikelolah dengan baik tentu melalui suatu proses yang harus ditempuh,” ucapnya.

Harapannya adanya kegiatan ini dapat memberikan dampak positif serta kesadaran masyarakat Lembata atas setiap kreasi, kreatifitas produk kekayaan intelektual untuk kemudian dapat didaftarkan secara hukum.

“Esensinya untuk mendorong masyarakat lebih baik lagi dalam meningkatkan nilai ekonomis produk-produk KI guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan mandiri,” jelasnya.

Sehingga pada akhirnya potensi-potensi yang ada ini dapat diiventarisir untuk diajukan pendaftaran secara hukum melalui Kemenkumham NTT.

“Tentu proses ini kami tidak dapat berjalan sendiri. Sangat dibutuhkan peran dan perhatian Kemenkumham NTT,” tutupnya.

Sumber : Humas Kemenkumham NTT