Tinjau Homestay Desa Osing Kemiren, Wamenparekraf: Tidak Hanya Banyuwangi, Replika di Daerah Lain

0
76
Homestay di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. FOTO: KEMENPAREKRAF

(Vibizmedia-Nasional) Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo meninjau potensi pariwisata dan ekonomi kreatif di Banyuwangi, salah satunya keberadaan Homestay yang dikelola oleh masyarakat di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, pada Rabu, 6 Juli 2022.

Di desa yang berada di Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini wisatawan dapat menikmati berbagai suguhan potensi budaya. Secara khusus Angela mengapresiasi keberadaan homestay yang dikelola dengan sangat baik oleh masyarakat. Salah satunya adalah Kedaton Wetan homestay yang sebelumnya meraih penghargaan sebagai homestay terbaik di desa wisata dalam ajang

“East Java Tourism Award 2021”. Fasilitas dan layanan yang ditawarkan dapat menyerupai standardisasi hotel bintang 3. Mulai dari kebersihan dan kenyamanan kamar dan tempat tidur, makanan, serta akses digital dalam pemesanan. Tadi saya sudah melihat beberapa homestay dan saya mengapresiasi keberadaan homestay di Banyuwangi yang dapat memenuhi standar amenitas yang baik sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan. Ini mudah-mudahan menjadi replika di daerah-daerah lain” ungkap Angela.

Selain homestay di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Angela juga meninjau Didus Homestay di Kecamatan Glagah, juga beberapa atraksi lain. Angela menilai sebagian besar homestay di Banyuwangi telah memenuhi faktor-faktor yang amat dibutuhkan wisatawan, terutama di masa pandemi Covid-19, yakni layanan standar berbasis cleanliness, health, safety, awareness dan environmental sustainability (CHSE) yang mendukung tercapainya pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

“Menginap di homestay juga memberikan pengalaman berwisata yang lebih karena wisatawan dapat merasakan kehidupan masyarakat, berinteraksi dengan masyarakat, dan yang terpenting memberikan dampak ekonomi langsung ke masyarakat,” kata Angela.

Angela pun mendorong agar pengembangan homestay dapat terus dilakukan. Tidak hanya di Banyuwangi, tapi juga daerah lain. Kemenparekraf dikatakannya memiliki program peningkatan kapasitas juga kapabilitas. Baik terhadap fasilitas homestay juga sumber daya manusia.

“Kami mendorong pengelola homestay dapat memanfaatkan program ini dengan maksimal sehingga pelayanan yang diberikan kepada wisatawan dapat semakin baik. Ini mudah-mudahan (pengelolaan homestay) dapat direplika di daerah lain,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, M. Yanuar Bramuda mengatakan berkembangnya homestay di Banyuwangi tidak lepas dari kebijakan pemerintah daerah yang membatasi pembangunan hotel kelas melati di Banyuwangi.

“Hanya boleh kelas bintang 3 ke atas, maka yang kita tuju adalah dampaknya ke bawah. Maka tumbuhlah homestay yang kemudian menggerakkan ekonomi masyarakat lokal di Banyuwangi,” kata Bramuda.

Dalam mendukung pengembangan homestay, dijelaskan Bramuda, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memiliki program “Homestay Naik Kelas” yang memberikan pendampingan dan dukungan bagi pengelola homestay dalam meningkatkan layanan.

“Bagaimana homestay bisa setara dengan hotel bintang pelayanannya, fasilitasnya. Jadi ketika fasilitasnya naik, otomatis orang akan mau datang sebagai alternatif selain ke hotel,” kata Bramuda.

Perlu diketahui, dari 684 jumlah homestay yang ada di Banyuwangi saat ini, sudah ada 64 yang dinilai telah naik kelas. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sendiri menargetkan ada 1.000 homestay yang dapat ditingkatkan pelayanan dan fasilitasnya.