Ditemukan Kasus Monkeypox Pertama di Indonesia

0
71
Juru Bicara Kemenkes
Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril (Sumber: Tangkapan Layar)

(Vibizmedia – Nasional) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengkonfirmasi adanya  satu warga negara Indonesia menderita monkeypox (cacar monyet). Pasien tersebut adalah seorang pria berusia 27 tahun, dengan riwayat perjalanan ke Belanda, Swiss, Belgia, dan Perancis sebelum tertular.

Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril, dalam keterangan pers secara daring, Sabtu (20/08/2022) menyatakan bahwa pasien dalam keadaan baik, tidak sakit berat, memiliki cacar atau ruam-ruam di muka, telapak tangan, dan kaki. Ia menambahkan bahwa pasien tersebut tidak perlu dirawat di rumah sakit, tapi cukup isolasi mandiri.

Berdasarkan penelusuran riwayat perjalanannya maka pasien berpergian ke luar negeri antara tanggal 22 Juli hingga tiba kembali di Jakarta pada 8 Agustus 2022.  Gejala awal monkeypox dirasakan pasien di tanggal 11 Agustus 2022. Pasien berkonsultasi ke beberapa fasilitas kesehatan dan masuk ke salah satu rumah sakit milik Kemenkes pada tanggal 18 Agustus dimana  hasil tes PCR pasien terkonfirmasi positif pada malam hari tanggal 19 Agustus.

Mengenai penyakit ini Syahril mengimbau masyarakat untuk tidak panik karena daya tular dan fatalitas cacar monyet sangat rendah dibandingkan dengan COVID-19.

Sebagai gambaran, saat ini terdapat 39,718 kasus konfirmasi cacar monyet di seluruh dunia dan yang meninggal 12 orang, atau kurang dari 0,001 persen dari total kasus. Selain itu, transmisi monkeypox tidak semudah COVID-19 yang melalui droplet di udara. Ia menambahkan bahwa penularan monkeypox adalah melalui kontak erat.

Konfirmasi kasus monkeypox pertama di Indonesia ini telah ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes untuk melakukan surveilans kepada masyarakat atau kontak erat dari pasien.

Ia juga menambahkan, sebagai bentuk kewaspadaan Kemenkes sudah melakukan pemantauan intensif di seluruh pintu masuk Indonesia, baik dari udara, laut, maupun darat yang berhubungan langsung kepada negara-negara yang sudah melaporkan adanya kasus monkeypox. Terdapat sekitar 89 negara yang sudah melaporkan adanya kasus cacar monyet di negaranya.

Ia melanjutkan, Pemerintah juga sudah memberikan status kewaspadaan kepada seluruh maskapai penerbangan dan pelabuhan untuk bersama memberikan suatu kewaspadaan apabila ada penumpangnya yang mempunyai gejala cacar monyet.

Untuk langkah berikutnya, pihaknya sudah memberikan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh masyarakat, petugas kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mewaspadai cacar monyet.

Ia mengingatkan seluruh masyarakat untuk selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan meningkatkan protokol kesehatan,  tidak hanya untuk COVID-19 saja tapi juga untuk seluruh penyakit menular.

Lebih lanjut, pemerintah telah memberikan pedoman kepada seluruh dinas kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap kasus monkeypox.

Ia menyatakan bahwa jangan sampai ada petugas kesehatan di puskesmas, di rumah sakit yang tidak paham dengan cacar monyet, karena ini bagian dari kewaspadaan keseluruhan.

Terkait pemeriksaan PCR untuk monkeypox, Syahril mengungkapkan bahwa saat ini baru dapat dilakukan di dua tempat yaitu di laboratorium rujukan nasional BKPK Kemenkes dan laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat ini sedang dalam proses penambahan sepuluh laboratorium yang ditingkatkan untuk melakukan pemeriksaan PCR tersebut. Ada pula beberapa rumah sakit yang sudah bisa melakukan PCR.

Syahril menyampaikan, Kemenkes sudah menyiapkan 1.200 reagen untuk pemeriksaan monkeypox. Pemeriksaan dilakukan jikalau ada kecurigaan monkeypox.

Ia menjelaskan, pemeriksaan PCR monkeypox  berbeda dengan pemeriksaan PCR COVID-19, karena dilakukan dengan swab pada ruam-ruam yang ada di tubuh pasien.

Pasien monkeypox juga tidak memerlukan ruang isolasi sebagaimana pasien COVID-19. Ruang isolasi untuk pasien COVID-19 memerlukan tekanan negatif, sementara untuk pasien monkeypox ruang isolasi tersebut tidak diperlukan.

Terapi perawatan klinis untuk cacar monyet harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Pasien harus diberi cairan obat dan makanan untuk mempertahankan gizi yang memadai.

Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar dilisensikan oleh European Medicines Agency (EMA) untuk monkeypox pada tahun 2022 berdasarkan data pada penelitian pada hewan dan manusia. Tecovirimat belum tersedia secara luas. Jika digunakan untuk perawatan pasien, tecovirimat idealnya harus dipantau dalam konteks penelitian klinis dengan pengumpulan data prospektif.

Terkait vaksinasi, Syahril menyampaikan, “Badan Kesehatan Dunia atau WHO belum memberikan rekomendasi untuk vaksinasi massal dalam menghadapai monkeypox. Ada dua atau tiga negara yang sudah melakukan vaksinasi dan Indonesia juga sedang memproses untuk pengadaannya dan harus melalui rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).”

“Pasien monkeypox akan sembuh sendiri manakala tidak ada infeksi tambahan atau tidak ada komorbid yang berat yang dapat memperparah kondisi pasien, ” tambahnya.

Ia menambahkan bahwa jikalau pasien  tidak ada komorbid dan tidak ada penyakit pemberat lain maka pasien ini bisa sembuh sendiri.

Gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar air, namun lebih ringan. Gejala dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Perbedaan utama antara gejala cacar air dan cacar monyet adalah bahwa cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati) sedangkan cacar air tidak. Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu.

Baca:Ganjar Minta Pintu Masuk Monkeypox ke Indonesia Diperketat