Menghidupkan Kembali Seni Ukir di Desa Guwang Melalui Dana Fasilitasi Bidang Kebudayaan

0
65
seni ukir
I Komang Adhiarta mengajari anak-anak desa Guwang seni ukir (Foto: Kemendikbudristek)

(Vibizmedia – Gianyar) Desa Guwang adalah  salah satu desa di Gianyar yang memiliki pengukir dan pemahat andal di Bali. Di desa inilah kita bisa menemukan  maskot patung Garuda Wisnu yang terkenal. Desa ini kini berupaya menghidupkan kembali seni ukir di kalangan anak-anak.

Seorang penggiat budaya mencoba melakukan satu upaya untuk menarik minat anak-anak sekitar untuk kembali mengenal budaya asli seni ukir. I Komang Adhiarta, dia adalah seorang penggiat budaya yang membangun Kulidan Kitchen and Space sebagai galeri seni karya yang multifungsi. Beragam karya telah dipamerkan di galeri tersebut, khususnya  karya hasil anak-anak dalam mengenal seni ukir.

Sejak dibangun pada 2016, galeri milik Komang menerapkan pola gotong royong dalam menghimpun karya seni untuk dipamerkan. Tetapi pada tahun ini , pria kelahiran 1974 tersebut berhasil menjadi salah satu penerima dana Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Komang menyatakan dirinya  mengajukan proposal untuk dana FBK pada 2021, dan baru cair pada Juni 202.

Komang menceritakan, yang menjadi latar belakang mengapa ia berupaya  menghidupkan kembali gurat seni di kawasan Desa Guwang. Ia menyadari adanya  kelangkaan pengukir dan pemahat di kalangan generasi muda. Hal ini mendorongya untuk melakukan sesuatu. Menurut dia, generasi yang lahir setelah tahun 2000 tidak lagi mengenal tradisi ukir.

Komang menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari para penduduk setempat, separar desa Guwang adalah  ukir. Puncak kejayaannya itu sekitar tahun 1930-an di mana orang tua di sini masih mengukir batu padas untuk pintu masuk ke pura.

Dua puluh tahun setelahnya, kata Komang, penduduk Guwang tidak hanya mengukir batu padas namun juga kayu. Hal itu dilatari dengan masuknya pariwisata yang masif ke Bali sehingga pembuatan ukiran mencari media yang lebih mudah untuk dibawa. Hingga masa kecilnya, di awal hingga pertengahan tahun 1980-an, Komang masih sempat mengenyam pendidikan seni ukir dari masyarakat Guwang.

Komang mengingat masa kecilnya, jika ada ayah temannya  yang bisa mengukir, maka mereka akan berkumpul di rumahnya untuk belajar mengukir. Belajar dari ukiran sederhana seperti motif telur siput, sampai dengan membuat patra.

Seiring perkembangan zaman yang diiringi perkembangan teknologi, Komang memperhatikan bagaimana anak-anak tidak lagi tertarik untuk mempelajari seni ukir. Keberadaan gawai dan internet beserta platformnya mengubah pola bermain dan hiburan anak-anak menjadi lebih instant. Padahal, menurut Komang, keterampilan dalam mengukir memiliki nilai ekonomi tinggi jika ditekuni.

Hal yang sama juga disampaikan Wayan Sumiarto, salah satu penduduk yang juga orang tua dari peserta workshop di galeri milik Komang. Wayan merupakan generasi terakhir di keluarganya yang bisa membuat ukiran. Sama seperti Komang, Wayan pun tak ingin tradisi ukiran yang dulunya menjadi kebanggaan Guwang lantas dilupakan generasi berikutnya. Maka dengan adanya workshop yang digelar oleh Komang tersebut, menyemangati Wayan untuk mengikutkan anaknya.

Wayan menyatakan, sekarang sudah jarang  orang mau belajar mengukir, karena beda zaman. Sekarang banyak yang lebih simpel karena teknologi. Tetapi ia ingin anaknya bisa mengukir lagi, karena sekarang sudah jarang yang bisa mengukir, karena gengsi. Ia berpendapat kita cjuga harus melestarikan seni ini, karena kalau sampai punah sayang sekali,” urainya.

Kehadiran dana FBK dari Kemendikbudristek menjadi angin segar bagi Komang. Ia mengaku sangat terbantu dan bisa lebih leluasa mencari narasumber untuk hadir dalam workshop yang digelar di Kulidan. Saat mengajukan proposal dana FBK, Komang merancang lima program dengan sasaran orang tua dan anak-anak. Mulai dari seminar yang menghadirkan narasumber yang membantu orang tua untuk berdamai dengan pandemi, workshop untuk anak SMK dan anak penduduk sekitar, hingga pameran yang akan menjadi media apresiasi karya peserta workshop.

Seminar dengan dana FBK pertama kali dilakukan Komang pada 19 Agustus 2022, lalu dilanjutkan dengan workshop pada 23 Agustus 2022, yaitu workshop Menggambar Ornamen Tradisi Bali. Berikutnya, workshop Menggambar Lino Cut Ornamen Tradisi Bali pada 24 Agustus dan diakhiri dengan workshop Mengukir Ornamen Tradisi Bali pada 26-27 Agustus 2022. Puncak dari kegiatan tersebut adalah pameran karya peserta workshop yang akan digelar 3 September 2022.

Salah satu peserta workshop Mengukir Ornamen Tradisi Bali, Agus Rifa mengaku sangat senang bisa menambah ilmu melalui kegiatan ini. Siswa kelas XI SMK 1 Sukawati tersebut memilih jurusan seni rupa di sekolahnya. Dengan workshop semacam ini, Rifa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru yang mendukung pengembangan kompetensinya. “Apalagi orang tua memiliki galeri juga, jadi sangat tertarik dengan seni ini dari mereka juga,” tuturnya.

Tak hanya Agus Rifa dan teman-teman, workshop yang diselenggarakan di Kulidan Kitchan and Space ini juga mengundang anak-anak inklusi dari SMK 1 Sukawati. Salah satunya adalah Sadewa yang mengambil jurusan seni lukis. Sadewa merupakan salah satu anak difabel di bagian kaki dari kelas X SMK 1 Sukawati. Dengan keterbatasan tersebut, Sadewa tidak dapat mengikuti kelas mengukir batu padas. Namun hal tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk berkarya, apalagi ia mendapat ilmu baru yang belum didapatkan di sekolah. “Di sini sudah diajari mencampur warna, ini lebih duluan diajarinnya dari pada di sekolah,” katanya.

Antusiasme siswa dan masyarakat dalam mendukung upaya Komang menggugah kembali geliat seni ukir di Desa Guwang, mendorong Komang untuk terus berkarya. Ia berharap lebih banyak seniman dan budayawan yang bisa mendapatkan dana FBK agar cakupan dan kualitas pelatihan semacam ini bisa terus meningkat.

Baca:

Art Jakarta 2022 : Ciptakan Ekosistem Seni Kontemporer demi Memberi Warna Komunitas Seni