Co-firing PLTU dengan Biomasa

Apabila seluruh unit PLTU tersebut telah beroperasi co-firing secara komersial dengan persentase biomasa untuk PLTU boiler tipe PC sebesar 6%, CFB 40% dan Stoker 70%, maka dapat diperoleh kapasitas produksi EBT dari co-firing sebesar 2,7 GW yang membutuhkan biomasa hingga 14 juta ton per tahun (asumsi CF 70%).

0
133
Co-firing PLTU

(Vibizmedia-Kolom) Co-firing PLTU sebagai salah satu upaya peningkatan bauran EBT 23% pada tahun 2025, dengan menggunakan bahan bakar biomasa.

Pemanfaatan bahan bakar berbasis biomasa sebagai sumber energi
Merujuk pada dokumen “Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories Volume 2 Energy.”

Emisi GRK yang ditimbulkan akibat pembakaran biomasa tidak diperhitungkan ke dalam sektor pembangkitan listrik di dalam inventarisasi emisi GRK nasional.

Emisi biomasa dialokasikan ke dalam sektor kehutanan (the land use, land-use change and forestry, atau LULUCF).

Guidelines ini telah dipublikasikan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2006.

Tahun 2018 dikeluarkan Undang-undang No. 16 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change.

Juga ditetapkannya target Nationally Determined Contribution (NDC). PLN mendukung komitmen Pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030.

Dimana sub sektor ketenagalistrikan merupakan bagian dari komitmen nasional tersebut.

PLN juga berupaya memenuhi target bauran energi dari EBT sebesar 23% pada tahun 2025.

Baca juga :Penggunaan EBT Bukan Pilihan Tetapi Arah Indonesia Ke Depan

PLN berencana memanfaatkan lebih banyak bahan bakar berbasis biomasa.

Dilakukan secara bersama (co-firing) dengan batubara pada beberapa PLTU existing dan rencana.

Biomasa sebagai bahan bakar secara langsung akan dapat menurunkan emisi GRK di sektor pembangkitan listrik Indonesia di masa mendatang.

Memulai percobaan penggantian batubara menjadi biomasa dalam PLTU Stocker untuk mengurangi ketergantungan pada batubara untuk meningkatkan bauran energi dari EBT.

Pusat listrik tenaga biomasa (PLTBm) merupakan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar yang berasal dari hutan tanaman energi (HTE), sampah dan limbah organik.

Pemerintah mendorong pengembangan PLTBm dengan menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 4 tahun 2020.

Diperlukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk menyediakan lahan serta regulasi mengenai harga bahan bakar biomasa jangka panjang.

Dalam hpengembangan PLTBm, diperlukan kepastian pasokan bahan bakar biomasa.

Sebelum dilakukan pembangunan pembangkit biomasa, pasokan bahan bakar biomasa harus sudah dipastikan sumber bahan bakar maupun harga jangka panjangnya.

Co-firing Biomasa dengan Batubara pada PLTU

Co-firing pada PLTU batubara merupakan salah satu program terobosan PLN dalam peningkatan bauran energi terbarukan.

Dilakukan tanpa memerlukan biaya investasi yang signifikan sekaligus dapat menjadi solusi penanganan sampah.

Implementasi co-firing PLTU secara komersial didasari pada uji coba co-firing yang menunjukkan hasil layak secara teknis dan tidak mengganggu keandalan operasional pembangkit.

Jumlah PLTU yang berpotensi untuk dilakukan co-firing dengan total kapasitas hingga 18.895 MW.

Apabila seluruh unit PLTU tersebut telah beroperasi co-firing secara komersial dengan persentase biomasa untuk PLTU boiler tipe PC sebesar 6%, CFB 40% dan Stoker 70%, maka dapat diperoleh kapasitas produksi EBT dari co-firing sebesar 2,7 GW yang membutuhkan biomasa hingga 14 juta ton per tahun (asumsi CF 70%).

Hal ini didukung dengan adanya regulasi/kebijakan terintegrasi, terbentuknya pasokan biomasa yang sustainable, skema bisnis dan rantai pasok biomasa yang telah berjalan dengan baik.

Uji coba co-firing pada PLTU Batubara telah dilaksanakan di beberapa lokasi diantaranya:

PLTU Jeranjang dan PLTU Lontar dengan menggunakan biomasa pelet sampah.

PLTU Paiton 1 & 2, PLTU Indramayu, PLTU Rembang, PLTU Ropa dan PLTU Adipala dengan menggunakan biomasa pelet kayu (wood pellet).

PLTU Anggrek, PLTU Bolok, PLTU Tembilahan dan PLTU Tarahan dengan menggunakan biomasa serpihan kayu (woodchip).

PLTU Tenayan, PLTU Ketapang, PLTU Sanggau, PLTU Belitung, PLTU Teluk Balikpapan, PLTU Nagan Raya dan PLTU Sintang dengan menggunakan biomasa cangkang sawit (palm kernel shell).

PLTU Pacitan, PLTU Paiton 9, PLTU Barru dan PLTU Labuan dengan menggunakan biomasa serbuk gergaji (sawdust).

PLTU Suralaya 1-4 dengan menggunakan biomasa sekam padi.

PLN mencapai target bauran energi EBT pada tahun 2025, dengan program co-firing sebagai salah satu strategi untuk peningkatan bauran EBT.

Untuk itu, diperlukan dukungan dari Pemerintah dan stakeholder lainnya untuk dapat menjaga keberlangsungan jangka panjang pasokan biomasa.

Perlu memberikan harga biomasa yang kompetitif, sehingga tidak berdampak pada peningkatan BPP tenaga listrik.

Peta Sebaran Lokasi Co-firing

Co-firing PLTU dengan Biomasa

Sumber : PLN

Implementasi co-firing biomasa pada PLTU PLN dengan porsi rata-rata 10% untuk PLTU di Jawa-Bali dan 20% untuk PLTU di luar Jawa-Bali, dengan CF 70%, total kapasitas ekuivalen 2.700 MW (kebutuhan biomasa sekitar 11,8 juta ton/tahun).

Peningkatan kebutuhan biomasa merupakan program co-firing dengan batubara sebagai upaya untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dan mengurangi emisi dari batubara.

Tantangan terberatnya adalah bagaimana memastikan keberlangsungan pasokan biomasa dalam jangka panjang serta harga biomasa yang kompetitif, dengan kebutuhan biomasa mencapai hampir 14 juta ton pada tahun 2025.

Roadmap Co-firing Dalam Rangka Peningkatan Bauran EBT 23% dan Menurunkan Emisi CO2

Co-firing PLTU dengan Biomasa

Sumber: ESDM

Upaya dalam menjaga keberlanjutan pasokan biomasa jangka panjang telah dirintis dengan membangun rantai pasok biomasa melalui program pendampingan, pilot project pengembangan skala kecil sampai dengan komersialisasi biomasa, namun tetap diperlukan dukungan berbagai pihak untuk pengembangan ekosistem penyedia biomasa baik dari sisi regulasi dan pengembangan industri biomasa.