Indonesia Surplus Bahan Pangan Saat Beberapa Negara Alami Krisis

0
60
Petani Indonesia sedang panen padi (Foto: Handoko/Kontributor Vibizmedia)

(Vibizmedia – Nasional) Saat ini sejumlah negara mengalami krisis pangan akibat dinamika global, tapi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Fadjry Djufry, di Bali minggu lalu, mengungkapkan  bahwa Indonesia cukup beruntung karena kebutuhan pangan dalam negeri mesih terpenuhi. Bahkan Indonesia justru mengalami surplus padi dan diharapkan sebagian akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan negara tetangga.

Fadjry melanjutkan bahwa setiap negara  memiliki strategi yang berbeda untuk menghadapi kondisi krisis pangan tersebut.

Ia melanjutkan bahwa salah satu penyebab terjadi krisis pangan dalah perubahan iklim. Akibat cuaca yang tidak menentu maka sejumlah negara mengalami hambatan dalam produksi bahan pangan. “Yang biasanya mereka tanam satu tahun bisa dua kali, jadi hanya satu kali, atau bahkan tidak sama sekali,” kata Fadjry.

Kondisi ini mendorong sejumlah negara penghasil komoditas pangan tertentu menahan kegiatan ekspor dengan tujuan mengamankan kebutuhan dalam negeri. Akibatnya hal ini memperburuk status pangan dunia dan menimbulkan ancaman krisis.

Fadjry menambahkan bahwa untuk menekan dampak krisis pangan yang berkepanjangan, maka diperlukan upaya bersama dan kolaborasi yang kuat. Itu sebabnya forum G20 kali ini juga memperkuat upaya kerja sama dan kolaborasi tersebut.

Dalam Meeting of Agriculture Chief Scientist (MACS) yang menjadi bagian dari Agriculture Working Group (AWG) Presidensi G20 Indonesia misalnya, berfokus pada mempertajam kemampuan mengatasi ancaman krisis pangan.

Fadjry menyatakan bahwa jika bicara mengenai pangan maka kita perlu belajar dari negara tetangga yang memiliki kesamaan agraris. Untuk padi maka negara yang cukup maju adalah  Jepang, Korea, dan Tiongkok.

“Indonesia punya ekosistem yang sangat lengkap, dari lahan irigasi, lahan kering, lahan hujan, lahan rawa dan sebagainya. Itu yang tidak dimiliki beberapa negara. Jadi sebagian kita adopsi yang mereka lakukan, dan sebagian kita lakukan penyesuaian,” tambahnya.

Dalam MACS G20, pemanfaatan teknologi untuk mendukung kinerja sektor pertanian di belahan dunia menjadi salah satu butir komunike dari pertemuan para ahli di bidang agrikultura.

Penggunaan teknologi di sektor pertanian mampu mendukung upaya ketahanan pangan, baik di level domestik maupun global. Seperti yang dilakukan Indonesia. Keberhasilan Indonesia mengamankan kebutuhan beras dalam tiga tahun terakhir juga didukung oleh pemanfaatan teknologi.

“Jadi bisa dibayangkan kalau tidak ada intervensi teknologi, tidak mungkin kita bisa swasembada,” kata Fadjry.