Indonesia Usulkan Proposal Indonesian Paper untuk Pengaturan Program Kapal Selam Bertenaga Nuklir di PBB

0
96
Kapal Kapal Selam Bertenaga Nuklir
Proposal yang juga dikenal sebagai “Indonesian paper" ini disampaikan dalam 10th  Review Conference of the Parties to the Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT RevCon) di New York, 1-26 Agustus 2022 dalam bentuk kertas kerja (working paper) berjudul “Nuclear Naval Propulsion". (Foto: Dok United Nation)

(Vibizmedia – Internasional) Dalam kurun waktu belakangan ini telah terjadi pro dan kontra berkaitan dengan perkembangan program kapal selam bertenaga nuklir di berbagai belahan dunia yang tercatat cukup pesat.

Para negara  pengusung menyatakan bahwa hal ini masih sejalan dengan berbagai perjanjian internasional, seperti Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT), dan ketentuan Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA.

Sebaliknya para negara penentang menganggap adanya pelanggaran komitmen non-proliferasi nuklir, yang membuka peluang negara pemilik senjata nuklir untuk berkolusi dengan negara bukan pemilik senjata nuklir.

Risiko program kapal selam bertenaga nuklir  ini tidaklah kecil. Jika tidak ditangani dengan baik, dapat terjadi kebocoran nuklir saat transportasi, perawatan, penggunaan, serta pencemaran lingkungan akibat radiasi nuklir yang membahayakan manusia dan sumber daya laut. Bahkan material nuklir yang digunakan dalam kapal selam militer juga rentan untuk diselewengkan menjadi senjata. Jika tidak diatur dengan ketat, kegiatan ini akan menjadi preseden yang justru akan mendorong proliferasi senjata nuklir.

Indonesia Rentan Terhadap Potensi Risiko Tersebut

Posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menambah tingkat kerentanan atas potensi risiko tersebut.

Indonesia Usulkan Jalan Tengah untuk Menjembatani

Dengan latar belakang risiko yang adakan terjadi di atas, maka sejalan dengan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, dan sebagai bagian kontribusi pada perdamaian dan stabilitas dunia, Indonesia mengajukan usulan jalan tengah untuk menjembatani perbedaan tajam pandangan negara-negara.

Tujuan utama usulan ini adalah untuk mengisi kekosongan aturan hukum internasional terkait kapal selam bertenaga nuklir, membangun kesadaran (raising awareness) atas potensi risikonya, serta upaya menyelamatkan nyawa manusia (saving lives) dan kemanusiaan, demikian disampaikan oleh  Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral, Tri Tharyat di New York (31/7).

Proposal Indonesian Paper

Proposal yang juga dikenal sebagai “Indonesian paper” ini disampaikan dalam 10th  Review Conference of the Parties to the Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT RevCon) di New York, 1-26 Agustus 2022 dalam bentuk kertas kerja (working paper) berjudul “Nuclear Naval Propulsion”.

Paper ini sekaligus upaya untuk memperkuat sistem dan semangat multilateralisme yang saat ini terus tergerus.

The Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT RevCon) adalah Konferensi untuk mengkaji implementasi perjanjian pembatasan kepemilikan senjata nuklir yang digelar setiap 5 tahun sekali sejak 1975.