Indonesia Mampu Atasi Gelombang COVID-19 Varian BA.4 dan BA.5 Karena Antibodi yang Tinggi

0
69
Ratas Evaluasi PPKM
Presiden Jokowi memimpin Ratas Evaluasi PPKM, di Istana Merdeka, Jakarta. (Foto: Humas Setkab/Agung)

(Vibizmedia – Nasional) Indonesia termasuk salah satu dari sedikit negara di dunia yang mampu mengatasi gelombang COVID-19 subvarian BA.4 dan BA.5 dengan sangat baik. Demikian disampaikan  Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (23/08/2022), usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dipimpin Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Kombinasi Tingginya Level Imunitas karena Vaksinasi dan Tingkat Infeksi yang Tinggi

Menkes melihat  keberhasilan ini disebabkan oleh tingginya level imunitas masyarakat karena vaksinasi yang gencar dilakukan serta tingkat infeksinya yang tinggi saat gelombang Omicron melanda.

Ia melanjutkan bahwa kombinasi antara vaksinasi padai bulan November, Desember, Januari dan infeksi di bulan Februari dan Maret, sehingga pada  bulan Juni, Juli, Agustus, kadar antibodi masyarakat Indonesia itu tinggi sekali. Akibatnya  pada saat BA.4 (dan) BA.5 masuk, masyarakat Indonesia tidak terganggu sama sekali kasusnya.

Masyarakat Indonesia Memiliki Antibodi yang Tinggi

Hasil Sero survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pada Juli 2022 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki titer antibodi yang tinggi.

Menkes menjelaskan bahwa pada Desember 2021 hanya 88 persen dari masyarakat yang memiliki antibodi. Tetapi sekarang persentasenya sudan naik ke 98,5 persen. Selain itu level antibodi yang tadinya hanya sekitar 400-an unit per mililiter, maka sekarang naik lebih dari 2.000 unit per mililiter. Akibatnya memang terbukti populasi masyarakat Indonesia sudah sangat terlindungi dari level antibodinya.

Meski demikian, Budi mengatakan bahwa tingginya kasus konfirmasi harian di berbagai negara lain akan mengakibatkan terjadinya mutasi dan munculnya varian baru yang diperkirakan terjadi pada awal tahun 2023. Budi pun mengimbau masyarakat untuk waspada terkait munculnya varian baru tersebut salah satunya dengan menjaga level imunitas.

“Ujiannya adalah enam bulan lagi, sekitar bulan Januari, Februari, Maret 2023. Kalau kita benar-benar bisa melampaui itu, sama seperti sekarang, Indonesia adalah, menjadi, mungkin a selected few negara yang bisa menangani pandemi ini 12 bulan berturut-turut,” ujarnya.

Menjaga Imunitas Masyarakat, Faktor Kunci Hadapi Varian Baru Virus Corona

Budi menambahkan, menjaga imunitas masyarakat adalah salah satu faktor kunci dalam menghadapi munculnya varian baru virus Corona.

Presiden Instruksikan Gencarkan Vaksinasi bagi Daerah dengan Kadar Imunitas Menurun

Oleh karena itu, lanjutnya, Presiden Jokowi telah menginstruksikan jajarannya untuk kembali menggencarkan vaksinasi bagi daerah-daerah yang kadar imunitas masyarakatnya sudah menurun.

Menkes menyatakan bahwa  pada November nanti akan dilakukan Sero survei lagi untuk melihat daerah-daerah mana yang imunitasnya sudah menurun kadarnya, juga siapa yang berisiko tinggi. Nantinya mereka yang diberikan vaksinasi, agar bisa meningkatkan, mempersiapkan, memperbaiki kadar imunitas masyarakat populasi tersebut.

Vaksinasi Bagi Anak Berusia di Bawah 6 Tahun, juga Kelompok Lansia dan Komorbid

Selain itu, Presiden Jokowi juga menginstruksikan jajarannya untuk menjajaki vaksinasi bagi anak-anak berusia di bawah enam tahun. Kemudian, vaksinasi bagi kelompok lanjut usia (lansia) serta komorbid juga akan terus ditingkatkan.

“Vaksinasi untuk yang kelompok-kelompok yang lansia, yang komorbid, kemudian yang nanti kadar imunitasnya sudah turun atau sudah lebih dari enam bulan, karena kita sudah tahu by name, by address, nanti kita akan segera berikan alternatif vaksinnya adanya, agar bisa meningkatkan kadar imunitasnya untuk menjaga level imunitas populasi Indonesia,” pungkasnya.

Baca: Vaksinasi COVID-19 Booster ke-2 Mulai Diberikan bagi SDM Kesehatan