Ketika Aceh Menata Pembangunan Infrastruktur Listrik

0
145
Kawasan Ulee Lheue Banda Aceh Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Unggulan (Foto: Kemkominfo)

(Vibizmedia-Kolom) Sistem tenaga listrik di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumbagut dan sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV. Sebagian besar sistem tenaga listrik Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi 150 kV Sumatera dan sebagian kecil masih berada di daerah isolated terutama untuk lokasi-lokasi di pulau terpisah. Saat ini daerah yang sudah dipasok sistem interkoneksi meliputi seluruh lokasi di Aceh (daratan), baik melalui jaringan 150 kV ataupun 20 kV. Beban puncak tertinggi Aceh tahun bulan Oktober 2020 sebesar 542 MW. Sistem Interkoneksi Sumatera adalah sistem tenaga listrik yang menghubungkan sistem kelistrikan dari Provinsi Aceh sampai Provinsi Lampung, melalui saluran transmisi tegangan 150kV, 275kV, serta rencana 500 kV.

Penjualan tahun 2012-2020 tumbuh rata-rata sebesar 7,5%, komposisi penjualan energi tahun 2012-2020 per sektor pelanggan ditunjukkan kelompok pelanggan rumah tangga, bisnis, publik, industri. Saat ini pada sistem isolated 20 kV yang tersisa adalah sistem isolated di kepulauan seperti Sistem Sabang, Sistem Sinabang (Simeulue) dan sistem kecil lainnya juga masih dipasok oleh PLTD.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

Pandemi Covid-19 yang terjadi pada awal tahun 2020, menyebabkan pertumbuhan ekonomi hingga beberapa tahun kedepan menjadi tertekan. Terdapat dua probability proyeksi pertumbuhan ekonomi, yang akan mendrive demand listrik. Kedua skenario proyeksi demand ditampilkan pada Gambar A1.2 berikut. Pertumbuhan demand rata-rata tahun 2021 s/d 2030 Provinsi Aceh, untuk masing-masing skenario optimis sebesar 5,7%, sedangkan moderat 4,8%.

Proyeksi Demand Provinsi Aceh (TWh)

Sumber : PLN

Berdasarkan kedua skenario tersebut, diambil skenario moderat sebagai referensi untuk pengembangan infrastuktur ketenagalistrikan. Namun untuk mengantisipasi gap antara perencanaan dan realisasi, perlu dilakukan evaluasi dan koreksi sampai kondisi menjadi kembali stabil.

Proyeksi kebutuhan listrik diatas sudah termasuk kebutuhan KEK Arun Lhokseumawe, PT. Semen Aceh Indonesia, Kawasan Industri Aceh Ladong, dan potensi pelanggan besar lainnya di Provinsi Aceh. Untuk melayani kebutuhan KEK, KI dan potensi pelanggan besar lainnya tersebut, PLN menyiapkan infrastuktur tenaga listrik yang meliputi pembangkit, transmisi, dan gardu induk.

Pengembangan Sarana Tenaga Listrik

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi dengan memperhatikan potensi sumber energi primer setempat. Untuk perkuatan kota Banda Aceh, saat ini sedang dibangun GI 150 kV Ulee Kareeng dan Krueng Raya. Selanjutnya GITET 275 kV Ulee Kareeng yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2021. Dengan beroperasinya SUTET ini maka keandalan Subsistem Banda Aceh menjadi sangat baik, sehingga potensi padam akibat gangguan sistem menjadi lebih kecil.Rencana pengembangan gardu induk sampai tahun 2030 dilakukan dengan mengembangkan trafo 150/20 Kv hingga mencapai 630, dan trafo 275/150 kV hingga 750 yang secara keseluruhan berjumlah 1.380 trafo

Potensi Sumber Energi

Potensi sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik di Provinsi Aceh terdiri dari potensi air, panas bumi, minyak bumi, gas dan batubara. Diperkirakan potensi sumber tenaga air mencapai 5.062 MW yang tersebar di Provinsi Aceh. Potensi panas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 980 MW yang tersebar. Potensi minyak bumi dan gas bumi yang dimiliki adalah 115 MMSTB dan 7.516 BCF, sedangkan potensi batubara di Provinsi Aceh adalah sebesar 450,6 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2030 diperlukan pembangunan pusat pembangkit di Provinsi Aceh.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2030 diperlukan pembangunan pusat pembangkit di Provinsi Aceh. Di Provinsi Aceh terdapat potensi pembangkit yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sistem yaitu sebagai berikut:

Rekapitulasi Rencana Pembangunan Pembangkit

Sumber : PLN

Dalam pengembangan EBT, direncanakan kuota kapasitas pembangkit yang dapat masuk ke sistem. Kuota ini nantinya dapat dipenuhi dengan pengembangan pembangkit PLN maupun rencana pembangkit IPP yang belum memasuki tahap PPA. Rencana pembangkit ini dinyatakan sebagai kuota kapasitas yang tersebar dalam suatu sistem. Kuota kapasitas tersebar tersebut dapat diisi oleh potensi baik yang sudah tercantum dalam daftar potensi maupun yang belum apabila telah menyelesaikan studi kelayakan dan studi penyambungan yang diverifikasi PLN serta mempunyai kemampuan pendanaan untuk pembangunan, dan harga listrik sesuai ketentuan yang berlaku.

Pengembangan Listrik Perdesaan

Selain pengembangan jaringan distribusi diatas, juga terdapat program pengembangan listrik perdesaan sampai tahun 2030. Rasio elektrifikasi untuk Provinsi Aceh pada TW IV tahun 2020 sebesar 99,99% sedangkan rasio desa berlistrik TW IV tahun 2020 sudah mencapai 100% dengan total 6.497 desa berlistrik PLN.
Program Listrik Perdesaan adalah program PLN untuk mempercepat rasio elektrifikasi 100% pada tahun 2022. Program ini tidak hanya berusaha menambah jumlah pelanggan yang dilistriki PLN, namun juga meningkatkan layanan PLN dengan meningkatkan jam nyala pelanggan. Program ini juga di indikasikan untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan didaerah-daerah terpencil yang mempunyai banyak hambatan untuk transportasi BBM. Untuk mempercepat program Listrik Pedesaan ini, PLN sedang mengembangkan metode-metode lainnya yang dapat digunakan dengan pemanfaatan EBT. Tahun 2017-2019, Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM memberi bantuan LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) kepada 376 Rumah Tangga di Provinsi Aceh. Rencananya Pelanggan Rumah Tangga tersebut akan di ambil alih bertahap menjadi pelanggan PLN di tahun 2020-2022.