Terwujudnya Akses Air Minum dan Sanitasi Aman Ditentukan Infrastruktur dan Keterlibatan Masyarakat

0
74

(Vibizmedia – Jakarta) Komitmen Indonesia adalah tercapainya target tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs) dimana salah satunya adalah “Mewujudkan Akses Air Minum dan Sanitasi Aman serta berkelanjutan Bagi Semua”.

Berkaitan dengan hal ini Pemerintah telah menyelaraskan target SDGs dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang ditujukan kepada terwujudnya 90% akses sanitasi layak, termasuk di dalamnya 15% rumah tangga memiliki akses sanitasi aman, serta penurunan angka BABS hingga 0% pada akhir tahun 2024.

Hal inilah yang disampaikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Mohammad Zainal Fatah pada acara City Sanitation Summit (CSS) ke-20 Tahun 2022, Rabu (7/9/2022). City Sanitation Summit (CSS) ke-20 Tahun 2022 mengangkat tema “Fasilitas Sanitasi yang Aman dan Berkelanjutan”.

Menteri Basuki menyampaikan, dalam upaya mencapai target RPJMN tersebut, Kementerian PUPR berkomitmen untuk terus melakukan pembangunan infrastruktur sanitasi dalam rangka pemenuhan akses pelayanan air limbah domestik bagi 1,6 Juta Kepala Keluarga (KK) pada tahun 2024. Pemenuhan akses pelayanan air limbah domestik ini berkontribusi sebesar 0,39% untuk target akses sanitasi layak dan 2,6% untuk target akses sanitasi aman.

Dengan tujuan  mendorong akses sanitasi aman  Kementerian PUPR melakukan pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) dan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALD-S).

Beberapa pembangunan SPALD-T skala perkotaan yang sedang dilakukan Kementerian PUPR, antara lain SPALD-T Kota Makassar, SPALD-T Kota Jambi, SPALD-T Kota Pekanbaru dan SPALD-T Kota Palembang serta Pembangunan SPALD-T Kota Banda Aceh.

Pada sektor permukiman, Kementerian PUPR melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur sanitasi berbasis masyarakat (IBM) sebanyak 2.537 lokasi pada TA 2022 yang terdiri dari 1.000 lokasi Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) SPALD-S, 156 lokasi SANIMAS SPALD-T, dan 1.381 unit sarana dan prasarana sanitasi di Lembaga Pendidikan Keagamaan (LPK) serta sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebanyak 1031 unit.

Menteri Basuki menyatakan, upaya ini sekaligus juga dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran terhadap sanitasi dan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta mendukung peningkatan ekonomi bagi masyarakat.

Sebab menurut Menteri Basuki, perwujudan akses sanitasi layak dan aman, sejatinya tidak hanya bergantung pada ketersediaan infrastruktur semata, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa aspek lain, salah satunya  peningkatan keterlibatan masyarakat.

Menteri Basuki menegaskan, dukungan, komitmen, kolaborasi, dan sinergi dari seluruh stakeholders , baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, swasta dan berbagai lapisan masyarakat sesuai dengan peran dan kewenangan masing-masing diperlukan untuk mewujudkan penyediaan akses sanitasi untuk semua.

Selain itu, untuk meningkatkan pemanfaatan infrastruktur yang telah dibangun, Kementerian PUPR memberikan perhatian dan fokus pada pendekatan Optimalisasi, Pemeliharan, Operasi, dan Rehabilitasi (OPOR), serta memfasilitasi bantuan Hibah Air Limbah setempat.

Baca juga:

Wapres: 80% Dapat Akses Sanitasi Layak, Sanitasi Aman Baru Dinikmati 7% Penduduk Indonesia