Usaha Budidaya Rumput Laut

0
116
rumput laut

(Vibizmedia-Kolom) Indonesia memang memiliki rumput laut yang berkualitas, dalam sebuah pembicaraan prospek investasi, rumput laut Indonesia tidak memerlukan waktu yang lama untuk bisa dipanen.

Rumput laut Indonesia memiliki andil besar dalam pasar rumput laut dunia. Menurut data International Trade Center, pada tahun 2018 ekspor rumput laut Indonesia dalam bentuk bahan mentah menduduki peringkat pertama dunia, yakni mencapai 205,76 ribu ton. Oleh karena itu diperlukan langkah penguatan produksi dan industri dari hulu hingga hilir.

Jenis-jenis rumput laut yang dibudidayakan ada beberapa. Euchema cottonii merupakan jenis rumput laut yang paling sering dibudidayakan di laut sebagai Penghasil Karaginan Sistem Monokultur. Euchema spinosum merupakan jenis rumput laut yang biasanya dibudidayakan di laut sebagai Penghasil Karaginan Sistem Monokultur. Gracilaria sp merupakan jenis rumput laut yang sering dibudidayakan di tambak sebagai Penghasil Agar Sistem Polikultur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan hasil survei mengenai potensi rumput laut dan kehidupan rumah tangga usaha rumput laut.

Produksi rumput laut di Indonesia tersebar di 23 provinsi. Total produksi rumput laut nasional Tahun 2020 adalah 5,01 juta ton basah yang terdiri dari produksi rumput laut di Laut sebanyak 4,66 juta ton basah dan rumput laut di tambak sebesar 351 ribu ton basah. Peringkat lima besar provinsi penghasil rumput laut adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

Baca juga :

Indonesia Penghasil Rumput Laut Terbesar di Dunia

Pada tahun 2020, tren produksi rumput laut di laut dan tambak cenderung fluktuatif, dimana terjadi penurunan dan kenaikan pada setiap bulannya. Dari Januari hingga Desember, bulan pemanenan yang memiliki jumlah produksi rumput laut tertinggi adalah bulan Mei. Pada bulan Mei, dihasilkan produksi rumput laut sebesar 505.488 ton basah. Meski jumlah rumah tangga yang melakukan pemanenan terbanyak terjadi di bulan Juli, jumlah produksi tertinggi tetap terjadi di bulan Mei. Hal ini mengindikasikan cukup tingginya produktivitas rumah tangga usaha yang membudidayakn rumput laut di laut dan di tambak pada bulan Mei.

Karakteristik Demografi dan Kondisi Sosial-Ekonomi Rumah Tangga Usaha Budidaya Rumput Laut

Jumlah rumah tangga usaha yang membudidayakan rumput laut di Indonesia tahun 2020 yaitu sebanyak 67.011 rumah tangga. Sebesar 93,65 persen membudidayakan rumput laut di laut dan sebesar 6,35 persen membudidayakan rumput laut di tambak. Rumah tangga usaha budidaya rumput laut di laut tersebar pada 23 provinsi di Indonesia.

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan jumlah rumah tangga usaha budidaya rumput laut di laut yang terbanyak, yaitu sebanyak 24.922 rumah tangga. Provinsi dengan jumlah rumah tangga usaha budidaya rumput laut di laut yang terbanyak selanjutnya yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur (10.166) dan disusul Provinsi Maluku (7.275). Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, mayoritas pembudidaya rumput laut di laut sebesar 75,26 persen laki-laki dan 24,74 persen perempuan. Baik untuk pembudidaya laki-laki maupun perempuan, mayoritas jenjang pendidikan yang ditamatkan yaitu tamat Sekolah Dasar (SD)/sederajat.

Rumah tangga usaha budidaya rumput laut di tambak tersebar pada 7 provinsi di Indonesia. Provinsi Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang mempunyai rumah tangga usaha budidaya rumput laut di tambak yang terbanyak, yaitu sebanyak 3.110 rumah tangga. Provinsi dengan jumlah rumah tangga usaha budidaya rumput laut di tambak yang terbanyak selanjutnya yaitu Provinsi Jawa Barat 454 rumah tangga dan disusul Provinsi Kalimantan Timur 211 rumah tangga. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, mayoritas pembudidaya rumput laut di tambak sebesar 85,65 persen laki-laki dan 14,35 persen perempuan. Baik untuk pembudidaya lakilaki maupun perempuan, mayoritas jenjang pendidikan yang ditamatkan yaitu tamat Sekolah Dasar (SD)/sederajat.

Baca juga:

Rumput Laut, Salah Satu Penggerak Pembangunan Blue Economy

Petani rumput laut yang kompeten merupakan petani yang menguasai teknik budidaya dan teknologi pertanian. Kompetensi petani dalam kegiatan usaha tani sangat ditentukan oleh kapasitasnya dalam menguasai teknik budidaya rumput laut. Keikutsertaan pembudidaya rumput laut dalam kegiatan penyuluhan teknik budidaya rumput laut menjadi penting. Namun sebagian besar pembudidaya rumput laut di Indonesia justru tidak ikut serta dalam kegiatan penyuluhan Teknik budidaya rumput laut yaitu sebesar 82,6 persen. Oleh karena itu pemerintah harus lebih gencar mengajak pembudidaya ikut serta dalam kegiatan penyuluhan teknik budidaya rumput laut.

Sebagian besar pembudidaya rumput laut di Indonesia menggunakan metode tradisional dan sederhana. Salah satu metode yang popular adalah metode tali rentang. Metode ini dilakukan dengan menggunakan tali dan botol plastik bekas. Hal tersebut mengakibatkan limbah botol plastik dan tali mencemari lingkungan. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan terkait penanganan limbah budidaya rumput laut. Partisipasi pembudidaya rumput laut dalam penyuluhan penanganan limbah masih sangat rendah yaitu sebesar 9,06 persen.

Hal ini mengakibatkan rendahnya kesadaran pembudidaya dalam penangan limbah. Ditunjukkan dengan pembudidaya rumput laut yang membuang limbah budidaya ke laut sebesar 41,12 persen.

Sebagian besar pembudidaya rumput laut juga memiliki usaha pada penangkapan ikan. Selama tahapan pemeliharaan rumput laut, umumnya pembudidaya juga bekerja sebagai nelayan. Terdapat 20,78 persen rumah tangga pembudidaya rumput laut yang sekaligus sebagai nelayan.

Dalam menjalankan usaha budidaya rumput laut, sebagian besar sumber utama pembiayaan rumah tangga budidaya rumput laut di laut maupun di tambak berasal dari modal sendiri, yaitu sebanyak 59.811 rumah tangga. Sebanyak 5,95% berasal dari kredit non bank, 2,67% berasal dari kredit bank, dan sisanya berasal dari sumber modal lainnya.

Jika dilihat dari sisi sumber utama bibit rumput laut, rumah tangga budidaya rumput laut paling banyak menggunakan bibit yang berasal dari produksi sendiri dan pembudidaya lain. Untuk rumah tangga usaha budidaya rumput laut di laut, sebesar 75,92% rumah tangga menggunakan bibit yang berasal dari hasil produksi sendiri dan sebanyak 21,66% rumah tangga menggunakan bibit dari pembudidaya lain. Sementara, untuk rumah tangga usaha budidaya rumput laut di tambak, sebesar 57,23% rumah tangga menggunakan bibit yang berasal dari hasil produksi sendiri dan sebanyak 35,89% rumah tangga menggunakan bibit dari pembudidaya lain.

Selanjutnya untuk tujuan utama penjualan hasil panen, pihak pedagang/pengepul dan pembudidaya lain merupakan pihak yang menjadi tujuan utama penjualan hasil panen dari rumah tangga budidaya rumput laut. Untuk rumah tangga usaha budidaya rumput laut di laut, sebesar 95,30% rumah tangga mendistribusikan hasil produksinya kepada pedagang/pengepul dan 1,99% rumah tangga kepada pembudidaya lain. Sementara untuk rumah tangga usaha budidaya rumput laut di tambak, sebesar 92,48% rumah tangga mendistribusikan hasil produksinya kepada pedagang/pengepul dan 2,40% rumah tangga kepada pembudidaya lain.

Selama mengelola  rumput laut, sebagian besar rumah tangga tidak pernah mengikuti penyuluhan mengenai budidaya rumput laut. Untuk rumah tangga usaha budidaya rumput laut di laut, hanya 17,68% rumah tangga yang pernah mendapatkan penyuluhan teknik pengembangan budidaya rumput laut dan sebanyak 9,35% rumah tangga yang pernah mendapatkan penyuluhan penanganan limbah rumput laut. Sementara, untuk rumah tangga usaha budidaya rumput laut di tambak, hanya 13,75% rumah tangga yang pernah mendapatkan penyuluhan teknik pengembangan budidaya rumput laut dan sebanyak 6,07% rumah tangga yang pernah mendapatkan penyuluhan penanganan limbah rumput laut.