EdWG 20 Wujudkan Gotong Royong Global Bekali Pelajar dengan Ketrampilan

0
68
transformasi pendidikan
Iwan Syahril, Ketua EdWG G20, Chair of the G20 EdWG (Foto: Dok Kemdikbudristek)

(Vibizmedia-Nasional) Pada tanggal 27-28 Juli 2022, berlangsung pertemuan ketiga Kelompok Kerja Pendidikan G20 (G20 Education Working Group/EdWG) yang membahas agenda prioritas ketiga dan keempat G20 bidang pendidikan.  Kedua agenda yang dibahas adalah  Solidaritas dan Kemitraan serta Masa Depan Dunia Kerja Pasca Covid-19. Pembahasan  dilakukan dengan tujuan  mewujudkan gotong royong global untuk membekali para pelajar dengan keterampilan yang relevan di masa depan.

Iwan Syahril, Ketua EdWG G20 (Chair of the G20 EdWG), mengatakan bahwa pandemi semakin menyadarkan akan adanya kebutuhan mendesak untuk mentransformasi sistem pendidikan, tidak hanya di skala nasional tetapi juga global. Di masa pandemi, pelajar di seluruh dunia, terlepas jenjang dan usia, mengalami learning loss.  Bahkan ada juga pelajar yang sama sekali tidak mendapatkan akses terhadap pendidikan selama pandemi. Hal ini secara substansial mempengaruhi proses belajar dan dapat menghambat para pelajar untuk meraih impian mereka.

Pada pertemuan ketiga EdWG G20 ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) turut mengundang kelompok pelibatan (engagement group) seperti Civil20 dan Think20; organisasi internasional seperti UNICEF, UNESCO, dan OECD; serta Kelompok Kerja Bidang Ketenagakerjaan G20 (G20 Employment Working Group/EWG).

Kehadiran para perwakilan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi terbaru kepada EdWG G20 agar pembahasan agenda prioritas G20 bidang pendidikan semakin relevan dengan aspirasi pemangku kepentingan bidang pendidikan dan ketenagakerjaan yang lebih luas

Dalam pertemuan ini, UNESCO memaparkan G20 Skills Strategy yang dikembangkan bersama EWG G20 untuk mendukung pendekatan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning approach).

Sistem pendidikan tidak hanya menjawab transisi lapangan pekerjaan, tetapi  dapat membentuk kebutuhan lapangan pekerjaan

The Director of the Division for Policies and Lifelong Learning Systems, UNESCO, Borhene Chakroun menjelaskan bahwa sistem pendidikan tidak hanya menjawab transisi lapangan pekerjaan, tetapi  dapat membentuk kebutuhan lapangan pekerjaan. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan cara mengubah pedagogi (changing pedagogy), mengadaptasi kurikulum (adapting curricula), meningkatkan peran guru (upgrading the role of teachers), melindungi dan reimajinasi sekolah (protecting and reimagining schools), serta mempromosikan ruang belajar baru (promoting new learning spaces).

Tengah bergulir di Indonesia melalui berbagai terobosan Merdeka Belajar

Masukan dari UNESCO tersebut tengah bergulir di Indonesia melalui berbagai terobosan Merdeka Belajar. Antara lain melalui Kurikulum Merdeka, Asesmen Nasional. berbagai kebijakan yang berpusat pada guru seperti Guru Penggerak dan Platform Merdeka Mengajar, serta  Sekolah Penggerak.

“Berbagai sudut pandang yang bermanfaat untuk memulihkan sektor pendidikan disampaikan melalui kesempatan berdiskusi bersama kelompok kerja dan organisasi internasional di luar EdWG G20. Saya sangat berharap kita semua dapat belajar dari pengalaman dan informasi yang dibagikan, serta menjadikannya sebuah inspirasi untuk mengembangkan pendekatan terbaik untuk mentransformasi sistem pendidikan,” tutup Iwan Syahril.

transformasi pendidikan

Komitmen Kemendikbudristek Pimpin Pemulihan Sektor Pendidikan Negara G20