PLN Perlu Dukungan Pendanaan Rp72 Triliun Per Tahun Untuk Proyek Kelistrikan

0
56
investasi pln
Ilustasi tenaga listrik (Foto: Dokumentasi PLN)

(Vibizmedia – Nasional) Seperti dilansir Info Publik, Vice President of Financial Institution and Market Research PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero, Maya Rani Puspita, menyatakan bahwa hingga 2030 PLN membutuhkan investasi sekitar Rp72 triliun per tahun dalam rangka mendukung proyek ketenagalistrikan.

Hal ini disampaikan Maya  melalui keterangan tertulisnya dalam Task Force 8 T20 2022 di Jakarta, Kamis (21/7/2022).

Maya menyampaikan bahwa  dengan  kebutuhan investasi yang sangat besar sementara dana internal terbatas  maka PLN memerlukan dukungan pendanaan yang bersumber dari eksternal.

Ia melanjutkan bahwa dukungan pendanaan dari eksternal tersebut baik dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) oleh pemerintah maupun melalui pinjaman.

Peminjaman Two-step Loans 

Beberapa opsi skema pinjaman pendanaan yang telah dilakukan PLN selama ini antara lain adalah berupa two-step loans atau penerusan pinjaman dari pemerintah.

Maya menjelaskan bawa two-step loans merupakan suatu skema pendanaan dengan pinjaman dilakukan secara Government to Government (G to G) yang selanjutnya akan diteruspinjamkan oleh pemerintah ke PLN.

Peminjaman Direct Lending

Selain itu, PLN  memiliki pinjaman dengan skema direct lending dari dalam dan luar negeri baik dengan jaminan pemerintah maupun tanpa jaminan pemerintah.

Penerbitan Surat Utang

Tak hanya itu, pinjaman-pinjaman yang dilakukan PLN pun turut melalui penerbitan surat utang dalam bentuk obligasi baik dalam negeri maupun global bonds.

“PLN mengeksplor opsi pendanaan seperti global bonds yang kami terbitkan pada 2017 maupun opsi penerbitan lain yang sekiranya memberikan benefit secara maksimal bagi PLN,” ujarnya.

Terus Mengeksplor Skema Pendanaan

Menurut Maya, masifnya nilai investasi ini menuntut PLN untuk terus mengeksplor berbagai skema pendanaan sehingga perseroan terus mendapatkan pinjaman dengan pricing yang sangat kompetitif.

Terlebih lagi, bank dalam negeri memiliki kapasitas yang terbatas untuk memberikan pembiayaan mengingat harus tunduk terhadap ketentuan batas maksimum penyediaan kredit.

“Penyaluran kredit ke PLN sendiri saat ini space-nya sudah sangat terbatas sehingga mau tidak mau kami harus mengeksplor pendanaan dari luar negeri,” tegasnya.