Menlu RI: Tiga Isu Kuatkan Arsitektur Kesehatan Global

0
63
arsitektur kesehatan global
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan virtual COVID-19 Global Action Plan Foreign Ministerial Meeting, 19 Juli 2022 (Foto: Kemenlu)

(Vibizmedia – Internasional) Pada 19 Juli 2022 Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi berpartisipasi pada pertemuan virtual COVID-19 Global Action Plan Foreign Ministerial Meeting. Dalam pertemuan ini Menlu mendorong penguatan arsitektur kesehatan global dan kesiapan menghadapi pandemi di masa depan.

Menlu menegaskan bahwa semua perlu menyadari bahwa pandemi belum usai, dan mengatasi pandemi masih menjadi prioritas saat ini. Bersamaan dengan itu maka kita harus memperkuat arsitektur kesehatan global, agar lebih siap menghadapi pandemi di masa depan.

arsitektur kesehatan global
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan virtual COVID-19 Global Action Plan Foreign Ministerial Meeting, 19 Juli 2022 (Foto: Kemenlu)

Terkait hal ini, Menlu menjelaskan adanya  tiga isu yang perlu menjadi fokus.

Pertama, distribusi kebutuhan kesehatan publik: akses setara terhadap solusi medis

Saat ini akses terhadap solusi medis masih tidak setara, utamanya di negara-negara berkembang. Diperlukan mekanisme permanen untuk mendorong akses setara terhadap solusi medis.

“COVAX (COVID-19 Vaccines Global Access, sebuah inisiatif global yang ditujukan untuk akses setara untuk vaksin-vaksin COVID-19- Red) dapat digunakan untuk tujuan ini, termasuk di tataran regional, dengan catatan harus didukung dengan pasokan yang memadai. Kita harus memperkuat kapasitas produksi negara-negara berkembang dengan mereplika model produksi vaksin ‘hubs and spoke,” ujar Menlu.

Kedua, pembiayaan kesiapsiagaan pandemi

Dalam konteks ini, Financial Intermediary Fund yang dikembangkan selama Presidensi G20 Indonesia berperan penting untuk membantu negara-negara menghadapi darurat Kesehatan.

Indonesia telah berkomitmen untuk berkontribusi sebesar USD 50 juta pada Fund tersebut dan mengajak negara-negara lain untuk ikut berkontribusi.

Ketiga, kesetaraan landasan tata kelola kesehatan global.

Terkait ini, proses pembentukan Traktat Pandemi baru telah berjalan. Kesiapsiagaan pandemi yang lebih baik dan ditopang oleh prinsip solidaritas dan keseteraan harus menjadi landasan tata kelola kesehatan global ke depan, dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pemegang mandat.

“Mari bekerja bersama-sama secara sinergis untuk pulih lebih kuat dari pandemi ini,” pungkas Menlu.

Pertemuan COVID-19 Global Action Plan Foreign Ministerial Meeting diinisiasi oleh AS dan Jepang dengan tujuan mendorong kemauan politik (political will) negara-negara dalam mengakhiri pandemi dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman kesehatan di masa depan.