Prinsip Gotong Royong Falsafah Sunda Diterapkan Presidensi G20 Indonesia

0
77
gotong royong pulih dari pandemi
Chair of G20 EdWG, Iwan Syahril (Foto: Kemendikbudristek)

(Vibizmedia – Nasional) Pertemuan ketiga Kelompok Kerja Pendidikan (Education Working Group/EdWG) G20 digelar secara hibrida di Bandung pada tanggal 27–28 Juli 2022 oleh  Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemedikbudristek). Pertemuan ini menindaklanjuti  pertemuan kedua EdWG G20 yang dilakukan pada Mei lalu.

Chair of G20 EdWG, Iwan Syahril mengatakan bahwa Kemendikbudristek terus memperkuat komitmennya mengajak dunia bergotong royong dalam pulih bersama dari pandemi untuk pulih lebih kuat.

Iwan menjelaskan bahwa melalui pertemuan ketiga ini, Kemendikbudristek bersama para delegasi negara-negara anggota G20, negara undangan khusus, organisasi internasional, serta kelompok kerja (working group), dan kelompok pelibatan (engagement group) akan berdiskusi lebih lanjut jelang pertemuan tingkat menteri pendidikan pada bulan September.

Terapkan Falsafah Sunda:  Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, Silih Wawangi

Terkait pelaksanaan pertemuan di Bandung, Iwan menyampaikan falsafah masyarakat Sunda yang erat kaitannya dengan gotong royong untuk pulih bersama yang diusung Presidensi G20 Indonesia, yakni silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.

Silih yang berarti “saling”, mengandung makna transformatif yang bersifat resiprokal. Itu sebabnya Iwan melanjutkan, “Pada pertemuan-pertemuan G20 bidang pendidikan yang kita pimpin, para delegasi saling memberikan respon. Tujuannya untuk bertransformasi bersama dan  bergotong royong untuk mencapai pemulihan global, khususnya di bidang pendidikan.”

Di samping itu, silih asih dapat dimaknai sebagai saling mengasihi terhadap sesamanya. Silih asah mempunyai makna saling mencerdaskan antarmanusia. Silih asuh mempunyai makna yaitu saling menjaga. Sementara itu, silih wawangi dapat bermakna saling memberi dukungan ke arah yang positif.  Nilai yang terkandung di dalam falsafah ini dapat dimaknai sebagai proses untuk mencapai kualitas kemanusian yang sejahtera.

“Saya pikir, dalam upaya memperkuat komitmen untuk memulihkan sektor pendidikan secara bergotong royong, falsafah masyarakat Sunda silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi sangat relevan dan dapat menjadi penguat,” tutup Iwan yang juga Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, dan  Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek.

Agenda Prioritas: Solidaritas dan Kemitraan serta Masa Depan Dunia Kerja Pasca COVID-19

Pada pertemuan ketiga EdWG ini, Kemendikbudristek akan memimpin pembahasan terkait beberapa agenda prioritas, yaitu Solidaritas dan Kemitraan, serta Masa Depan Dunia Kerja Pasca COVID-19. Kemendikbudristek juga akan memimpin pembahasan lebih lanjut terkait Laporan G20 EdWG, serta draf Deklarasi  Menteri Pendidikan yang sempat dibahas pada pertemuan sebelumnya.

Menuju Transforming Education Summit

Tak hanya itu, Kemendikbudristek  akan mengajak para delegasi untuk berdiskusi pembahasan terbaru komitmen dunia di bidang pendidikan yang telah dibahas pada Transforming Education Pre-Summit di bulan Juni lalu. Adapun kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara menuju pertemuan Transforming Education Summit yang direncanakan akan dilaksanakan pada September 2022  diinisiasi oleh UNESCO.

Pada pertemuan EdWG G20 kedua pada Mei lalu, terobosan-terobosan Merdeka Belajar telah diangkat sebagai contoh praktik baik yang menjadi tonggak gotong royong transformasi pendidikan di Indonesia, sekaligus sebagai dasar agenda prioritas bidang pendidikan G20.

Hal ini sejalan dengan nilai gotong royong serta visi yang diutarakan oleh Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim pada pertemuan EdWG G20 kedua, bahwa Indonesia telah melihat ke masa depan, dan mengajak dunia untuk turut bergerak ke masa depan.

Kerjasama RI-Belanda Tingkatkan Kualitas Pembelajaran di Indonesia