Lonjakan Harga Komoditas Dunia: Krisis Pangan? Stagflasi?

0
1381
si Old Spice Bazaar
Old Spice Bazaar, Eminonu, Türkiye (Foto: Herwantoro/ Vibizmedia)

(Vibizmedia – Kolom) Lonjakan harga-harga komoditas cenderung menjadi ancaman secara global, selain mengarah pada krisis pangan juga memukul pertumbuhan ekonomi dunia. Peningkatan ekspor komoditas secara positif mendorong pertumbuhan ekonomi, namun tergerus habis oleh impor komoditas yang juga melonjak.

Jurang antara pasokan pangan dengan kebutuhannya semakin melebar, beberapa faktor yang secara simultan saling mempengaruhi diantaranya adalah:

  1. Masalah cuaca ekstrim seperti kekeringan, gelombang panas, banjir. Fenomena alam ini sudah berlangsung sekitar 2 tahun belakangan, membuat hasil pertanian mengalami kerusakan. Brazil mengalami kekeringan hebat pada tahun 2021, fenomena ini juga menghantam China, demikian juga India yang mengalami gelombang panas hingga 45 C pada bulan April 2022, negara-negara ini adalah penghasil gandum dunia.
  2. Kerusakan yang terjadi pada rantai pasokan pangan secara global juga terjadi akibat pandemi Covid-19, kondisi ini belum pulih hingga saat ini.
  3. Perang Ukraina – Rusia turut memicu krisis lebih jauh, karena kedua negara ini mempunyai kontribusi besar sebagai penghasil komoditas kalori seperti gandum, minyak nabati  dan juga energy. Sehingga dampak dari perang ini berpengaruh kuat mengarah pada kelangkaan pangan dunia.

Harga Komoditas Dunia

Tahun ini harga minyak mentah, logam dan biji-bijian meningkat tertinggi sejak 1995, bahkan harga minyak selama dua tahun ini, sebagai tertinggi sejak 50 tahun terakhir.

Kenaikan harga minyak ini sangat berpengaruh pada membengkaknya biaya operasional dan distribusi hasil pertanian.

Demikian juga meningkatnya harga nitrogen, juga potash yang merupakan bahan dasar pupuk, sebab pengurangan penggunaan pupuk sangat mempengaruhi hasil produksi pertanian.

Harga komoditas yang melonjak ini terjadi karena permintaan sangat meningkat, bersamaan dengan pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19 mereda, di satu sisi kelangkaan pasokan meningkat karena faktor fenomena alam, kerusakan rantai pasokan dan juga akibat faktor geopolitik.

The Refinitiv CoreCommodity CRB Index,  naik hingga 46% per tahun pada akhir Januari 2022, ini terbesar kenaikannya sejak 1995. Terutama pada minyak mentah dan bahan bakar. Dari 22 komoditas utama, 9 komoditas mengalami kenaikan lebih dari 50%, termasuk di dalamnya kopi naik 91%, cotton naik 58% dan alumunium naik 53%.

Inflasi Global

Dampak lanjutan dari kenaikan harga komoditi secara global adalah inflasi global, dimana produk pangan dan energy memberikan dorongan inflasi paling kuat.

Inflasi global 2022 diperkirakan bisa mencapai 7.9%, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan rata-rata 2001-2019 yang hanya berkisar 3.8%

Secara umum hampir di semua negara mengalami kenaikan inflasi, namun kadarnya bervariasi sesuai dengan tingkat ketergantungan negara tersebut pada komoditas energy, semakin bergantung maka semakin terdampak terutama di tahun 2022 hingga 2023.

Amerika Serikat mengalami tekanan inflasi setelah era pandemi, hal ini akibat kekurangan tenaga kerja dan gangguan supply chain.

Inflasi di AS mencapai 9.1% pada 2022, sekalipun The FED berusaha untuk menekan inflasi dan menaikkan suku bunga. Ketatnya pasar tenaga kerja berbarengan dengan peningkatan harga komoditas global membuat inflasi sulit ditahan, inflasi di atas target yang diinginkan hanya 2%.

Inggris tingkat inflasi mencapai 9.1% pada 2022, inflasi terdorong oleh kenaikan harga minyak dan produk energy, jasa-jasa rumah tangga dan biaya transportasi. Ketatnya pasar tenaga kerja karena pandemi dan juga berbagai dampak Brexit menjadikan inflasi terus melejit.

Negara-negara Eurozone juga mengalami inflasi tinggi terutama karena didorong harga-harga energy. Jerman diperkirakan 6.7%, Italy 6.5% dan Spanyol 7.8% pada tahun 2022, tekanan inflasi ini sangat berdampak pada turunnya kegiatan usaha secara menyeluruh di Eurozone.

Perang Ukraina – Rusia

Perang Ukraina – Rusia memicu harga-harga komoditi meningkat. Hanya beberapa minggu sesudah pecah perang, maka harga minyak langsung melejit hingga lebih dari 30% dan harga gas alam Eropa meningkat lebih dari 60%.

Harga-harga pangan sebelum perang memang sudah meningkat 23% pada tahun 2021, karena gagal panen pengaruh dari cuaca ekstrim dan juga tingginya harga bahan bakar.

Kemudian invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari 2022 semakin mendorong harga pangan melambung, karena kedua negara yang bertikai merupakan eksportir terbesar dunia untuk komoditas gandum.

Peningkatan harga komoditi ini memang tidak terlepas dari putusnya sistem pasokan pangan, akibat perang Ukraina-Rusia, kedua negara yang bertikai ini menyumbang lebih dari 10% supply gandum dunia, dan lebih 20% supply gas alam dunia. Sejak pecah perang maka konsumsi rata-rata negara Eurozone mengalami penurunan hingga 30%, sehingga negara-negara ini terpaksa melakukan pembatasan konsumsi gas di negaranya masing-masing.

Invasi ini membuat ekspor dari kedua negara tersebut terganggu, karena pelabuhan laut dan juga ladang pertanian terbengkalai tidak lagi terurus. Seperempat dari ekspor gandum global dan seperlima grain dan jagung, dan lebih dari setengahnya dari minyak bunga matahari terhenti eskpornya. Jadi kedua negara ini mempunyai kontribusi seperdelapan dari kalori yang diperdagangkan dunia.

Rusia dan Ukraina juga merupakan penghasil pupuk berbasis kalium, akibat perang ini maka harga bahan bakar naik, mengakibatkan biaya produksi pupuk turut melejit. Hal ini menjadikan biaya produksi untuk produk pertanian meningkat dan karena pemakaian pupuk dikurangi maka hasil panen turun.

Sebagai reaksi dari kondisi ini beberapa negara bahkan melakukan proteksi domestiknya, membatasi ekspor demi  mengutamakan kebutuhan domestiknya, sehingga pasokan produk biji-bijian dan minyak goreng di pasar internasional semakin terbatas.

Food Security

Kebijakan proteksi sebagai respon kondisi global ini dilakukan demi alasan ketahanan pangan atau food security. Sejak pandemi Covid-19 memang kebijakan ini sudah dimulai oleh beberapa negara.

Ada 35 negara yang membuat kebijakan untuk mengontrol ekspor-nya sepanjang masa pandemi ini.

Sebagai contoh:

  • Kazakhstan sebagai produsen gandum dan tepung terigu, pada 14 April 2022 melakukan pelarangan eskpornya.
  • Rusia sebagai pengekspor gandum, jagung dan biji-bijian juga melakukan hal yang sama pada 30 Juni 2022.
  • India yang merupakan salah satu dari 10 negara pengekspor gandum, sejak 14 Mei 2022 juga telah mengumumkan pembatasan ekspor.
  • Mesir, Serbia, Aljazair dan Kosovo juga menghentikan ekspor gandumnya
  • Indonesia sebagai penghasil 75% palm oil, membatasi ekspornya untuk menutupi kebutuhan dalam negeri.
  • Sejak pecah perang Ukraina 24 Februari 2022, negara yang melakukan pelarangan ekspor meningkat dari 3 menjadi 16 negara. Pelarangan ini mengurangi 17% kontribusi perdagangan kalori secara global.

Proteksionisme produk pangan ini demi menjaga konsumsi domestik dan mengantisipasi dampak perang Ukraina – Rusia. Hal-hal seperti ini menambah harga komoditi semakin melonjak secara signifikan, diantaranya terlihat pada harga gandum dan minyak goreng.

Berhubung tanda-tanda perang belum menunjukkan bakal usai, maka penutupan keran ekspor sebagai proteksi domestik ini sepertinya juga akan terus berlangsung.

Produk pangan yang paling terdampak oleh kebijakan proteksi ini diantaranya:

  • Gandum
  • Jagung
  • Minyak sawit
  • Minyak bunga matahari
  • Minyak kedelai

Krisis Pangan

Tingkat populasi masyarakat kekurangan gizi, yaitu pemenuhan konsumsi jangka panjang meningkat secara drastis, menjadi 118 juta orang pada tahun 2020. Sedang tingkat populasi masyarakat yang mengalami kelaparan akut, untuk memenuhi konsumsi jangka pendek naik menjadi hampir 40 juta pada tahun ini.

Kita lihat bahwa konflik geopolitik menjadi kontributor besar krisis pangan ini, dimana 139 juta orang menghadapi krisis pangan di 24 negara pada tahun 2021. Dengan adanya perang Ukraina-Rusia akan menambah risiko kelaparan hingga  jutaan orang lagi.

Kerusakan sistem pasokan akibat perang, selain sistem rantai distribusi-nya putus, juga infrastruktur pertanian banyak mengalami rusak parah, karena ladang-ladang menjadi medan tempur dan terbengkalai sehingga hasil panennya juga mengalami kehancuran.

Diperburuk dengan blokade distribusi hasil pertanian dari Ukraina oleh Rusia, ada 2 juta ton hasil pertanian tertahan di pelabuhan karena blokade ini. Rusia sendiri juga terkena sanksi internasional akibat melakukan invasi ke Ukraina.

Sehingga bila krisis perang Ukraina-Rusia ini berkepanjangan maka ancaman krisis pangan menjadi menjadi semakin serius untuk bisa terjadi secara global.

Pertumbuhan Ekonomi Global

Pertumbuhan ekonomi secara global merosot akibat kenaikan harga-harga komoditas ini, dampaknya memang berbeda untuk masing-masing, tergantung dari pola ekspor dan impornya sejauh mana terkait dengan negara-negara yang terdampak.

Secara umum pengaruh dari kenaikan harga komoditas global ini menyebabkan inflasi secara global, dan bahayanya bisa mengarah pada kondisi stagflasi 1970. Dimana kenaikan harga-harga komoditas menjadi pemicu inflasi, dan akibat inflasi maka pertumbuhan ekonomi menjadi stagnan.

Perang Rusia – Ukraina memberi kontribusi signifikan pada inflasi global yang kemudian memperlambat pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 6.1% pada tahun 2021, namun merosot menjadi 3.6% pada 2022 dan 2023, demikian prediksi dari IMF.

Resiko Stagflasi

Resiko stagflasi yaitu keadaan dimana inflasi tinggi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan, tanda-tanda menuju kondisi ini semakin terlihat.

Beberapa negara telah melakukan kebijakan moneter dengan meningkatkan suku bunga dalam rangka pengetatan moneter guna menekan inflasi. Namun kebijakan ini dari sisi biaya pinjaman memberatkan beban bunga pinjaman, sehingga profitabilitas usaha dan investasi menurun, penurunan investasi ini menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Bahkan sebelum pecah perang Ukraina, beberapa negara sudah mengalami inflasi seperti AS, Inggris, Eurozone akibat dari rusaknya rantai pasokan pada masa pandemi Covid-19. Sedang permintaan sangat tinggi karena kebijakan stimulus yang memang diluncurkan untuk memacu kegiatan ekonomi pada masa pandemi.

Risiko stagflasi ini banyak dikhawatirkan sebagai dampak lanjutan dari resesi ekonomi global. Termasuk di Eropa yang prospek ekonominya tertekan krisis energi, dampak dari perang, dan inflasi, sehingga mata uang euro merosot ke level parity vs USD (1:1), terendah dalam 20 tahun terakhirnya.

Rawan Kebangkrutan

Akibat kondisi ini di beberapa negara seperti yang terjadi di Sri Lanka, sudah mulai terjadi instabilitas politik sehingga gelombang protes dalam skala besar yang menuntut adanya perubahan kondisi.

Masalahan ekonomi jika sudah memasuki ranah kebutuhan hidup masyarakat, maka sangat mudah melebar pada ranah non ekonomi seperti instabilitas politik, sosial bahkan keamanan yang seringkali menjadi sulit dikendalikan oleh pemerintah.

Permasalahan di Sri Lanka adalah kondisi kenaikan harga komoditas ini sudah masuk ke kehidupan pokok masyarakat seperti kesulitan bahan bakar sehingga transportasi terhambat,  pemadaman listrik, kelangkaan obat-obatan, impor pangan terhenti. Hal ini karena beban hutang yang sangat tinggi dan mandeg-nya sektor pariwisata sebagai pencetak devia, maka cadangan devisa tidak mencukupi untuk impor kebutuhan pokok tersebut di atas.

Selain Sri Lanka, maka beberapa negara juga sudah rawan menuju kebangkrutan, diantaranya:

  1. Afghanistan: Sanksi negara Barat, sektor perbankan lumpuh, rawan pangan.
  2. Argentina: Inflasi mencapai 70%, kehabisan cadangan devisa, mata uang peso jatuh.
  3. Laos: Terjerat hutang, cadangan devisa terkuras, mata uang jatuh 30% terhadap US dollar.
  4. Lebanon: Disfungsi pemerintah, konflik politik, inflasi mencapai 211%, gagal bayar hutang.
  5. Mesir: Inflasi mencapai 15%, kemiskinan meningkat drastis, kesulitan hutang.
  6. Myanmar: Pertumbuhan ekonomi minus 18%, konflik politik dan terkena saksi dari negara Barat.
  7. Pakistan: Inflasi mencapai 21%, rupee Pakistan merosot 30% terhadap US dollar.
  8. Turki: inflasi mencapai 70%, mata uang lira Turki terus melemah terendah sepanjang masa.
  9. Zimbabwe: inflasi mencapai 130%, korupsi parah dan terjerat hutang.

Harapan Indonesia

inflasi tahunan hingga Juni 2022 sebesar 4,35% yoy, masih terkendali, walaupun triwulan terakhir berada di level 5 tahun tertingginya.

Cadangan devisa Indonesia Juni 2022 sebesar 136,4 miliar dolar AS, setara pembiayaan 6,6 bulan impor, di atas standar kecukupan internasional 3 bulan impor.

Rasio utang luar negeri 40,17% per Februari, masih aman dan relatif lebih rendah dari negara-negara Asean dan G20.

Kita syukuri kondisi inflasi yang relatif aman, cadangan devisa yang memadai, serta rasio utang yang masih di batas aman, membuat Indonesia memiliki ketahanan eksternal terhadap tekanan risiko stagflasi dan resesi global ini.

Namun selama kondisi global menunjukkan arah yang meredup, maka sebagai pelaku usaha perlu mewaspadai bahwa ekonomi Indonesia tidak terlepas dari kondisi global.

Stabilitas ekonomi domestik ini bisa setiap saat terpengaruh oleh kondisi global yang terus bergejolak.