Resesi , Akankah Indonesia Mengalaminya?

Menanggapi ancaman ini Menkeu Sri Mulyani mengatakan,“Neraca pembayaran kita, APBN kita, ketahanan dari GDP kita, dari juga sisi korporasi, maupun dari rumah tangga dan monetary policy. Kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risikonya 3% dibandingkan negara lain yang potensi resesinya di atas 70%. Ini tidak berarti kita terlena, kita akan tetap waspada."

0
131
Resesi

(Vibizmedia – Kolom) Risiko resesi di beberapa negara Asia meningkat karena harga yang lebih tinggi.

Hal ini telah memacu bank sentral untuk mempercepat laju kenaikan suku bunga mereka, menurut survei ekonom terbaru Bloomberg.

Sri Lanka, yang berada di tengah-tengah krisis ekonomi terburuk yang pernah ada, memiliki kemungkinan 85% jatuh ke dalam resesi di tahun depan, naik dari peluang 33% dalam survei sebelumnya — sejauh ini merupakan peningkatan tertinggi di kawasan itu.

Para ekonom juga menaikkan ekspektasi mereka untuk peluang resesi di Selandia Baru, Taiwan, Australia, dan Filipina masing-masing menjadi 33%, 20%, 20% dan 8%. Bank-bank sentral di tempat-tempat itu telah menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi.

Probabilitas resesi untuk beberapa ekonomi Asia lainnya tetap tidak berubah dalam survei. Para ekonom melihat peluang 20% ​​bahwa China akan memasuki resesi, dan kemungkinan 25% bahwa Korea Selatan atau Jepang akan memasukinya.

Ekonomi Asia sebagian besar tetap tangguh dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Serikat.

Lonjakan harga energi telah memukul negara-negara seperti Jerman dan Prancis paling banyak, dengan efek limpahan yang berdampak pada wilayah lainnya, kata Steven Cochrane, kepala ekonom Asia Pasifik di Moody’s Analytics Inc.

Secara umum, risiko resesi di Asia sekitar 20-25%, katanya, seraya menambahkan bahwa kemungkinan AS masuk adalah sekitar 40%, sedangkan Eropa berada pada 50-55%.

Model Bloomberg Economics menempatkan peluang resesi AS sebesar 38% dalam 12 bulan ke depan, naik dari sekitar 0% hanya beberapa bulan sebelumnya. Model itu menggabungkan berbagai faktor mulai dari izin perumahan dan data survei konsumen hingga kesenjangan antara hasil Treasury 10-tahun dan 3 bulan.

ResesiSumber : Bloomberg

Akankah Indonesia masuk dalam resesi?

Menurut riset yang dilakukan bloomberg ini probabilitas Indonesia masuk dalam resesi adalah sebesar 3 persen. Indonesia sebelumnya pada tahun 2020 telah mengalami resesi, dan berhasil melewatinya.

Baca juga :Indonesia Keluar Dari Resesi, Ekonomi Triwulan II-2021 Tumbuh Sebesar 7,07 Persen (y-on-y) dan 3,31 Persen (q-to-q)

Menanggapi ancaman ini Menkeu Sri Mulyani mengatakan,“Neraca pembayaran kita, APBN kita, ketahanan dari GDP kita, dari juga sisi korporasi, maupun dari rumah tangga dan monetary policy. Kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risikonya 3% dibandingkan negara lain yang potensi resesinya di atas 70%. Ini tidak berarti kita terlena, kita akan tetap waspada.”

“Kita akan gunakan semua instrumen kita, berhati-hati dalam membuat kebijakan, baik itu fiscal and monetary policy di sektor keuangan dan juga regulasi yang lainnya untuk memonitor situasi, terutama potensi exposure dari korporasi Indonesia” demikian disampaikan Menkeu di Nusa Dua, pada Rabu, 13 Juli yang lalu.

Sri Mulyani menambahkan hal yang baik adalah sejak terjadinya krisis 2008-2009, krisis global, sektor keuangan kita sekarang jauh lebih prudent.

Kondisi yang kita hadapi saat ini banyak dipengaruhi oleh kondisi domestik. Intervensi fiskal dan pulihnya daya beli berbeda-beda untuk masing-masing negara Asean. Begitu juga kemampuan untuk menahan inflasi juga berbeda-beda, karena kapasitas fiskal.

Indonesia sebagai eksportir besar komoditas, memiliki tambahan profit dari naiknya harga komoditas energi seperti CPO dan Batubara.

Ini adalah windfall profit karena kenaikan harga batubara dan CPO bagi Indonesia yang diperkirakan terus terjadi hingga akhir tahun.Karena ini Indonesia memiliki resiliensi dalam menambah subsidi ketimbang negara lain.

Namun belum bisa dipastikan apakah kondisi ini akan terus berlangsung pada tahun 2023 dan seterusnya.

Indonesia memiliki kemampuan karenanya untuk tetap menahan inflasi karena kekuatan anggaran menopang subsidi migas yang sangat besar.

Belajar dari Krisis Srilanka

Dalam riset yang dilakukan Bloomberg, memang Sri Lanka adalah negara dengan probabilitas terbesar mengalami resesi. Indikator-indikator yang dialami Srilanka yang menyebabkan krisis patut dipelajari.

Sri Lanka mengalami krisis disebabkan oleh ketidakmampuan membayar utang luar negeri sebesar 51 milliar dolar Amerika. Hal ini membuat Sri Lanka tidak mempunyai cadangan dolar yang menyebabkan ketidakmampuan untuk membayar impor bahan pokok.

Baca juga : Beberapa Fakta Mengapa Sri Lanka Mengalami Krisis Ekonomi ?

Apakah yang harus dilakukan Indonesia?

Untuk mempertahankan ekonomi Indonesia terhindar dari krisis, maka yang perlu dilakukan antara lain adalah melakukan diversifikasi ekonomi.

Ketergantungan Indonesia terhadap komoditi tentunya harus diimbangi dengan peningkatan sektor-sektor lain khususnya manufaktur.

Tidak mengandalkan impor, untuk pangan dan energi Indonesia harus meningkatkan produksi dalam negeri dan tidak bergantung pada impor.

Penghematan belanja pegawai dan anggaran dengan digitalisasi perijinan. Mengelola kebijakan subsidi agar tidak memberatkan APBN.

Belajar dari Sri Lanka sangat penting bagi Indonesia untuk mengelola utang luar negeri yang akhir Mei 2022 sebesar 406,3 miliar dolar Amerika.

Utang luar negeri terdiri dari utang pemerintah, utang bank sentral dan juga utang swasta.

Dibandingkan dengan akhir Mei 2021 utang luar negeri Indonesia sudah terkontraksi sebesar 2,6 persen (year of year).

Dari jumlah ini utang luar negeri pemerintah sudah terkontraksi sebesar 7,5 persen (year of year). Sedangkan utang luar negeri swasta terkontraksi sebesar 0,7 persen (year of year).

Utang luar negeri pemerintah mayoritas digunakan kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 24,5 persen.

Dialokasikan untuk pendidikan sebesar 16,5 persen, administrasi pemerintah dan pertahanan sebesar 15,1 persen, untuk konstruksi sebesar 14,3 persen dan jasa keuangan sebesar 11,8 persen.

Projection Indonesia Government Debt to GDP

resesiStruktur utang luar negeri Indonesia dalam kondisi sehat sekarang ini.

Pertama rasio Utang luar negeri terhadap PDB sebesar 32,3 persen yang turun dibandingkan bulan April sebesar 32,6 persen.

Rasio ini masih di bawah 60 persen seperti yang tertulis dalam Undang-Undang Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003, batas maksimal rasio utang pemerintah adalah 60 persen terhadap PDB.

Kedua utang luar negeri Indonesia sifatnya jangka panjang sebesar 86,7 persen. Ketiga Utang luar negeri Indonesia digunakan untuk pembangunan dan pemulihan ekonomi nasional.

Kreditur Indonesia terdiri dari Singapura sebesar 59,8 miliar dolar Amerika, Amerika Serikat 34,8 miliar dolar Amerika, Jepang 25,1 miliar dolar Amerika, Tiongkok 21,7 miliar dolar Amerika, Hongkong 17,5 miliar dolar Amerika.

Penutup

Indonesia saat ini dalam posisi yang baik dari sisi ekonomi, namun peringatan untuk waspada memang harus dilakukan.

Situasi geo politik, situasi pandemi yang masih merupakan ancaman, dan juga krisis bahan pangan dan energi yang terjadi juga patut diwaspadai.

Menurut data World food programe angka kelaparan akut meningkat dari 135 juta pada tahun 2019 menjadi 276 juta di tahun 2022.

Inflasi yang memukul negara-negara di dunia juga menjadi ancaman bagi Indonesia. Inflasi pada bulan Juni 2022 adalah angka tertinggi sejak 2017.

Pada pertemuan G20 di Nusa Dua pekan lalu, per bulan Maret lalu harga pangan sudah melonjak hingga 13 persen, dan diprediksi bisa melonjak hingga 20 persen pada akhir tahun 2022.

Perang yang terjadi dan juga pandemi menciptakan hal ini karena terjadi gangguan pada supply bahan pangan.

Praktek penimbunan pangan harus dihentikan. Perlu didorong pengembangan industri pertanian untuk mempertahankan industri pangan.

Terakhir diperlukan juga bantuan keuangan bagi negara-negara yang rentan.

Indonesia tampil menggagas ide-ide ini dalam pertemuan dengan negara-negara G20 sebagai upaya mengatasi krisis dan resesi yang mengancam Indonesia dan negara-negara dunia.