Profil Industri Mikro Kecil (IMK) Nusantara

0
122
Sumber: Kementerian Keuangan

(Vibizmedia-Kolom) Survei Industri Mikro Kecil (IMK) Tahun 2020 mencatat jumlah IMK di Indonesia sebanyak 4,21 juta usaha. Industri mikro adalah perusahaan industri manufaktur yang pekerjanyaantara 1-4 orang sedangkan Industri kecil adalah perusahaan industri manufaktur yang pekerjanya antara 5-19 orang. Pulau Jawa merupakan pulau dengan jumlah usaha IMK terbanyak. Jumlah usaha IMK di Pulau Jawa mencapai 63,11 persen dari seluruh IMK di Indonesia. Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi provinsi-provinsi dengan jumlah IMK terbanyak, dimana masingmasing terdapat lebih dari 600 ribu usaha. Kondisi ini sangat berbeda dengan provinsi-provinsi di Maluku dan Papua di mana jumlah usaha masing-masing mencapai kurang dari 23 ribu usaha/perusahaan.

Menurut jenisnya, industri makanan dengan jumlah sebanyak 1,52 juta usaha merupakan jenis IMK terbanyak dibanding kelompok industri lainnya. Sementara industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari rotan, bambu dan sejenisnya dan industri pakaian jadi merupakan jenis kegiatan terbanyak kedua dan ketiga yang masing-masing jumlahnya mencapai lebih dari 500 ribu usaha. Usaha IMK yang paling sedikit jumlahnya adalah industri peralatan Listrik dan industri komputer, barang elektronik dan optik yang keduanya berjumlah kurang dari 1.000 usaha.

Penyerapan pekerja oleh IMK mencapai 9,65 juta orang, dimana 51,76 persen diantaranya merupakan pekerja laki-laki. Dibandingkan dengan pekerja laki-laki, pekerja perempuan lebih banyak terserap di industri makanan, industri tekstil, industri pakaian jadi, industri kertas dan barang dari kertas, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, dan industri pengolahan lainnya. Kelompok industri tersebut banyak menyerap pekerja perempuan karena proses produksinya umumnya dilakukan di rumah dan biasa dilakukan oleh perempuan.

Jika dilihat dari sisi usia pekerja, sebanyak 9,1 juta orang (94,35 persen) merupakan pekerja usia produktif yaitu mereka yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun. Pekerja anak, yang berumur kurang dari 15 tahun dan pekerja lanjut usia (lansia) berusia di atas 65 tahun, masing-masing sebanyak 32,6 ribu orang (0,34 persen) dan 512,2 ribu orang (5,31 persen). Anak yang bekerja di IMK didominasi oleh pekerja perempuan. Jumlah pekerja anak dan lansia padakelompok industri makanan, merupakan yang terbanyak, yaitu mencapai 44,25 persen. Hal ini terjadi karena dalam proses pengolahan makanan selain tidak terlalu diperlukan ketrampilan khusus juga tidak diperlukan fisik yang kuat, sehingga anak dan lansia bisa membantu berproduksi. Selain banyak terserap di industri makanan, sebanyak 98,62 ribu orang (19,25 persen) lansia juga banyak mengelola industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari rotan, bambu dan sejenisnya, sedangkan untuk pekerja anak, banyak bekerja di kelompok industri tekstil sebanyak 3,6 ribu orang (11,07 persen).

Secara geografis, jika dibandingkan antar provinsi, proporsi jumlah anak yang bekerja di IMK banyak terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan (2,29 persen) dan Nusa Tenggara Timur (2,06 persen). Sementara proporsi jumlah lansia yang bekerja terbesar di Provinsi DI Yogyakarta (12,23 persen), Papua Barat (8,37 persen), dan Kepulauan Bangka Belitung (7,98 persen). Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam menentukan kapasitas atau kemampuan pekerja. Dilihat dari tingkat pendidikan, sebagian besar pekerja (76,61 persen) merupakan lulusan SMP atau tingkat dibawahnya.

IMK menjadi kelompok usaha yang menyerap banyak pekerja berpendidikan rendah. Sebagian besar IMK mempekerjakan lebih banyak pekerja dengan tingkat pendidikan SMP ke bawah. Hanya IMK pada kelompok industri minuman, industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, industri komputer, barang elektronik dan optik, industri mesin dan perlengkapan, industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, dan industri reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan yang mempekerjakan lebih banyak pekerja berpendidikan SLTA ke atas. Seperti halnya pada sebaran usaha, distribusi jumlah pekerja menggambarkan hal hampir serupa. Pulau Jawa menjadi tempat bagi separuh ebih pekerja IMK di Indonesia (6,56 juta orang) bekerja. Sebaliknya, jumlah pekerja IMK di wilayah Maluku dan Papua merupakan yang paling sedikit, jumlahnya kurang dari 100 ribu orang.

Pekerja yang dibayar pada IMK hanya sebanyak 34,45 persen atau 3,32 juta orang, selebihnya merupakan pekerja tidak dibayar. Pekerja tak dibayar biasanya merupakan pemilik atau pengusaha itu sendiri dan pekerja keluarga. Kelompok industri dengan jumlah pekerja tidak dibayar terbanyak, yang mencapai lebih dari 75 persen adalah industri makanan, industri tekstil , industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari rotan, bambu dan sejenisnya, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, dan industri pengolahan lainnya. Pekerja perempuan yang tidak dibayar merupakan kelompok terbanyak, mencapai 74,41 persen, sementara jumlah pekerja laki-laki yang tidak dibayar sebesar 57,29 persen. Ada kecenderungan bahwa pekerja perempuan di IMK cenderung menjadi pekerja yang tidak dibayar dari pada pekerja laki-laki.

Sebagian besar IMK, atau sebanyak 638 ribu usaha (58,97 persen) memberikan kompensasi balas jasa per pekerja kurang dari 10 ribu rupiah per jam. Sementara itu, IMK yang memberikan balas jasa antara 10 ribu rupiah dan sampai 19 ribu rupiah per jam mencapai 340 ribu usaha (31,44 persen) dan IMK dengan balas jasa lebih dari 20 ribu rupiah per jam sebanyak 104 ribu usaha (9,59 persen). Kelompok industri yang sebagian besar usaha/perusahaannya memberikan balas jasa antara 10 ribu rupiah sampai dengan 20 ribu rupiah per jam adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari rotan, bambu dan sejenisnya, industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, industri alat angkutan lainnya , dan industri furnitur. Sementara itu, industri logam dasar adalah kelompok industri yang sebagian besar usaha/perusahaannya memberikan balas jasa dengan nilai 20 ribu rupiah atau lebih per jamnya.

Sebagian besar IMK, atau sebanyak 638 ribu usaha (58,97 persen) memberikan kompensasi balas jasa per pekerja kurang dari 10 ribu rupiah per jam. Sementara itu, IMK yang memberikan balas jasa antara 10 ribu rupiah dan sampai 19 ribu rupiah per jam mencapai 340 ribu usaha (31,44 persen) dan IMK dengan balas jasa lebih dari 20 ribu rupiah per jam sebanyak 104 ribu usaha (9,59 persen). Kelompok industri yang sebagian besar usaha/perusahaannya memberikan balas jasa antara 10 ribu rupiah sampai

dengan 20 ribu rupiah per jam adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari rotan, bambu dan sejenisnya, industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, industri alat angkutan lainnya , dan industri furnitur . Sementara itu, industri logam dasar adalah kelompok industri yang sebagian besar usaha/perusahaannya memberikan balas jasa dengan nilai 20 ribu rupiah atau lebih per jamnya. Nilai balas jasa pekerja IMK terbesar menurut provinsi adalah provinsi-provinsi di Pulau Jawa, yaitu sekitar 35,51 triliun rupiah, atau sekitar 71,38 persen dari total pengeluaran untuk balas jasa pekerja. Balas jasa pekerja di Provinsi Jawa Barat mencapai sebesar 22,49 persen, disusul oleh Provinsi Jawa Tengah sebesar 17,75 persen, dan Provinsi Jawa Timur sebesar 16,36 persen. Total nilai balas jasa pekerja IMK terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat dan Maluku, masing-masing sebesar 0,15 persen serta Provinsi Papua Barat sebesar 0,24 persen.

Pandemi COVID-19 juga ikut memengaruhi optimisme usaha IMK terhadap keberlangsungan usahanya. Sikap optimis tersebut dapat muncul apabila terjadi perubahan pada kondisi pandemi menuju arah yang lebih baik, dan bertambah ketika usaha mendapatkan bantuan atau dukungan dari pemerintah. Namun, ketika tidak ada perubahan pada kondisi pandemi dan tidak ada bantuan/dukungan dari pemerintah, hanya sebagian kecil usaha IMK (18,18 persen) yang optimis bahwa usahanya mampu bertahan lebih dari 3 bulan. Sebagian kecil lainnya (5,77 persen) memperkirakan usahanya hanya akan bertahan antara 1 hingga 3 bulan. Sementara itu, mayoritas usaha IMK (74,73 persen) menyatakan bahwa mereka tidak tahu atau tidak dapat memperkirakan berapa lama usahanya mampu bertahan di masa pandemi ini. Dan saat ini kondisi pandemi telah surut yang membawa angin segar bagi IMK untuk bangkit dan bertumbuhan kembali menjadi penopang bagi ekonomi Indonesia.