Menlu RI di East Asia Summit (EAS) Foreign Ministers’ Meeting: Jadikan EAS Kapal Menuju Perdamaian dan Stabilitas

0
61
East Asia Summit
Pertemuan 12th East Asia Summit (EAS) Foreign Ministers' Meeting di Phnom Penh, 5 Agustus 2022 (Foto: Twitter Menlu RI)

(Vibizmedia – Internasional) Dalam pertemuan 12th East Asia Summit (EAS) Foreign Ministers’ Meeting di Phnom Penh, 5 Agustus 2022, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan bahwa jika Kawasan Indo-Pasifik disamakan seperti laut yang penuh dinamika, maka EAS adalah “kapal” dimana semua mendayung bersama untuk mencapai tujuan, yaitu perdamaian dan stabilitas.

Secara terus terang Menlu Retno menyampaikan kekhawatiran mengenai situasi dunia saat ini. Perang bukan lagi sesuatu yang tidak mungkin terjadi, namun sudah merupakan realitas. Perang di Ukraina adalah salah satu contoh dari realitas ini. Lebih jauh lagi, Menlu Retno sampaikan bahwa Kawasan lain bukan tidak mungkin akan mengalami hal yang sama, mengingat saat ini dapat terlihat sejumlah flashpoints yang dapat berubah menjadi konflik terbuka, termasuk Myanmar dan situasi di Taiwan Straits.

Menlu Retno menegaskan bahwa dunia saat ini sangat memerlukan kearifan dan tanggung jawab semua pemimpin, semua negara, agar perdamaian dan stabilitas terjaga.

Kawasan Indo-Pasifik juga menjadi perhatian Indonesia dalam Pertemuan para Menlu EAS.

“Indo-Pasifik merupakan Kawasan yang sangat strategis bagi dunia, termasuk bagi pemulihan ekonomi dunia”, ujar Menlu Retno.

Menlu Retno mengemukakan 3 pemikiran untuk UEAS dalam rangka mencapai stabilitas dan perdamaian di Indo-Pasifik, Menlu Retno menyampaikan 3 pemikiran untuk EAS:

Pertama, EAS harus terus dibangun dengan menggunakan paradigma kolaborasi. Pada dasarnya ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dibuat untuk menebarkan paradigma kolaborasi tidak saja di ASEAN, namun juga lebih jauh dari Kawasan Asia Tenggara. Yang diperlukan saat ini adalah kerja sama konkret.  Ia menegaskan bahwa  kerja sama ini hanya dapat dilakukan jika semua menjalankan positive sum game, dimana semua pihak akan memiliki keuntungan dengan adanya kerja sama ini.

Kedua, EAS harus dinavigasi dengan menggunakan Piagam PBB dan Hukum Internasional. Menlu menyatakan bahwa pada saat lautan gelap dan tanpa petunjuk, maka Piagam PBB dan Hukum Internasional seharusnya menjadi mercu suarnya. Selain itu, penting juga adanya penghormatan terhadap prinsip dan norma yang sudah disepakati bersama termasuk apa yang ada dalam Piagam PBB dan Bali Principles 2011.  Menlu Retno menekankan bahwa penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah adalah prinsip yang tidak dapat ditawar.

Ketiga, EAS harus menjadi model bagi arsitektur Kawasan. Isu inklusivitas menjadi kunci dan ASEAN terus membuka pintu bagi kerja sama dengan semua pihak melalui ASEAN-led mechanism.

Dalam penutupannya, Menlu RI mengajak semua negara untuk bekerja sama dalam menciptakan stabilitas, perdamaian dan kemakmuran di Kawasan Indo-Pasifik.

Pertemuan EAS adalah forum ASEAN  untuk bertemunya 18 negara di Kawasan Indo-Pasifik. Pertemuan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri dan perwakilan Menlu dari Indonesia, Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Australia, RRT, India, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia dan Amerika Serikat.

Dalam pertemuan kali ini, Indonesia sebagai incoming chair EAS mendapatkan kesempatan pertama berbicara di antara Menteri Luar Negeri negara partisipan EAS lainnya.

ASEAN-United Kingdom Ministerial Meeting Utamakan Spirit Kolaborasi Menuju Stabilitas Perdamaian