Tren Surplus Neraca Perdagangan Berlanjut Selama 26 Bulan, Januari-Juli 2022 Capai Angka Kumulatif Sebesar USD 29,17 Miliar

0
82
Mendag Zulkifli Hasan
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Foto: Kemendag)

(Vibizmedia – Nasional)  Upaya menggerakkan ekonomi nasional melalui sektor perdagangan terus mengalami kemajuan yang berarti.

Surplus Neraca Perdagangan Melanjutkan Tren Surplus Sejak Mei 2020 atau 26 Bulan Terakhir

Surplus neraca  perdagangan Indonesia kembali terjadi pada Juli 2022 dengan nilai sebesar USD 4,23 miliar.    Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.  Surplus ini melanjutkan tren surplus yang dialami sejak Mei 2020. Geliat ekonomi nasional semakin positif.

Mendag Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa surplus perdagangan bulan Juli 2022 sebesar USD 4,23 miliar ini disumbang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 7,31 miliar, sedangkan neraca perdagangan migas defisit USD 3,08 miliar.

Surplus perdagangan di bulan Juli 2022 melanjutkan tren surplus yang dialami sejak Mei 2020 atau tepatnya selama 26 bulan terakhir.

Mendag Zulkifli Hasan juga menyampaikan bahwa surplus neraca perdagangan secara kumulatif selama periode Januari–Juli 2022 mencapai USD 29,17 miliar. Surplus ini ditopang oleh surplus sektor nonmigas USD 43,93 miliar, sementara defisit sektor migas sebesar USD 14,76 miliar.

Negara-negara Penyumbang Surplus Terbesar

Negara-negara mitra dagang yang menjadi penyumbang surplus terbesar di sektor nonmigas di bulan Juli 2022 yaitu India dengan surplus perdagangan bagi Indonesia sebesar USD 1,44 miliar. Selanjutnya diikuti Amerika Serikat, Filipina, Jepang, dan Taiwan yang berkontribusi terhadap surplus neraca perdagangan secara keseluruhan sebesar USD 3,84 miliar.

Negara-negara Penyumbang Defisit Perdagangan Terbesar

Sementara itu, negara-negara yang menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar yaitu Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Singapura, dan Australia dengan total keseluruhan mencapai USD 2,14 miliar.

Tetap Perlu Waspada

Menanggapi perkembangan kondisi global saat ini, Mendag Zulkifli Hasan menekankan adanya hal yang perlu diwaspadai Indonesia.

Mendag berpendapat bahwa walaupun performa neraca perdagangan kembali positif, kita perlu mewaspadai ketegangan yang terjadi antara RRT dan Taiwan mengingat kedua negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia untuk keperluan industri.

Dari Januari- Juli 2022 Ekspor Pertanian Meningkat 36,36%

Kinerja ekspor Indonesia pada Juli 2022 mencapai USD 25,57 miliar, atau turun 2,20 persen dibandingkan dengan ekspor bulan sebelumnya (Month on Month/MoM).

Secara kumulatif, ekspor selama periode Januari—Juli 2022 mencapai USD 166,70 miliar, atau naik 36,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Kinerja ekspor yang menurun di bulan Juli 2022 dipicu oleh turunnya ekspor sektor migas sebesar 11,24 persen (MoM) dan industri pengolahan yang turun sebesar 4,45 persen (MoM).

Namun demikian, ekspor sektor pertanian masih menunjukkan kenaikan sebesar 4,27 persen (MoM), begitu pula dengan sektor pertambangan yang meningkat sebesar 6,61 persen (MoM).

Produk Nonmigas Mengalami Peningkatan Signifikan pada Juli 2022

Mendag Zulkifli Hasan menyampaikan, beberapa produk nonmigas yang mengalami peningkatan signifikan di bulan Juli 2022 yaitu pulp dari kayu (HS 47) dengan peningkatan sebesar 48,54 persen (MoM); tembakau dan rokok (HS 24) sebesar 14,48 persen (MoM); bahan kimia anorganik (HS 28) sebesar 9,87 persen (MoM); tembaga dan produknya (HS 74) sebesar 8,34 persen (MoM); kopi, teh, dan rempah (HS 09) sebesar 7,40 persen (MoM); serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar 5,31 persen (MoM).

Dampak Kebijakan yang Dikeluarkan Pemerintah

“Khusus untuk kenaikan ekspor produk lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar 5,31 persen atau senilai USD 3,56 miliar, hal ini merupakan dampak dari sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah,” imbuh Mendag Zulkifli Hasan.

Sejumlah kebijakan tersebut, lanjut Mendag Zulkifli Hasan, yaitu kebijakan flush out yang masih berlaku sampai 31 Juli 2022, kebijakan rasio pengali besaran volume ekspor terhadap distribusi kebutuhan dalam negeri dinaikkan dari 1:5 menjadi 1:7 mulai 4 Juli 2022 berdasarkan Kepdirjen Daglu Nomor 13 tahun 2022; tarif pungutan ekspor ditiadakan mulai 15 Juli 2022 sampai 31 Agustus 2022 berdasarkan PMK 115 tahun 2022, serta kebijakan rasio pengali besaran volume ekspor terhadap distribusi kebutuhan dalam negeri dinaikkan dari 1:7 menjadi 1:9 mulai 29 Juli 2022 berdasarkan Kepdirjen Daglu Nomor 14 tahun 2022.

Penguatan Ekspor Nonmigas Pada Negara Mitra Dagang Utama

Lebih lanjut, Mendag Zulkifli Hasan menyampaikan, ekspor nonmigas Indonesia pada Juli 2022 masih menunjukkan penguatan pada sebagian besar negara mitra dagang utama.

Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi terjadi ke Polandia yang tumbuh mencapai 106,68 persen MoM, diikuti Spanyol (59,49 persen), Hongkong (25,95 persen), Taiwan (19,51 persen), dan Uni Emirat Arab (15,36 persen).

Jika ditinjau menurut kawasan, kenaikan terbesar terjadi pada ekspor ke Afrika Tengah yang tumbuh 106,05 persen, diikuti dengan Karibia (73,24 persen) dan Asia Tengah (55,36 persen).

“Kenaikan ekspor nonmigas Indonesia ke sejumlah kawasan pada Juli 2022 merupakan indikasi positif dampak kebijakan perdagangan internasional Indonesia pada awal semester II 2022 ini,” tegas Mendag Zulkifli Hasan.

Impor Meningkat di Bulan Juli 2022 Akibat Kenaikan Impor Migas

Terkait dengan kinerja impor,  di bulan Juli 2022 terjadi peningkatan 1,64 persen dibanding bulan sebelumnya (MoM), menjadi USD 21,35 miliar.

Peningkatan impor pada Juli 2022 lebih disebabkan oleh naiknya impor migas sebesar 21,30 persen (MoM), sementara impor nonmigas pada Juli 2022 menunjukkan penurunan sebesar 2,53 persen (MoM).

Penurunan impor nonmigas pada Juli 2022 dipicu oleh turunnya impor golongan barang konsumsi sebesar 2,88 persen (MoM) dan barang modal yang turun 2,56 persen (MoM).

Sementara itu, impor golongan bahan baku/penolong yang dibutuhkan industri dalam negeri pada Juli 2022 masih menunjukkan kenaikan sebesar 2,90 persen (MoM). Peningkatan impor bahan baku/penolong ini juga tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2022 yang berada di level ekspansif sebesar 51,3 indeks poin dan menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir serta cenderung lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Hal ini dapat menjadi indikasi pemulihan dan semakin bertumbuhnya sektor manufaktur.

“Peningkatan impor bahan baku/penolong pada bulan Juli 2022 merupakan indikasi positif dari pemulihan dan semakin bertumbuhnya sektor manufaktur Indonesia,” ujar Mendag.

Volume Impor Gandum Indonesia Masih Menunjukkan Peningkatan

Di tengah kebijakan restriksi ekspor gandum di beberapa negara seperti India, Rusia, dan negara-negara lainnya, tidak terdapat lonjakan ataupun penurunan yang signifikan pada volume impor gandum. Volume impor gandum Indonesia pada Juli 2022 tercatat sebesar 604,02 ribu ton atau masih menunjukkan peningkatan 10,62 persen (MoM).

Beberapa produk dengan kenaikan nilai impor terbesar pada Juli 2022 diantaranya logam mulia, perhiasan (HS 71) naik 62,51 persen MoM, impor Pupuk (HS 31) naik 35,78 persen MoM, gula dan kembang gula (HS 17) naik 29,12 persen MoM, daging hewan (HS 02) naik 27,97 persen MoM, serta serealia (HS 10) naik 10,38 persen MoM.

Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia didominasi dari RRT, Jepang, dan Thailand. Negara asal impor dengan kenaikan impor nonmigas tertinggi pada Juli 2022 antara lain Yordania yang naik 112,31 persen (MoM), disusul Swiss naik 72,94 persen MoM, Afrika Selatan naik 32,37 persen MoM, Filipina naik 11,97 persen MoM, dan Kanada naik 11,50 persen MoM.

Baca:Surplus Perdagangan Indonesia Sebesar USD 5,09 miliar, Terbesar Sepanjang Sejarah