Transformasi Perguruan Tinggi Negeri, Melegakan!

0
84
Wakil Presiden Ma’ruf Amin saat menghadiri Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-44 Universitas Sebelas Maret (UNS) di Auditorium UNS, Surakarta, Rabu (11/3/2020).

(Vibizmedia-Kolom)  Transformasi Perguruan Tinggi sangatlah diperlukan. Pendidikan merupakan motor penggerak dalam rangka memajukan berbagai bidang kehidupan manusia di masa depan.

Selain itu, pendidikan juga sebagai bekal dasar bagi peserta didik dalam mewujudkan hidup yang berkualitas di masa kini dan juga dalam rangka mempersiapkan masa depan.

Sebagai suatu sistem, pendidikan terbangun dari beberapa komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain.

Lebih lanjut, proses pendidikan sendiri merupakan suatu kegiatan memobilisasi segenap komponennya guna mewujudkan tujuan pendidikan.

Indonesia hanya bisa melompat ke masa depan dengan pendidikan yang adil, inklusif, holistik, dan mendorong perkembangan minat dan bakat peserta didik dari jenjang pendidikan dasar sampai tinggi.

Sistem pendidikan Indonesia bertujuan untuk membentuk SDM unggul yang berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong.

Berbagai transformasi Merdeka Belajar telah dilakukan di semua jenjang pendidikan untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia.

Transformasi seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dibutuhkan untuk menyambungkan transformasi kebijakan yang telah dilakukan di pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan tinggi.

Transformasi masuk PTNTransformasi seleksi masuk PTN berupaya untuk semakin memperbaiki mekanisme seleksi sebelumnya.

Prinsip-prinsip perubahan: mendorong pembelajaran yang menyeluruh, lebih brfokus pada kemampuan penalaran, lebih inklusif dan lebih mengakomdasi keragaman peserta didik, lebih transparan, lebih terintegrasi dengan mencakup bukan hanya program sarjana, tetapi juga diploma tiga dan diploma empat/sarjana terapan.

Seleksi nasional berdasarkan prestasi

Seleksi nasional berdasarkan prestasi sebagaimana dimaksud meliputi prestasi akademik dan/ atau nonakademik.

Sebelumnya, jalur Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN) memisahkan calon mahasiswa berdasarkan jurusan di pendidikan menengah. Pilihan program studi dibatasi berdasarkan jurusan di pendidikan menengah.

Hanya mata pelajaran tertentu yang dipertimbangkan dalam seleksi. Peserta didik tidak punya kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan aspirasi kariernya. Fokus belajar tidak menyeluruh. Mata pelajaran lain menjadi dianggap tidak terlalu penting. Padahal, untuk sukses di masa depan, peserta didik perlu memiliki kompetensi yang holistik dan lintas disipliner.

Oleh karena itu, seleksi nasional berdasarkan prestasi berfokus pada pemberian penghargaan yang tinggi atas kesuksesan pembelajaran yang menyeluruh di pendidikan menengah.

Seleksi nasional berdasarkan prestasi dilakukan berdasarkan 2 (dua) komponen. Komponen pertama, yang dihitung berdasarkan rata-rata nilai rapor seluruh mata pelajaran paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari bobot penilaian;

Komponen kedua, yang dihitung berdasarkan nilai rapor paling banyak 2 (dua) mata pelajaran pendukung Program Studi yang dituju, portofolio, dan/atau prestasi paling banyak 50% (lima puluh persen) dari bobot penilaian.

Komposisi persentase komponen pertama dan komponen kedua ditetapkan oleh masing-masing PTN dengan total 100% (seratus persen).

Dengan demikian peserta didik didorong untuk fokus pada keseluruhan pembelajaran dan untuk menggali minat dan bakatnya sejak dini.

Dukungan orang tua dan guru agar peserta didik dapat berprestasi dan memilih prodi sesuai dengan minat dan bakat akan meningkatkan potensi kesuksesan peserta didik pada jalur ini.

Seleksi nasional berdasarkan test

Seleksi nasional berdasarkan tes dilakukan dengan menggunakan tes terstandar berbasis komputer.

Sebelumnya, jalur Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) mengujikan banyak materi dari banyak mata pelajaran.

Banyak peserta didik yang merasa harus mengikuti bimbingan belajar, sehingga peserta didik dari keluarga kurang mampu lebih sulit untuk masuk PTN.

Baca Juga :Kemendikbudristek Dorong Alumni Program Bangkit Berdampak Nyata Bagi Bangsa

Oleh karena itu, seleksi nasional berdasarkan tes kini berfokus pada pengukuran kemampuan penalaran dan pemecahan masalah. Tidak ada lagi test mata pelajaran, yang ada hanya tes skolastik yang mengukur: potensi kognitif, penalaran matematika, literasi dalam bahasa Indonesia, literasi dalam bahasa Inggris.

Soal dalam seleksi nasional berdasarkan tes menitikberatkan penalaran peserta didik, bukan pada hafalan.

Contoh soal tes yang menguji potensi kognitif:

Contoh soal tes yang menguji penalaran matematika

Transformasi perguruan tinggi

Contoh soal tes yang menguji literasi dalam bahasa Inggris

Transformasi perguruan tinggi

Contoh soal tes yang menguji literasi dalam bahasa Indonesia

Transformasi perguruan tinggi

Dengan demikian, skema seleksi menjadi lebih adil dan setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk sukses pada jalur seleksi nasional berdasarkan tes.

Guru menjadi percaya diri bahwa pembelajaran sesual kurikulum sudah cukup dalam menyiapkan peserta didik.

Orang tua tidak terbebani tanggungan finansial tambahan untuk bimbingan belajar peserta didik.

Peserta didik tidak perlu kuatir untuk keharusan menghafal konten, tidak tergantung pada bimbingan belajar untuk masuk ke perguruan tinggi.

Seleksi secara mandiri oleh PTN masing-masing

Seleksi secara mandiri oleh PTN dilakukan berdasarkan seleksi akademis dan dilarang dikaitkan dengan tujuan komersial.

Persepsi publik bahwa jalur seleksi mandiri lebih berpihak pada calon mahasiswa yang memiliki kemampuan finansial tinggi.

Oleh karena itu, kini pemerintah mengatur agar seleksi secara mandiri oleh PTN diselenggarakan dengan lebih transparan.

Sebelum pelaksanaan seleksi secara mandiri, PTN mengumumkan tata cara seleksi kepada masyarakat yang paling sedikit memuat hal-hal sebagai berikut: jumlah calon Mahasiswa yang akan diterima masingmasing Program Studi/ fakultas; metode penilaian calon Mahasiswa, terdiri atas: tes secara mandiri; kerja sama tes melalui konsorsium perguruan tinggi;memanfaatkan nilai dari hasil seleksi naslonal berdasarkan tes; dan/atau metode penilaian calon Mahasiswa lainnya yang diperlukan.

Baca juga : Pemerintah Keluarkan Dana Abadi Perguruan Tinggi, Jadikan Perguruan Tinggi Indonesia Kelas Dunia

Sesudah pelaksanaan seleksi secara mandiri, PTN mengumumkan kepada masyarakat paling sedikit hal-hal sebagai berikut: Jumlah peserta seleksi yang lulus seleksi dan sisa kuota yang belum terisi. Ada masa sanggah selama 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman hasil seleksi, tata cara penyanggahan hasil seleksi; dan calon Mahasiswa atau masyarakat dapat melaporkan melalui kanal pelaporan whistleblowing system Inspektorat Jenderal Kementerian apabila memiliki bukti permulaan atas pelanggaran peraturan dalam proses seleksi.

Dengan demikian, masyarakat dapat berperan aktif dalam mengawasi proses seleksi secara mandiri di PTN.

Penutup

Transformasi seleksi masuk PTN yang lebih adil diharapkan mendorong perbaikan iklim pembelajaran di pendidikan menengah sehingga menghasilkan calon mahasiswa yang semakin kompeten.

Berbagai stakeholder pendidikan tinggi merasakan kelegaan dan kegembiraaan saat Mendikbud Nadiem menyampaikan perubahan ini.

Kepala sekolah merasa bahwa mereka berada di jalur yang tepat dalam pendidikan menengah. Orang tua murid memperlihat kelegaan dan optimis untuk memiliki kemungkinan anaknya diterima. Calon Mahasiswa sendiri juga merasa bahwa dia bisa bersekolah sesuai dengan bakatnya. Wakil rakyat merasakan kebijakan ini akan meningkatkan partisipasi masyarakat dan terciptanya keadilan bagi mereka yang tidak mampu. Dari sisi perguruan tinggi merasakan kebijakan ini membuat pendidikan tinggi mendidik sesuai dengan minat dan bakat siswa.

Pemerintah hingga kini masih berupaya mewujudkan salah satu agenda pembangunan yakni “meningkatkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing” melalui strategi pemerataan akses layanan pendidikan.

Disamping itu pendidikan memang merupakan hak dasar warga negara yang wajib dipenuhi dengan berprinsip keadilan sosial.

Transformasi perguruan tinggi yang melegakan ini akan mendorong semangat belajar pemuda Indonesia dan pada akhirnya meningkatkan SDM yang berkualitas.