Indonesia Mengantisipasi Masuk dan Penularan Monkey Pox

0
105
monkeypox

(Vibizmedia – Nasional) Monkeypox pertama kali ditemukan pada 6 Mei 2022 di Inggris dan penyebarannya di dunia terus meluas. Hingga 27 Juli,  sebanyak 17.156 orang di 75 negara dikonfirmasi terinfeksi Monkeypox. Diberitakan juga bahwa 69 diantaranya bukan negara endemis Monkeypox. Spanyol menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak disusul Amerika Serikat dan Perancis.

Belum Ada Kasus Monkeypox di Indonesia

Dalam keterangan pers ”Update Perkembangan Cacar Monyet di Indonesia” yang disiarkan secara daring pada Rabu (27/7), juru Bicara COVID-19 Kementerian Kesehatan, Moh. Syahril  menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi Monkeypox di tanah air. Sebelumnya, ada 9 kasus yang diduga terinfeksi Monkeypox. Tetapi setelah  dilakukan pemeriksaan PCR, kesembilan orang tersebut dinyatakan negatif Monkeypox. Ada pula 2 orang kontak erat dari Singapura yang transit di Indonesia yang akan menuju Malaysia.

Antisipasi Masuk dan Menyebarnya Monkeypox di Indonesia

Berbagai upaya  telah dilakukan Kementerian Kesehatan untuk mengantisipasi masuk dan menyebarnya Monkeypox di Indonesia.  Salah satunya adalah memperkuat pemeriksaan surveilans di pintu masuk ke negara baik darat, laut dan udara. Selain itu juga melakukan pemeriksaan Lab yang maksimal. Sudah ada 1.100 Lab di Indonesia yang bisa digunakan untuk pemeriksaan monkeypox.

Seluruh dinkes provinsi dan Kabupaten/Kota, KKP, laboratorium, rumah sakit, puskesmas dan fasyankes lainnya diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terutama pasca penetapan Monkeypox sebagai PHEIC oleh WHO pada 23 Juli lalu.

Menteri Kesehatan,  Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa Kemenkes telah mendatangkan 500 reagen dan ditambah lagi, kini sudah ada 1000.

Tetap Disiplin Terapkan Prokes

Untuk pencegahan di tingkat masyarakat, Jubir Syahril mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan diri dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun/alkohol, menggunakan masker serta membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Ia menyatakan bahwa Prokes masih menjadi cara paling ampuh untuk mencegah Monkeypox mengingat karakteristiknya yang hampir mirip dengan COVID-19, yakni self limiting disease atau bisa sembuh sendiri dengan gejala yang muncul sekitar 2 sampai 4 minggu serta belum adanya obat khusus ataupun vaksin untuk Monkeypox.

”Prokes adalah kebutuhan wajib kita untuk menghindari penularan baik dari COVID-19 maupun penyakit infeksi emerging lainnya termasuk Monkeypox dan Hepatitis Akut,” pesan Jubir Syahril.

Monkeypox Menular Kalau Sudah Bergejala, Penularan Melalui Sentuhan Fisik

Menkes Budi juga meminta masyarakat tetap waspada. Ia menyatakan bahwa  monkeypox baru bisa menular setelah  gejala sudah terlihat.

Walaupun gejalanya cenderung ringan bahkan sembuh sendiri, Monkeypox bisa menjadi penyakit derajat berat dan berpotensi menyebabkan komplikasi penyakit seperti infeksi sekunder, bronkopneumonia, sepsis, dan ensefalitis. Infeksi kornea sehingga menyebabkan kebutaan manakala tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Gejala awal dimulai dari demam dan merasa kurang sehat. Tapi baru diduga kuat sebagai penyakit monkeypox setelah ada bercak merah. Bercak tersebut harus cepat diambil cairannya untuk pemeriksaan lab dan diagnosa. Biasanya penyakit ini bisa sembuh dalam waktu 2 minggu sampai 4 minggu.

Jubir Syahril mengingatkan bahwa apabila mengalami gejala demam dan ruam, harap memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala serupa.

Tidak seperti COVID-19, penularan virus monkeypox melalui sentuhan fisik dengan penderita. Virus ditularkan melalui cairan yang melepuh dari ruam atau bercak merah dari penderita.

Vaksinasi Monkeypox Baru Ada di Amerika dan Rusia

Menkes menjelaskan bahwa  vaksinasi monkeypox baru ada di Amerika dan Rusia. Vaksinnya sama dengan vaksin cacar air. Cukup diberikan satu kali untuk seumur hidup.

Mobil Edukasi Dengue, Upaya Cegah Demam Berdarah