Permintaan Feature Phone Cukup Besar, Pemerintah Berharap Tidak Impor Lagi

0
95
Feature Phone
Ilustrasi feature phone. DOK: NOKIA

(Vibizmedia-Nasional) Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa pihaknya mendorong agar program substitusi impor 35% tahun 2022 terus dijalankan, salah satunya dengan memacu industri elektronika dapat mengoptimalkan produk dalam negeri. Langkah tersebut didukung melalui penyusunan Neraca Komoditas pada 25 produk dengan nilai impor tertinggi, salah satunya telepon seluler.

“Saya berterimakasih kepada pelaku industri telepon seluler yang konsisten menerapkan TKDN,” ungkap Agus dalam keterangan persnya, pada Senin, 15 Agustus 2022.

Agus berharap industri telepon seluler dapat menjalankan roadmap pendalaman struktur yang telah ditetapkan Kemenperin.

“Di samping itu, saya juga berpesan agar riset dan pengembangan telepon seluler sudah mulai dapat dilakukan di dalam negeri,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Taufiek Bawazier menjelaskan bahwa dari tahun 2022-2024, Kemenperin menargetkan SMT Process, Industrial Mechanical Design, industri casing, industri baterai, casis molding design, dan industri antena supaya dapat dilakukan di dalam negeri.

“Kami memandang bahwa impor CBU sudah turun drastis setelah penerapan TKDN. Pada tahun 2021 produksi dalam negeri sudah mencapai 57 juta unit dan impor sekitar 2,9 juta unit. Kami sangat concern agar industri komponen Handphone, Komputer Genggam, dan Tablet (HKT) bisa terus tumbuh di dalam negeri,” ungkap Taufiek.

Taufiek mengemukakan permintaan feature phone saat ini cukup besar di Indonesia. Karenanya, Kemenperin memberikan apresiasi terhadap peresmian produksi perdana feature phone Nokia oleh PT Erajaya Swasembada dan PT. Halo Mobile Device Indonesia.

“Kami sangat menyambut baik upaya yang dilakukan oleh PT. Erajaya Swasembada dan PT. Halo Mobile Device Indonesia yang telah memproduksi feature phone Nokia di dalam negeri, dari yang sebelumnya impor. Produksi ini tentu berdampak positif pada perbaikan trade balance telepon seluler guna mencapai target substitusi impor. Di samping itu, dengan meningkatnya penyerapan tenaga kerja, pada akhirnya juga berdampak terhadap perbaikan ekonomi nasional,” terang Taufiek.

Sementara, Direktur Industri Elektronika dan Telematika (IET) Ali Murtopo Simbolon mengungkapkan bahwa dengan kapasitas produksi yang ada saat ini sebesar 2,4 juta per tahun, PT Erajaya Swasembada dan PT. Halo Mobile Device Indonesia dapat memenuhi market dalam negeri tanpa harus melakukan impor lagi.