Profil Peternakan Unggas Indonesia

Prospeknya akan terus meningkat mengingat perkembangan jumlah penduduk yang akan meningkatkan konsumsi masyarakat.

0
84
Peternakan Unggas

(Vibizmedia – Kolom) Biro Pusat Statistik melakukan survei perusahaan peternakan unggas yang dicakup adalah usaha peternakan unggas yang berbadan hukum/badan usaha (PT/PN, CV, Firma, Koperasi, dan Yayasan) yang dijalankan secara terus menerus pada suatu tempat tertentu untuk tujuan komersil/memperoleh keuntungan yang meliputi kegiatan pembibitan dan budidaya unggas.

Perusahaan peternakan unggas merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan pembibitan dan budidaya unggas. Pada tahun 2021, terdapat 397 perusahaan peternakan unggas di Indonesia dimana 361 perusahaan diantaranya berstatus aktif, 24 perusahaan dengan status tutup sementara, dan 12 perusahaan berstatus tutup.

Dari 385 perusahaan peternakan unggas yang aktif dan tutup sementara, terdapat 150 perusahaan yang melakukan kegiatan pembibitan unggas dan 235 perusahaan yang melakukan kegiatan budidaya unggas.

Baca juga : Lima Provinsi yang Memiliki Perusahaan Peternakan Terbanyak

Keberadaan perusahaan peternakan unggas di Indonesia belum cukup merata pada seluruh provinsi. Hal ini terlihat dari 41,3 persen perusahaan peternakan unggas yang mengelompok di provinsi Jawa Barat, sedangkan 14,03 persen berada di provinsi Banten, dan 44,68 persen lainnya menyebar pada 22 provinsi dimana masing-masing jumlahnya kurang dari 10 persen.

Menurut bentuk badan hukum, tercatat sebanyak 380 perusahaan peternakan unggas berbentuk PT/CV/Firma, 2 perusahaan PN/PD/Perum, 2 koperasi, dan 1 yayasan. Status permodalan pada perusahaan peternakan unggas dibedakan menjadi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).

Sebanyak 333 perusahaan peternakan unggas di Indonesia (86,49 persen) menjalankan usahanya menggunakan modal dalam negeri, sedangkan 52 perusahaan (13,51 persen) lainnya mendapatkan investasi asing.

Pada tahun 2021, perusahaan peternakan unggas dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 19.266 orang dimana 86,96 persen diantaranya adalah laki-laki dan 13,04 persen lainnya merupakan pekerja perempuan.

Jumlah pekerja pada perusahaan peternakan unggas ini mengalami penurunan sekitar 5,41 persen jika dibandingkan dengan tahun 2020.

Menurut status pekerja, BPS mencatat terdapat 14.182 orang yang dipekerjakan secara tetap oleh perusahaan peternakan unggas di Indonesia, dan 5 084 orang yang dipekerjakan secara tidak tetap (honorer).

Telur unggas dihasilkan oleh perusahaan budidaya unggas petelur. Pada tahun 2021, dari 131 perusahaan yang melakukan budidaya unggas petelur, dihasilkan 110 817 ton telur dengan nilai produksi mencapai 2 295 miliar rupiah.

Produksi telur ini mengalami penurunan sebesar 8,15 persen dibandingkan tahun 2020. Hal ini diperkirakan dipengaruhi oleh jumlah perusahaan peternakan unggas yang juga berkurang sebanyak 2,96 persen pada tahun 2021.

Namun demikian, produksi telur secara nasional tidak hanya berasal dari perusahaan peternakan unggas, namun juga dari usaha peternakan unggas perorangan dan kelompok. Produksi telur nasional yang dihasilkan oleh perusahaan peternakan unggas saat ini masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan yang berada di pulau Jawa.

Provinsi Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah merupakan provinsi penghasil telur terbanyak secara nasional, masing-masing memberikan kontribusi sebanyak 31,56 persen, 20,06 persen, dan 13,39 persen.

Selain telur, produksi yang dihasilkan oleh perusahaan peternakan unggas berupa unggas potong. Tahun 2021, terdapat 98,58 juta ekor unggas potong yang diproduksi atau senilai 2 546 miliar rupiah.

Kontribusi terbesar dari produksi unggas potong ini berasal dari perusahaan-perusahaan di pulau Jawa yakni sebesar 68,38 persen, pulau Kalimantan sebesar 16,46 persen dan Sumatera sebesar 14,53 persen.

Sedangkan perusahaan-perusahaan di pulau BaliNusa Tenggara, Sulawesi, maupun Maluku Papua masing-masing hanya memberikan kontribusi sebanyak kurang dari 1 persen.

Jumlah produksi telur dan unggas pada perusahaan tidak terlepas dari jumlah populasi unggas yang dipelihara/ dibudidayakan. Pada tahun 2021 tercatat populasi ayam bibit petelur sebanyak 5 221 ribu ekor, ayam bibit pedaging sebanyak 16 186 ribu ekor, dan final stock ayam petelur sebanyak 10 316 ribu ekor.

Dibandingkan tahun 2020, populasi ayam bibit petelur dan ayam bibit pedaging mengalami pertumbuhan negatif masing-masing sebesar 2,18 persen dan 41,92 persen. Sedangkan populasi final stock ayam petelur bertumbuh secara positif sebesar 2,53 persen.

Secara nasional, perusahaan peternakan unggas di Indonesia mengeluarkan biaya sebesar 8,8 trilyun rupiah untuk menjalankan usahanya. Menurut komponen pembiayaan, sebanyak 70,62 persen biaya dikeluarkan untuk membeli pakan unggas. Upah pekerja mendapatkan porsi pembiayaan sebesar 10,02 persen.

Sedangkan 19,36 persen pembiayaan dikeluarkan untuk bahan bakar, listrik dan air, obat-obatan, pembelian DOC, dan biaya lainnya.

Sementara itu, dari sisi produksi, total nilai produksi perusahaan peternakan unggas secara nasional mencapai 16,9 triliun dimana 89,6 persen berasal dari produksi utama, 2,11 persen produksi lainnya dan 8,29 persen berasal dari penerimaan lain.

Dengan demikian, keseluruhan perusahaan  dapat menghasilkan laba senilai 8,1 trilyun rupiah pada tahun 2021.

Supply dan Demand Industri Peternakan

Produksi daging ayam ras pada tahun 2022 mengalami peningkatan sebesar 13,39 persen dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, permintaan akan daging ayam ras mengalami sedikit penurunan sebesar -0,11 persen. Secara keseluruhan produksi daging ayam ras dapat memenuhi kebutuhan selama tahun 2022 karena terjadi surplus setiap bulannya, kecuali pada Januari 2022 masih terjadi defisit.

Surplus daging ayam ras bulanan terbesar tahun 2022 terjadi pada bulan September sebesar 86,6 ribu ton, selanjutnya terjadi pada bulan November yaitu sekitar 77,7 ribu ton. Sedangkan surplus daging ayam ras bulanan terkecil terjadi pada bulan Juli sebesar 30,6 ribu ton. Secara kumulatif atau stok akhir pada bulan Desember 2022 tercatat surplus daging ayam ras sebesar 689,4 ribu ton.

Surplus telur ayam ras bulanan terbesar tahun 2022 terjadi pada bulan Desember sebesar 90,9 ribu ton, selanjutnya surplus terbesar terjadi pada bulan November yaitu sekitar 80,8 ribu ton. Sedangkan surplus telur ayam ras bulanan terkecil terjadi pada bulan Maret sebesar 16,3 ribu ton. Secara kumulatif atau stok akhir pada bulan Desember 2022 tercatat surplus telur ayam ras sebesar 615,1 ribu ton.

 

Penutup

 

Indeks harga perdagangan besar untuk komoditas ayam ras, ayam buras, dan itik memiliki rentang nilai yaitu 86 sampai dengan 111 persen. Indeks harga unggas tertinggi terjadi pada bulan Mei 2021 yaitu 102,04 untuk komoditas ayam ras, 111,63 untuk komoditas ayam buras, dan 97,23 untuk komoditas itik.

Di antara komoditas unggas, perubahan indeks terbesar terjadi pada komoditas itik. Itik mengalami kenaikan indeks harga terbesar yaitu sebesar 6,38 persen pada bulan April-Mei. Sedangkan komoditas ayam ras mengalami penurunan indeks harga terbesar yaitu sebesar 8,66 persen pada bulan Juni-Juli.

Prospeknya akan terus meningkat mengingat perkembangan jumlah penduduk yang akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Selain indeks harga  yang diperkirakan akan meningkat secara umum. Hal ini akan memacu pertumbuhan perusahaan perternakan unggas di Indonesia.